Nasabah Datangi Kantor AJB Kota Pasuruan, Tuntut Pencairan Pertanggungan

PURWOREJO, Radar Bromo – Sejumlah nasabah mendatangi kantor AJB Bumiputera di Jalan Panglima Sudirman, Kota Pasuruan, Senin (18/11). Mereka menuntut pencairan pertanggungan. Sebab, polis asuransi mereka tidak kunjung dicairkan.

Jainul Arifin, salah seorang nasabah mengaku ia jadi pemegang polis asuransi pendidikan dengan kontrak 15 tahun. Dalam setahun, ia membayar premi asuransi senilai Rp 6.988.800. “Sekarang sudah berjalan sembilan tahun,” katanya.

Warga Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, itu mengklaim uang yang masuk ke perusahaan asuransi itu sudah sekitar Rp 70 juta. Ia berniat memutus kontrak itu karena mendengar isu tak sedap mengenai kondisi perusahaan asuransi itu.

“Tapi, saya diminta menunggu sampai Agustus 2020. Saya cuma khawatir uang saya tak kembali. Siapa yang mau menjamin,” ungkapnya.

Sementara, seorang nasabah lainnya, Rully Andi Irawan juga mengikuti asuransi pendidikan. Sejak delapan tahun terakhir, ia membayar premi asuransi senilai Rp 1,4 juta setiap tahunnya. Dia juga mengajukan putus kontrak, namun ditolak. “Alasannya, mengantre dengan nasabah lain yang sudah habis kontraknya,” ujarnya.

Warga Purworejo, Kota Pasuruan, itu menyebut dirinya juga pernah mengajukan putus kontrak dalam asuransi di perusahaan tersebut beberapa tahun lalu. Namun, kata Rully, proses pencairannya lebih ringkas. “Tidak serumit sekarang. Ini masih dijanjikan,” ujarnya.

Sejumlah nasabah itu kemudian mendapat klarifikasi dari salah seorang staf di perusahaan itu. Seorang staf itu menjelaskan, jika AJB Bumiputera saat ini tengah mengendalikan cashflow perusahaan. Ia menyebut, pencairan klaim tetap akan dilakukan.

Kini, perusahaan masih menginventarisasi aset untuk dijual guna menutup tunggakan klaim nasabah. Tetapi, ia menambahkan, jika aset perusahaan yang berupa properti itu tak serta merta bisa diuangkan sewaktu-waktu.

Di sisi lain, Jawa Pos Radar Bromo ini berupaya untuk mengonfirmasi terkait pengajuan putus kontrak sejumlah nasabah itu. Namun, salah seorang staf di kantor perusahaan itu enggan memberikan keterangan lebih rinci.

Ia mengaku tak punya hak memberikan komentar ke awak media. “Sekarang pimpinan masih di kantor wilayah. Kalau interview bisa menunggu pimpinan dulu, kemungkinan besok,” pungkasnya. (tom/mie)