Berkat Tata Kelola Administrasi Serbadigital, SMPN 4 Raih MBS Award

SMPN 4 Kota Probolinggo berusaha mempermudah tata kelola administrasinya. Salah satunya melalui program Digitally Exellent Service (DES) School. Berkat inovasinya ini, SMPN 4 menjadi juara pertama dalam MBS Award Berbasis Mutu 2019 dalam kategori Inovasi Tata Kelola Sekolah Digital.

——————–

Setiap tamu yang datang ke SMPN 4 Kota Probolinggo, jangan berharap bisa menulis nama serta membubuhkan tanda tangan pada buku tamu dari kertas. Bila ingin mengisi buku tamu, mereka juga harus melek teknologi. Sebab, SMPN 4 hanya menyediakan buku tamu digital.

“Semua tamu harus mengisi daftar hadir di komputer. Siapa tahu suatu saat dibutuhkan. Data tamu ini juga bisa langsung dicetak,” ujar Inovator DES School SMPN 4 Kota Probolinggo Zakial Irfan.

Zakial Irfan mengatakan tata kelola sekolah, khususnya di bidang administarasi sudah serbadigital. Dari awal masuk kantor sampai sudut sekolah dan perpustakaan sudah menggunakan digital bernama DES School.

“Di dalam program DES School ini juga ada rencana kegiatan sekolah, laporan kegiatan, poin siswa, perangkat mengajar, berkas kepegawaian, dan daftar prestasi. Semuanya sudah bisa diakses oleh siswa maupun guru menggunakan komputer yang telah disediakan,” ujarnya.

Saat Zakial Irfan mengajak melihat kegiatan siswa dan perpustakaan sekolah. Di salah satu sudut sekolah, terlihat banyak siswa yang antre di depan komputer yang menempel di dinding luar kelas mereka. Sembari tersenyum malu, mereka bergiliran menggunakannya.

“Anak-anak sudah terbiasa menggunakan komputer hanya sekadar melihat pelanggaran yang dilakukan atau prestasi yang didapatkan. Ada 4 komputer yang bisa diakses mereka. Seluruh komputer itu berada di empat titik tempat yang biasanya menjadi tempat lalu lalang siswa,” ujarnya.

Selain itu, anak didik juga bisa mengakses kotak saran yang bisa langsung ditujukan terhadap sekolah maupun guru. Caranya dengan mengklik menu Kotak Saran. Kemarin, Zakial Irfan sempat melihat sejumlah saran yang disampaikan anak didiknya.

Saran yang muncul salah satunya datang dari murid kelas VII. Ia menuliskan; Keran air di depan kelas tujuh butuh perbaikan. Ada juga saran salah satu pelajar yang ditujukan kepada salah satu guru bertuliskan; ibu guru terlalu banyak memberikan hafalan, sehingga susah untuk menghafalnya. “Ini bertujuan mempermudah informasi yang didapat. Dengan adanya DES School, sekolah juga sangat terbuka terhadap anak dan orang tua,” ujarnya.

Tak hanya itu, perpustakaannya juga sudah menggunakan sistem administrasi digital. Seperti penggunaan barcode saat masuk untuk mengisi daftar pengunjung maupun saat hendak meminjam buku.

“Kenapa harus barcode? Karena sekolah ini memiliki waktu 15 menit untuk istirahat. Mengisi daftar hadir saja sudah tidak ada waktunya. Jadi, muncullah inisiatif untuk memudahkan,” ujarnya. (mg1/rud/fun)