Siswa MI yang Gantung Diri Tiap Hari Main Game di Handphone

PANDAAN, Radar Bromo – Meninggalnya AA, 11, dengan cara bunuh diri membuat keluarganya sangat berduka. Apalagi, diduga korban bunuh diri karena frustrasi tidak bisa main game di HP.

Korban memang dikenal kecanduan main game. Setiap hari, korban main game di HP. Kadang main sendirian, kadang bermain bersama dengan teman sebayanya di kampung.

MA, 17, kakak korban mengatakan, awalnya adiknya itu senang melihat teman-temannya main game. Dia hanya bisa melihat karena memang tidak punya HP.

Korban lantas minta HP pada orangtuanya. Dan sekitar enam bulan lalu, orangtua korban pun membelikan HP. Sejak saat itu, korban aktif main game. Bahkan, tiap hari.

“Adik (korban, Red), pegang HP setelah dibelikan orangtua. Belum terlalu lama, sekitar enam bulan terakhir. Dari situ, HP lebih sering digunakan untuk main game,” ucap MA.

Karena melihat korban main game tiap hari, orangtuanya sering menegur. Korban sering diingatkan agar lebih rajin belajar. Sebab, sebentar lagi ujian. Selain itu, menurut MA, orangtuanya tidak ingin korban kecanduan main game.

Namun, rupanya teguran itu tidak dihiraukan korban. Karena itu, ibunya lantas mengambil tindakan. HP milik korban itu kemudian disembunyikan.

“Bapak-ibu kalau negur adik ya biasa saja, sewajarnya. Setahu saya hanya teguran lisan. Tak sampai dengan kekerasan. HP akhirnya disembunyikan ibu. Tapi, ternyata adik malah nekat gantung diri,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum ditemukan meninggal gantung diri, MA sempat melihat korban menangis sambil tiduran. Saat itu, diduga korban sedang mencari HP yang disembunyikan ibunya.

“Sepertinya adik sedang mencari HP waktu itu. Saya tahu HP-nya disembunyikan ibu. Tujuannya agar dia tak kecanduan main game. Saya tak menyangka, adik jadi berbuat nekat seperti ini,” cetusnya.

MA sendiri sedang ke warung kopi saat korban bunuh diri. Ia pun langsung bergegas pulang setelah dapat telepon adiknya gantung diri di dapur.

Meski kecanduan game, korban selama ini diketahui rajin sekolah. Dia juga senang bergaul dengan teman sebayanya di kampung.

“Korban itu anak yang periang. Dia juga rajin sekolah dan suka bermain. Jadi, kami sangat merasa kehilangan,” beber Jml, 63, saudara ayah korban. (zal/hn/fun)