Kemenag: Orang Tua Perlu Batasi dan Awasi Pemakaian Handphone ke Anak

PANDAAN, Radar Bromo – Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pasuruan As’adul Anam mengaku prihatin dengan meninggalnya AA, 11. Apalagi, pelajar MI Roudlotul Hikmah itu meninggal bunuh diri karena diduga frustrasi tak bisa main game di HP.

Anam –panggilannya– menyesalkan kejadian ini. Mestinya, menurutnya, peristiwa itu tidak perlu terjadi. “Saya kaget mendengar kejadian ini, kami juga prihatin. Maksudnya orangtua sudah baik, tapi korban tidak bisa menerima. Bahkan, sampai nekat bunuh diri,” bebernya.

Pihaknya menyadari, di zaman modern seperti ini pemakaian HP di kalangan pelajar tidak dapat dihindari. Termasuk di kalangan pelajar MI atau SD.

Sayangnya, pelajar banyak menyalahgunakan HP untuk hal negatif. Di antaranya, main game di HP terus-terusan. Bahkan, tidak sedikit yang sampai kecanduan game.

“Orangtua memberikan atau membelikan HP bagi anaknya yang masih pelajar sah-sah saja. Memang orangtua bekerja untuk anak. Tapi, harus diawasi sekaligus dibatasi pemakaiannya,” ucap Anam.

Orang tua menurutnya, perlu dan wajib mengarahkan anak memanfaatkan HP untuk hal positif. Misalnya, untuk mencari informasi seputar pelajaran atau ilmu pengetahuan lainnya via HP. Bisa juga menggunakan aplikasi-aplikasi positif lainnya dengan tujuan lebih bermanfaat.

“Ini tugas bersama, memang bukan urusan mudah dan tak boleh disepelekan. Pelajar yang pegang HP harus diperhatikan oleh para orang tua dan tenaga pendidik. Mereka harus mengarahkan ke hal positif. Mudah-mudahan kasus serupa tak terulang kembali,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, cara AA 11, mengakhiri hidupnya sangat tragis. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dapur rumahnya. (zal/hn/fun)