Achmad Zamroni, Pegawai Bea Cukai yang Hobi Freefly dan Pernah Kehilangan Burung Seharga Rp 9 Juta

Awalnya, Achmad Zamroni penghobi burung berkicau. Namun, setelah melihat burung yang diterbangkan bisa kembali ke pemiliknya atau disebut freefly, dirinya kepincut. Kini, ia punya enam ekor burung khusus freefly.

——————

Jantung Achmad Zamroni, berdegub kencang. Perasaannya tak karuan ketika melihat burung kesayangannya terbang semakin tinggi. Ia harap-harap cemas.

Sayangnya, kekhawatirannya itu benar-benar terjadi. Burung jenis African Grey seharga Rp 9 juta yang dilepasnya, tak kunjung kembali. Meski cukup lama ia menanti.

“Saya benar-benar sedih. Sangat shock ketika melihat salah satu burung yang saya terbangkan, akhirnya hilang,” kisahnya mengenang pengalaman menerbangkan burung yang menjadi kesayangannya.

Pengalaman tersebut merupakan bagian dari cerita pahit menerbangkan freefly. Ia mengaku, banyak pengalaman lain yang membuatnya sedih ketika memelihara freefly. Termasuk ketika burungnya mati karena tak bisa dengan baik merawatnya.

Lelaki 29 tahun tersebut memang seorang penghobi freefly. Hobi tersebut mulai digelutinya sejak 3 tahun terakhir. Kisahnya berawal saat ia main ke rumah temannya di Surabaya.

Ketika itu, ia melihat temannya memiliki seekor burung yang bisa diterbangkan. Namun, burung itu tak hilang karena bisa kembali kepada pemiliknya.

PUNYA ENAM EKOR: Saat ini Achmad Zamroni mengaku memiliki enam ekor burung. (Foto: Zamroni for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Dasar Zamroni -sapaan Achmad Zamroni- memang suka memelihara burung. Awalnya, ia hanya memelihara burung berkicau. Seperti cucak ijo atau jenis burung berkicau lainnya.

“Tapi, ketika melihat burung Parkit Australia teman saya, saya jadi kepincut. Apalagi, setelah melihat banyak freefly di video YouTube,” kenangnya.

Zamroni yang merupakan staf di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean A Pasuruan ini, mulai memelihara burung untuk freefly. Semula, ia membeli Parkit Australia milik temannya di Surabaya.

Namun, usaha untuk menjadikan burung tersebut freefly gagal. Karena saat dipelihara, burung tersebut mati. “Ternyata, saya salah memelihara. Saya kira, ngasih makannya seperti burung berkicau yang tinggal dikasih makan. Rupanya, harus disuapin setiap hari sampai tiga kali,” ungkap dia.

Sempat kecewa. Namun, tak membuatnya jera. Ia kembali lagi membeli burung untuk freefly. Namun, bukan lagi Parkit Australia. Tetapi Sunconure.

Rupanya, ia berhasil memelihara burung tersebut. Buktinya, burung tersebut hidup hingga sekarang. Ia bahkan terus menambah jumlahnya.

Semula hanya satu ekor. Sekarang menjadi empat ekor. Bahkan, bukan hanya Sunconure yang dimilikinya.

Lelaki asal Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, tersebut juga memiliki Macao. Jumlahnya dua ekor. Burung bernilai puluhan juta itu dibelinya dari temannya.

“Biar lebih puas karena burungnya kan lebih besar ketimbang Parkit Australia,” tambahnya.

Bapak satu anak ini mengaku, ada perasaan gembira ketika melihat burung yang dipelihara bisa freefly. Apalagi, kalau sampai terbang tinggi, dan akhirnya kembali lagi.

Namun, ada perasaan sedih juga menjadi seorang owner freefly. Perasaan itu muncul ketika burung yang dipelihara mati atau terbang tak kembali.

“Seperti burung African Grey yang saya miliki. Saya terbangkan tapi tak kembali. Tentu, banyak senangnya juga. Karena dari situlah, kita juga bisa menambah banyak teman,” pungkas suami dari Elfira tersebut. (one/hn/fun)