Mujiali, Pencetak Batu Bata yang Terpilih Jadi Kades Brumbungan Kidul

Mujiali, menjadi salah satu kepala desa terpilih dalam Pilkades Serentak 2019 Kabupaten Probolinggo pada Senin (11/11). Dia jadi kades terpilih di Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron. Kemenangannya itu membuat tanggung jawabnya berubah drastis. Dari awalnya hanya bekerja sebagai pencetak batu bata, kini memimpin warga di desanya.

ACHMAD ARIANTO, Maron, Radar Bromo

Berwibawa dan ramah. Itulah sosok Mujiali yang terpilih sebagai Kades Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron. Sikap itu juga yang ditunjukkannya saat menerima warga yang silih berganti datang ke rumahnya.

Ya, kemenangannya dalam Pilkades Serentak di Desa Brumbungan Kidul membuat rumahnya tidak pernah sepi. Warga dan pendukungnya, datang silih berganti ke rumahnya di Dusun Rambu Koong, sekitar 1 kilometer ke arah timur dari Balai Desa Brumbungan Kidul. Mereka bergantian memberikan selamat atau ada juga yang sekadar bersilaturahmi

Mujiali sendiri sebelumnya tidak pernah berniat menjadi kepala desa. Pria kelahiran 1 Juli 1960 ini, sehari-hari bekerja sebagai pembuat batu bata.

Dia memiliki dua tanah sewa yang berada di Desa Suko, Kecamatan Maron dan Desa Karangpranti, Kecamatan Pajarakan. Usaha ini yang menghidupinya sejak tahun 2010 hingga sekarang.

“Pekerjaan saya saat ini pembuat batu bata. Tanahnya masih sewa, bukan milik sendiri. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ya berasal dari hasil jual batu bata itu,” ujarnya.

Dia mengelola batu bata dibantu oleh empat tenaga kerja. Setiap tanah yang disewa dikelola oleh dua orang. Tenaga kerja ini yang melakukan produksi dan dia sendiri sebagai driver ketika ada orang membeli.

Sering mengirim batu bata pesanan menjadikan dirinya dikenal warga sekitar. Tak hanya itu, Mujali memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.

Ketika ada tetangga yang meninggal, dirinya kerap memberi rokok pada warga yang menggali kubur. Juga memberikan sumbangan satu kotak tahu kepada keluarga jenazah untuk konsumsi warga yang melakukan tahlilan.

“Saya berasal dari keluarga susah. Jadi, ketika ada orang meninggal dunia, kalau ada rezeki, saya menyumbang satu kotak tahu untuk lauk warga yang tahlilan. Biar mereka tidak merasa terbebani,” ujarnya.

Tak hanya itu, saat ada warga sakit dan membutuhkan kendaraan, dirinya menyediakan kendaraan secara sukarela untuk mengantar dan penjemput ke puskesmas atau rumah sakit.

Karena rasa sosial yang tinggi itu, akhirnya banyak warga yang mendorongnya untuk mencalonkan diri untuk menjadi kepala Desa Brumbungan Kidul. Tentu dia tidak langsung mengiyakan. Mujiali pun bermusyawarah dengan keluarga lebih dahulu.

“Sekitar tiga bulan yang lalu, banyak warga yang meminta saya mencalonkan diri jadi kepala desa. Awalnya saya menolak. Saya tidak punya modal untuk kampanye. Namun, saya berpikir saya menyia-nyiakan kepercayaan warga kalau menolak. Akhirnya bismillah saya mendaftarkan diri,” tuturnya.

Setelah mendaftar, Mujiali pun mengenalkan diri dengan mendatangi rumah warga satu persatu. Laksana kampanye, namun hal itu dilakukannya dengan sederhana.

“Ya, saya bicara apa adanya, pilihan mereka yang menentukan. Saya mencalonkan diri hanya berbekal kepercayaan warga saja. Saya percara, kalau sudah nasib saya jadi kepala desa, tidak akan ke mana,” ungkapnya.

Beberapa kali kampanye, ternyata banyak warga yang mendukungnya. Seminggu sebelum pemilihan kepala desa, dirinya bahkan yakin akan menang.

Saat pemilihan dan masuk tahap penghitungan, Mujiali memilih menunggu di rumah. Namun, di setiap Tempat Pemilihan Suara (TPS), ada orang kepercayaannya yang mengikuti penghitungan. Sembari menunggu hasil perhitungan suara, Mujiali berzikir untuk menghilangkan kegundahan yang menggelayut di hatinya.

“Setiap sepuluh menit saya mendapat laporan hasil perhitungan suara di setiap TPS dari saksi saya. Di setiap perhitungan saya selalu unggul. Sampai perhitungan akhir selesai, keunggulan itu bertahan,” jelasnya.

Mujiali pun sujud syukur begitu dinyatakan menang. Menurutnya, kemenangan ini adalah kemenangan bersama. Dan warga Desa Brumbungan Kidul harus kembali beraktivitas seperti semula.

“Pilkadesnya kan sudah selesai, pelayanan terbaik kepada warga menjadi tanggung jawab saya. Ini susah, namun saya akan berusaha. Semoga warga kembali rukun. tidak ada perselisihan atau ketegangan seperti saat pemilihan,” harapnya.

Suro, 63, seorang warga menilai, Mujiali pantas menjadi kepala desa. Menurutnya, Mujiali adalah sosok yang merakyat dan tak membeda-bedakan warganya.

“Sejak sebelum terpilih, Pak Mujiali kerap dipanggil Pak Tinggi (kepala desa, Red.). Sebab, jiwa sosialnya tinggi. Kebetulan juga beberapa tahun ini Desa Brumbungan Kidul belum memiliki kepala desa definitif,” ujarnya saat berkunjung ke rumah Mujiali.

Hal senada diucapkan Hamid, 45. Menurutnya, Mujiali adalah sosok kades ideal untuk memimpin warga Desa Brumbungan. Sebab, Mujiali memiliki sosok yang ramah dan mudah bergaul. Namun, tegas dalam menyelesaikan masalah.

“Bagi saya yang penting warga desa rukun dan aman. Insyaallah Pak Tinggi yang terpilih sekarang bisa amanah,” pungkasnya. (hn)