Kades Terpilih Clarak Mengaku Hampir Pingsan saat Tahu Suara Imbang

Imam Hidayat, pedagang sayur asal Dusun Krajan, Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, tak pernah menyangka akan terjun dalam dunia politik desa. Bahkan, menjadi kepala desa (kades) terpilih di Clarak. Kemenangannya pun cukup dramatis. Memperoleh suara imbang dengan calon kades lainnya.

ARIF MASHUDI, Leces, Radar Bromo

Rumah Imam Hidayat, tidak jauh dari balai Desa Clarak, Kecamatan Leces. Hanya sekitar 100 meter ke arah utara. Sampai Rabu (13/11), rumah itu terus didatangi tamu. Mereka yang datang adalah tim dan pendukung Imam saat ajang Pilkades Serentak yang digelar Senin (11/11). Dalam Pilkades itu, Imam akhirnya jadi kades Clarak terpilih.

Di rumahnya, Imam duduk di tengah-tengah kerabat dan pendukungnya. Dengan mengenakan pakai biasa, kaus warna hijau.

”Iya begini keadaan saya. Karena belum dilantik, jadi biasa pakai kaus seperti pas dagang sayur,” kata Imam.

Pria kelahiran Probolinggo, 29 Januari 1977 itu mengaku, sebelumnya tidak pernah ada pikiran menjadi kepala desa. Semua itu bermula sekitar 6 bulan lalu.

Saat itu dirinya yang sehari-hari berjualan sayur di pasar, berkumpul di warung bersama rekan-rekannya sesama pedagang sayur. Saat itulah, teman-temannya mendorong dirinya ikut Pilkades.

”Enam bulan lalu saya masih dagang sayur. Belum ada niatan untuk calonan kades,” ujarnya.

Entah kenapa, dikatakan Imam, temannya Sutikno mendorongnya untuk maju dalam Pilkades. Bahkan, teman-temannya yang lain kompak mendukung Imam ikut Pilkades. Lalu, empat bulan sebelum pendaftaran Pilkades, teman-temannya mendeklarasikan dukungan padanya.

”Karena teman-teman kompak minta saya nyalon, akhirnya saya menyanggupi,” tuturnya.

Namun, sebelumnya, Imam sempat meminta waktu tiga hari pada temannya untuk pikir-pikir. Imam bertekad untuk rembukan dengan keluarga lebih dulu. Mulai keluarga terdekat, sampai keluarga jauh lingkup Desa Clarak.

”Bapak, awalnya tidak mendukung karena saya selama ini diminta bantu di Yayasan Yatim Piatu (Hidatul Islam) milik bapak. Namun, saudara dan keluarga lain bulat mendukung. Akhirnya bapak mengizinkan,” ungkapnya.

Sebulan sebelum pendaftaran, Imam pun berusaha melengkapi persyaratan pendaftaran. Acuannya Peraturan Bupati (Perbup) tentang Pilkades.

”Dalam pikiran saya, selain karena dorongan teman-teman, saya ingin mengubah wajah Desa Clarak ini. Saya melihat, Desa Clarak paling dibutuhkan pembangunan infrastruktur,” tutur bapak tiga anak itu.

Lalu, setelah pendaftaran, Imam pun meminta restu pada warga Desa Clarak. Caranya, silaturahmi door to door. Apalagi saat itu dia membaca, para bakal calon kades adalah orang dengan dukungan yang kuat-kuat. Imam pun memprediksi dan persaingan akan ketat antara lima bakal cakades.

Yaitu nomor urut 1. Husnan Hidayatul Ihlaq; nomor urut 2. Gufroni; nomor urut 3. Imam Hidayat. Kemudian, nomor urut 4. Jamil dan nomor urut 5. Tahurruchman.

Saat hari H Pilkades, prediksi Imam benar. Lima calon kades meraih suara yang bersaing, hampir sama. Terutama, tiga calon kades, sama-sama dapat suara 400 lebih. Yaitu, dirinya, Jamil, dan Fathurrachman.

”Saya sendiri dapat 428 suara, sama dengan calon nomor empat Pak Jamil. Tapi suara saya menang di tiga dusun. Panitia dan Bu Camat menetapkan saya menang,” tegasnya.

Dalam proses penghitungan suara diakui Imam, dirinya memilih untuk tidak datang ke TPS (tempat pemungutan suara). Imam memilih menenangkan diri. Namun, Imam memantau dari jauh perhitungan suara.

”Saya pantau dan hubungi saksi saya di TPS perkembangannya seperti apa,” ujarnya.

Saat perhitungan suara kotak pertama untuk Dusun Krajan 1, dirinya kalah dari calon kades nomor urut 4. Pada perhitungan suara kotak kedua (Krajan II) dirinya unggul tipis 15 suara.

Kemudian panitia istirahat. Setelah istirahat, dilanjutkan perhitungan suara kotak 3 (Dusun Karang Tengah). Saat itu, dirinya semakin memimpin jauh dibanding calon lainnya.

Saat perhitungan suara kotak 4 (Dusun Karang Anyar), Imam semakin emosional. Rasa takut, gemetar, dan dagdigdug berkecamuk jadi satu.

Saat itu calon kades nomor 4 yang di tiga dusun perolehan suaranya rendah, terus mengejar. Bahkan, perolehan suara saat itu didominasi calon kades nomor 4. Bahkan, calon kades nomor 4 ini menang di Dusun Karang Anyar.

Sementara Imam, saat itu makin emosional saja. Dia bahkan nyaris pingsan mengikuti perhitungan suara kotak 4. Apalagi di perhitungan penentuan itu, hasil suaranya ternyata imbang dengan calon nomor 4.

”Saya bingung, menang apa kalah. Saya telepon adik saya yang jadi saksi, dijawab masih dirapatkan. Kemudian, telepon kedua kalinya, saya menang karena saya menang di tiga dusun,” kata anak pertama dari tiga saudara itu.

Saat adiknya, Arief memberi kabar dirinya menang, Imam langsung pulang menemui istri dan keluarganya. Di situ, dirinya disambut tangis gembira dan haru.

“Saya merasakan keluarga menangis bahagia yang luar biasa karena saya menang. Semoga, saya bisa mengemban amanah ini dan menjadikan Desa Clarak lebih baik,” ungkapnya. (hn)