Jumlah PSK yang Dibawa ke Rumah Singgah Dinsos Kab Pasuruan Meningkat

PASURUAN, Radar Bromo – Praktik bisnis esek-esek masih cukup banyak terjadi di Kabupaten Pasuruan. Hal itu bisa terlihat dari kian banyaknya jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang dibawa ke rumah singgah Bina Hati, Dinas Sosial (Dinsos) setempat.

Mulai Januari sampai pertengahan November ini, tercatat jumlah PSK yang dibawa ke rumah singgah sudah mencapai 98. Angka itu sudah melebihi jumlah PSK yang dibawa ke rumah singgah pada 2018 dan 2017.

“Secara jumlah, sudah mencapai 98 orang. Data ini memang sudah lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 dan 2018,” aku Wahyu Widodo, Kasi Pelayanan Rehabilitas Sosial Dinsos.

Kendati tidak bisa menjadi acuan bahwa jumlah PSK di Kabupaten Pasuruan meningkat, namun dikatakan makin tingginya PSK yang diamankan juga lantaran makin intensifnya razia yang dilakukan Satpol PP Kabupaten Pasuruan di lapangan. PSK ini dilakukan razia atau operasi rutin mulai dari Tretes, Pandaan sampai di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan.

Wahyu menjelaskan, PSK yang terkena razia langsung dibawa ke Rumah Singgah untuk dilakukan pendataan, asesmen. Serta pendampingan psikologi, keagamaan, sampai tes kesehatan.

Dari pendataan, hanya 10 persen PSK yang berasal dari Kabupaten Pasuruan. Sisanya dari luar daerah. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur seperti Malang, Jombang, Tulungagung, Ngajuk, Magetan, Banyuwangi, dan sebagainya.

Dikatakan setelah diasesmen, mayoritas PSK ini dipulangkan ke keluarganya. Harapannya, ada perhatian lebih sehingga PSK ini tidak lagi kembali ke pekerjaan lamanya.

“Mereka ini terjun alasan juga beragam, ada yang ditipu dijanjikan pekerjaan pramuniaga, ada juga yang terjun karena faktor ekonomi sampai sakit hati oleh suami atau pacar,” terangnya.

Dari 98 PSK yang terdata tahun ini, 30 PSK dikirim pelatihan ke UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras Kediri untuk mendapatkan pelatihan keterampilan.

Sedangkan lainnya, untuk PSK yang asal Kabupaten Pasuruan, Dinsos Kabupaten Pasuruan harus datang ke rumah PSK tersebut untuk memastikan mereka kembali ke keluarganya.

“Itu pun kalau sudah di rumah, kami tidak langsung bilang bahwa bekerja sebagai PSK. Nanti bisa ribut apalagi dia dibawa oleh petugas. Jadi kami cari alasan lain, baru ke keluarga tertentu dan privat kita sampaikan sejujurnya. Dan semoga nanti bisa benar-benar dipantau dan lebih diperhatikan,” jelasnya.

Sedangkan dari luar daerah, Dinsos juga bekerja sama dengan Dinsos setempat dan dipulangkan ke keluarga dengan cara yang sama. Tujuannya, agar PSK ini bisa lebih diperhatikan keluarga dan tidak kembali lagi ke pekerjaan lamanya. (eka/mie)