6 Tim Bersaing Dalam Satu Malam di Ajang Lomba Seni Tradisional Noasih

WONOASIH, Radar Bromo – Enam tim seni tradisional perwakilan Kelurahan se-Kecamatan Wonoasih bersaing dalam Lomba Seni Tradisional Noasih. Keenam tim ini menampilkan tari kreasi dengan unsur-unsur tradisional yang dipadupadankan dengan budaya masyarakat setempat.

Enam tim tersebut antara lain Jannatun Main dari Kelurahan Kedungasem; Seni Pencak Silat Pangastuti dari Kelurahan Sumber Taman; Shoutul Islah dari Kelurahan Kedunggaleng; tim Hadrah Raudlatul Jannah Rajah dari kelurahan Jrebeng Kidul; Darul Karomah dari Kelurahan Wonoasih; dan tim Hadrah Nurul Ridwan dari Kelurahan Pakistaji.

Dalam lomba tersebut dihadiri Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin serta perwakilan Forkopimda se-Kecamatan Wonoasih. Sebagai pembukaan, penampilan 2 penari dari Sanggar Bina Tari Bayu Kencana menyajikan hiburan bagi undangan serta masyarakat sekitar yang hadir di Kantor Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Dalam lomba Seni Tradisional Noasih ini melibatkan 3 juri yaitu Peni Priyono dari Dewan Kesenian Kota Probolinggo; Mukhlis Ariyadi dari Sanggar Bina Tari Bayu Kencana dan Wahyu Yaumil Sakban yang merupakan guru musik SMKN 1 Kota Probolinggo.

BUDAYA: Tari remo yang menjadi pembuka di ajang Lomba Seni Tradisional Wonoasih yang digelar di kantor kecamatan, Senin (11/11) malam. (Foto: Zainal Arifin/Radar Bromo)

 

Dalam sambutannya, Deus Nawandi, Camat Wonoasih menyampaikan bahwa yang mendasari lomba Seni Tradisional Noasih 2019 adalah program kerja Kecamatan Wonoasih serta disposisi nota wali kota. “Hal utama yang mendasari lomba ini kami berupaya untuk menggugah, menggali kesenian di Kecamatan Wonoasih. Curhatnya pak lurah susah cari seni tradisional. Saya warning agar jangan sampai tidak ikut,” ujarnya.

Dengan munculnya budaya baru ini diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan dalam event-event budaya seperti Semipro maupun Probolinggo Tempo Doeloe. “Jangan sampai ada rasan-rasan, kesenian itu-itu saja yang dipakai,” ujarnya.

Selain menampilkan Lomba Seni Tradisional Noasih, Kecamatan Wonoasih juga menampilkan berbagai kegiatan pelayanan publik. Seperti kolaborasi dengan pelayanan terpadu untuk pembayaran PBB, donor darah, perekaman e-KTP dan komunitas kreatif mandiri.

Sementara itu Wali Kota Hadi Zainal Abidin dalam sambutannya menyampaikan, dia melihat perkembangan tren saat ini adalah masuknya budaya dari luar. Dampaknya, tidak hanya bagi kalangan dewasa juga kalangan milenial.

“Lomba kesenian tradisional diharapkan menjadi media bagi pelaku seni untuk menuangkan kreativitas melalui kolaborasi antara musik dan penunjang lain,” ujarnya.

Selama acara berlangsung, Lomba Seni Tradisional Noasih juga menggelar pentasan seni khas masing-masing kelurahan. Tanpa adanya ajang seperti ini, maka tidak akan ketahuan apa saja potensi-potensi yang ada di kelurahan.

“Harapannya, dengan wadah ini bisa mengangkat potensi di Kota Probolinggo. Apalagi Kota Probolinggo dikenal sebagai pandalungan. Bercampurnya Jawa, Madura, China dan Arab. Mengangkat Probolinggo yang multibudaya untuk pengembangan wisata dan lain-lain,” ujarnya.

Dari pantauan Radar Bromo, sebagian besar tim kesenian yang tampil memiliki ciri khas yang hampir sama. Yaitu menampilkan kolaborasi antara hadrah, dengan sejumlah alat musik tradisional seperti gamelan.

Hal ini terlihat dari tampilnya 2 tim hadrah. Kesenian Islam telah berkembang pesat di Kecamatan Wonoasih tidak lepas dengan banyaknya pondok pesantren maupun madrasah berkembang di wilayah ini. (put/fun)