Teno Jadi Iron Man, Pak Camat Jadi Spiderman, Ini Cara Pemkot Hibur Siswa SDN Gentong di Hari Pertama Masuk

SUPERHERO: Gaya Plt Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo saat menjadi Iron Man. Bersama pejabat pemkot yang lain, Teno ikut menghibur siswa-siswi SDN Gentong sebagai bentuk trauma healing. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

GADINGREJO, Radar Bromo – Setelah diliburkan selama empat hari, siswa SDN Gentong Kota Pasuruan kembali bersekolah, Senin (11/11). Namun, lokasi belajar mereka untuk sementara pindah. Yaitu, di Madin Al Islamiyah, tak jauh dari SDN Gentong.

Di hari pertama itu, kegiatan belajar dipusatkan di halaman Madin yang berukuran 6×8 meter. Letaknya di sisi barat Masjid Al Ghofuriyyah. Masih di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.

Karpet dihamparkan di sana. Dan puluhan siswa mulai kelas I hingga kelas VI lesehan di halaman itu. Selama kurang lebih tiga jam, mulai pukul 07.00 sampai 10.00, siswa diajak bergembira. Melupakan insiden ambruknya atap empat ruang kelas di SDN Gentong. Mereka bernyanyi, bermain, hingga mendengarkan dongeng.

Sejumlah pejabat Pemkot Pasuruan pun datang ke halaman Madin. Mereka bersama-sama menghibur semua siswa dengan cara unik. Yaitu, menggunakan kostum ala superhero, seperti Superman, Batman, Iron Man, Deadpool, Mickey Mouse, hingga Cinderella.

Plt Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo, Sekda Kota Pasuruan Bahrul Ulum, dan sejumlah kepala OPD ikut serta. Teno (sapaan Plt Wali Kota) misalnya, menggunakan kostum Iron Man. Lalu, kostum ala Spiderman digunakan Camat Panggungrejo Imam Subekti, Kepala Bapenda Agung Budi Utomo, dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Edy Ana Setyo.

SENANG: Siswa yang dihibur dengan penampilan karakter superhero merasa senang. Bahkan ikut bernyanyi dengan para pejabat. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Ada juga kostum ala Mickey Mouse yang digunakan Kabag Kesra Wasis dan kostum ala Cinderella dikenakan tiga pejabat. Yaitu, Kabag Umum Luluk Isnawati, Plt Kepala Dinkes dr Shierly Marlena, dan Kabag Layanan Pengadaan Nyoman Swasti.

Semua anak pun bergembira bertemu dengan para superhero itu. keakraban langsung terjalin antara mereka dengan pada superhero yang datang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Pasuruan Siti Zunniati mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bagian dari trauma healing yang dilakukan Pemkot. Selama satu pekan ke depan, pihaknya akan menitikberatkan pada pengembalian keceriaan siswa agar mereka kembali nyaman bersekolah.

“Kami dibantu oleh pendamping dan pemerhati anak. Mulai Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pasuruan dan salah satu perguruan tinggi (PT) asal Kota Malang, hingga Sabtu (16/11),” ungkapnya.

Zun-sapaan akrabnya menjelaskan, tidak menutup kemungkinan, trauma healing ini akan dilakukan lebih lama. Ini, bergantung pada kondisi psikis siswa. Tentunya, Dinas P dan K akan melihat sejauh mana perkembangan mental mereka usai satu pekan mendapatkan pendampingan.

“Tidak hanya kelas II dan V saja, seluruh siswa SDN setempat sebanyak 12 ruang kelas, juga mendapatkan trauma healing. Kalau masih ada yang trauma, tentu akan diberi pendampingan khusus,” jelasnya.

TRAUMA HEALING: Upaya yang dilakukan pemkot semata-mata untuk trauma healing, pasca insiden ambruknya atap di SDN Gentong. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Wakil Ketua LPA Pasuruan Daniel Polosakan menyebut, pihaknya berkomitmen dengan penggiat anak lainnya untuk memberikan pendampingan pada siswa SDN Gentong. Tujuan utamanya adalah mengembalikan mental dan psikis mereka sehingga nyaman bersekolah.

“Mayoritas kami lihat kondisi psikis anak sudah mulai pulih. Kami juga akan melakukan home visit untuk melihat kondisi siswa yang belum masuk sekolah. Termasuk kondisi orang tua yang mungkin juga trauma,” terangnya.

Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip) Jatim dan Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak wilayah Jatim Bekti Prastyani mengaku, kenyamanan siswa selama proses trauma healing harus diperhatikan. Guru harus mampu memberikan hak bermain dan berekspresi untuk siswa.

“Selain itu, di lokasi sementara ini ada gedung lantai dua dengan tangga yang sempit. Karena itu, harus tetap ada sistem piket menjaga di lantai dua untuk menjaga anak agar tetap aman,” pungkasnya. (riz/hn/fun)