Begini Suasana Pameran Seni Rupa Tema Santri dan Religi di White Gallery

Memperingati Hari Santri, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PC NU Bangil mengadakan pameran seni rupa dengan tema santri dan religi. Kendati persiapannya hanya empat hari, pameran ini cukup banyak menyedot perhatian masyarakat dan pelajar sekitar.

———————-

Puluhan pelajar berseragam batik warna kuning serius memandangi satu persatu lukisan yang terpajang di White Gallery di Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Sedikit bercakap-cakap untuk menafsirkan makna yang ada di lukisan. Tak lama mereka pun menuliskan di buku catatan yang dibawa.

Tak sedikit yang akhirnya bertanya pada pelukis yang hadir di galeri. Rabu (6/11) pagi itu, sebagian perupa dan pelukis memang hadir. Mereka berbincang dengan masyarakat yang datang untuk melihat pameran dan berdiskusi tentang makna seni yang mereka buat.

Pameran Seni Rupa yang digagas oleh Lesbumi PC NU Bangil ini tergolong hal baru. Biasanya peringatan Hari Santri banyak diisi oleh kegiatan musik salawat. Namun, tahun ini berbeda.

Ide menggelar pameran seni rupa bertema santri dan religi ini memang cukup singkat. Namun, ternyata banyak diapresiasi seniman Bangil dan sekitarnya. Sebanyak 40 karya pun berhasil dikumpulkan dalam waktu empat hari.

“Persiapannya hanya empat hari saja. Ternyata respons teman-teman seniman cukup bagus. Sehingga, pameran bisa digelar,” terang Muchamad Najib, ketua Lesbumi PC NU Bangil.

Najib mengatakan, seniman yang ikut pameran adalah seniman lukis, drawing, kaligrafi, dan kolase. Total ada 40 karya dari 15 seniman.

Para seniman ini berasal dari wilayah Bangil, Beji, Gempol, dan Purwosari. Seniman-seniman yang ikut serta ini merupakan seniman yang cukup produktif, utamanya berkarya dengan tema-tema religius.

Kendati persiapan cukup singkat, namun karya yang dipamerkan bukan karya sembarangan. Sebut saja karya seni realis lukisan Sayyid Muhammad bin Alawi Almaliki Alhasani oleh Gus Rozi. Termasuk drawing potrait Gusdur oleh Said Maliki.

Karya lain bertema kolase adalah karya M Mischat selaku pemilik White Gallery dengan judul Gerhana Bulan. Mischat mengatakan, visualisasi lukisan kolase ini dari kayu telenan yang membentuk wajah-wajah dari perempuan dan laki-laki. Digambarkan sebagai umat Islam yang berdoa terhadap kejadian alam gerhana bulan.

“Gerhana bulan adalah peristiwa alam. Umat Islam memaknai dengan berdoa dan meminta keselamatan dan kebaikan,” ujarnya.

Karya-karya itu terbukti mampu mengundang pengunjung datang. Sehari minimal ada 50-an pengunjung yang datang.

Pameran sendiri digelar sejak 27 Oktober sampai 10 November mendatang dan dibuka pukul 09.00 sampai 21.00. Selain terbuka juga untuk masyarakat umum, pelajar banyak yang datang sebagai tugas pelajaran seni rupa dan untuk mengapresiasi seni.

Anwar Sanusi, pelukis kaligrafi asal Gununggangsir, Beji mengatakan, pameran seni rupa memperingati Hari Santri ini digratiskan biaya tempatnya oleh Mischat. “Jadi, teman-teman seniman juga semangat berkontribusi dan didukung juga dengan tempat pameran oleh pemilik,” terangnya.

Mischat, seniman yang juga pemilik galeri mengatakan, cukup banyak seniman di Kabupaten Pasuruan yang intens berkarya di tema-tema religius. Selama ini, mereka memang urunan atau biaya sendiri setiap menggelar pameran.

“Harapan kami, paling tidak dari pemerintah ada kepedulian. Paling tidak ada tempat yang mewadahi untuk menggelar pameran rutin di tempat yang lebih representatif,” terangnya.

Karena bagaimanapun lewat seni, seniman bisa berdakwah dan memberikan makna di setiap seni yang mereka buat. Salah satunya lewat pameran seni rupa yang seluruh karya bertemakan religi.

M. Komarrudin, siswa kelas 10 dari MA Hasan Munadi, Beji adalah salah satu yang datang ke pameran. Dia mengaku sangat mengapresiasi seni rupa dan lukisan yang digelar.

“Sangat senang karena bisa melihat karya-karya secara langsung. Termasuk bisa menanyakan makna karya pada pelukisnya langsung,” terangnya.

Salah satu karya favoritnya adalah gambar janin dengan judul Pitutur karya Kharisma Adi. Komarrudin memaknai karya tersebut bahwa sejak janin, pitutur atau nasihat sudah bisa ditangkap agar menjadi manusia yang baik dan berakal.

“Dari melihat pameran ini justru ingin belajar seni utamanya seni lukis,” terangnya. (eka/hn/fun)