Rehab 6 SDN-7 SMPN di Kota Probolinggo Telan Rp 6 M

DIREHAB: Proyek rehabilitasi SDN Mangunharjo 6 yang menggunakan konstruksi atap galvalum saat dipotret, Kamis (7/11). Tahun ini, rehab sekolah dasar dan SMP di Kota Probolinggo sedot Rp 6 M lebih. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN, Radar Bromo – Tahun ini sejumlah sekolah di Kota Probolinggo dilakukan rehab fisik bangunannya. Tak tanggung-tanggung, anggaran rehab itu mencapai sekitar Rp 6 miliar.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) setempat, ada 6 SD negeri dan 7 SMP negeri yang mengajukan rehabilitasi ruang kelas tahun ini. Namun, anggaran sebesar Rp 6 miliar lebih itu tidak hanya untuk rehabilitasi bangunan kelas saja.

Rinciannya, anggaran tersebut antara lain Rp 3.001.500.000 untuk rehabilitasi bagunan sekolah SMP. Sedangkan untuk SD mencapai Rp 3.144.558.000.

“Anggaran ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus tidak hanya untuk rehabilitasi kelas saja. Tapi, juga untuk rehab bangunan lain seperti kamar mandi dan ruang guru,” ujar Budi Wahyu Rianto, kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kota Probolinggo, Kamis (7/11).

Budi menjelaskan, untuk proses rehabilitasi gedung sekolah ada tingkatan rehabilitasi ringan, sedang, dan berat. Jika kerusakan terjadi pada lantai atau dinding, maka bisa masuk kategori rehabilitasi ringan atau sedang.

“Kecuali dinding bangunan itu mau roboh, maka masuk rehabilitasi berat. Tapi, kalau rusak di bagian atap, itu masuk dalam kategori rehabilitasi berat,” ujarnya.

Budi menjelaskan, untuk rehabilitasi sekolah pendanaannya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang sifatnya swakelola. Pembuatan Detail Enginering Desain (DED) dilakukan oleh fasilitator.

“Desain yang diajukan ini tidak serta merta bisa langsung digunakan untuk rehabilitasi. Namun, harus disampaikan ke Dinas PUPR untuk dilakukan review,” ujarnya.

Selain itu, saat tahap pembangunan juga ada pemeriksaan dari inspektorat. Tidak hanya soal administrasi, tapi juga proses pembangunan sekolah.

“Untuk pemasangan galvalum, itu ada speknya. Maksimal, jarak antara 1 galvalum dengan yang lain itu 1 meter,” ujarnya.

Budi mengungkapkan, di SMPN 4 sejak 2012 untuk atap telah menggunakan galvalum. Namun, sampai saat ini tidak ada masalah.

“Maka dari itu, Disdikpora mensyaratkan untuk pemasangan galvalum harus dilakukan oleh kontraktor yang bersertifikat,” jelasnya. (put/mie)