Polisi Periksa Empat Saksi soal Ambruknya Atap SDN Gentong, Dari Penyedia Jasa Konstruksi dan PNS

GADINGREJO, Radar Bromo – Penyelidikan atas ambruknya empat atap ruang kelas SDN Gentong Kota Pasuruan terus bergulir. Polres Pasuruan Kota sejauh ini telah memanggil empat saksi dalam perkara tersebut.

Kesaksian empat orang itu ditengarai bisa memberikan keterangan lebih dalam tentang gedung yang terdiri atas empat ruang kelas itu. “Kasus ini masih dalam tahap lidik oleh penyidik Satreskrim dengan di-back up Polda Jatim apabila perlu bantuan teknis,” ujar Kasubbag Humas Polres Pasuruan Kota AKP Endy Purwanto.

Endy tak menjelaskan identitas maupun inisial nama saksi-saksi tersebut. Ia hanya menyebut, dua saksi dari pihak penyedia barang dan jasa yang terlibat dalam proyek renovasi atap gedung sekolah 2012. Dua lainnya merupakan PNS Pemkot Pasuruan.

Berdasarkan data yang dimiliki Jawa Pos Radar Bromo, dua penyedia jasa dan konstruksi yang diperiksa yakni LS, 38, warga Gadingrejo, Kota Pasuruan, selaku Direktur CV Andalus. Satu lagi yaitu, SSM, 40, warga Purworejo, Kota Pasuruan, selaku Direktur CV DHL Putra.

Sementara dua PNS yang juga diperiksa yakni RTH, 43, warga Lowokwaru, Kota Malang, selaku Pejabat Pembuat Komitmen Dinas P dan K Kota Pasuruan. Satu lagi yaitu MR, 42, warga Sukun, Kota Malang, selaku Pejabat Pembuat Komitmen di instansi yang sama pada 2012.

HARUS TANGGUNG JAWAB: Reruntuhan atap di SDN Gentong. Insiden ini tengah diselidiki polisi. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Seluruh saksi itu telah dipanggil dan hadir untuk dimintai keterangan di Mapolres Pasuruan Kota, Rabu (7/11). “Ke depan tentu akan dilakukan pendalaman melalui saksi lain. Tambahan saksi masih sangat terbuka,” beber Endy.

Perwira polisi dengan tiga setrip di bahunya itu mengaku, penyidik juga akan memeriksa berkas-berkas proyek swakelola yang bersumber dari dana alokasi khusus itu. Sembari menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya.

“Tapi, itu butuh waktu yang tidak sebentar. Kami masih menunggu. Tak menutup kemungkinan juga akan menghadirkan ahli konstruksi,” ungkapnya.

Namun, Endy enggan bicara lebih jauh mengenai unsur pidana dalam perkara itu. Apakah memenuhi unsur pidana korupsi ataukah pidana sesuai dengan KUHP. Namun, ia tetap berpegang pada kasus ambruknya gedung sekolah yang mengakibatkan dua korban meninggal dunia.

“Kalau mengakibatkan orang meninggal itu penyidik akan menerapkan pasal-pasal di KUHP. Namun, jika nantinya mengarah pada dugaan korupsi, UU Tipikor. Itu diketahui setelah lidik tuntas dan gelar perkara,” ungkapnya. (tom/hn/fun)