DPRD: Rekanan Pelaksana-Pengawas Proyek di SDN Gentong Harus Tanggung Jawab

KONTROL: Suasana hearing antara DPRD dan Pemkot Pasuruan. Dewan meminta insiden ambruknya atap SDN Gentong harus dievaluasi, dan penyedia proyek wajib tanggung jawab. (Foto: Mokhamad Zubaidilah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – DPRD Kota Pasuruan mendorong Pemkot Pasuruan untuk mengevaluasi ambruknya atap empat kelas SDN Gentong. Para wakil rakyat itu juga menyebut kinerja perencana maupun pengawas proyek fisik selama ini kurang maksimal. Sehingga, dalam kasus ini rekanan juga harus bertanggung jawab.

Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Kota Pasuruan Abdullah Junaedi menegaskan, benang merah pascakejadian itu harus segera ditemukan. Sehingga, Pemkot dan DPRD bisa sama-sama mengevaluasi kegagalan konstruksi tersebut.

“Karena jika bangunan itu ditinggikan, mestinya ada sloof. Nah, ini yang tidak kami temukan saat melihat ke lokasi kemarin,” katanya.

Junaidi juga menyebut, pelaksanaan proyek fisik selama ini tak hanya bermasalah pada tahap pekerjaan. Melainkan juga pada sistem perencanaan dan pengawasan.

Menurutnya, kinerja konsultan perencana maupun pengawas selama ini masih rendah. Ia mencontohkan, konsultan pengawas seharusnya selalu intens mendatangi lokasi proyek setiap hari.

“Selama ini kami temukan mereka mungkin dua atau tiga hari sekali datang. Bahkan, ada yang seminggu sekali. Karena ngirit biaya. Begitu juga pengawasan pada dinas teknis, kurang berjalan karena terbatas pada tenaga,” jelasnya.

BERI PENJELASAN: Pihak eksekutif Pemkot Pasuruan ikut membeber, siapa saja pelaksana proyek. (Foto: Mokhamad Zubaidilah/Jawa Pos Radar Bromo)

Junaidi juga meminta Pemkot kembali membangun gedung empat kelas itu. Namun, gedung dibangun di lokasi lain. Ia menyarankan agar lahan bekas gedung yang ambruk saat ini dijadikan halaman sekolah atau taman saja.

Sedangkan pembangunan gedung baru bisa dilakukan di lahan yang kosong. Misalnya, halaman sekolah yang saat ini berada di tengah bangunan sekolah.

“Karena anak didik di sana pasti trauma. Sehingga, jika lokasinya sama akan berdampak pada psikologis mereka. Apalagi, korbannya juga siswa yang masih kelas 2. Mereka kan masih harus sekolah di situ sampai beberapa tahun lagi,” bebernya.

Sementara, anggota Fraksi Golkar DPRD Sutirta juga mendukung proses penyelidikan yang berjalan di ranah kepolisian. Ia juga menyebut beberapa pihak yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu. Tak terkecuali rekanan yang terlibat dalam proyek itu.

“Rekanan harus ikut tanggung jawab jika bangunan yang dikerjakan terjadi sesuatu seperti ini. Meski sudah beberapa tahun berlalu. Karena jika memang ada spek yang tidak sesuai, maka dikhawatirkan bisa terulang di tempat lain,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Pemkot Pasuruan Bahrul Ulum menegaskan, proyek rehab gedung sekolah itu berlangsung pada 2012. Sumber anggaran yang digunakan yakni dana alokasi khusus senilai Rp 256.765.000. Proyek dikerjakan secara swakelola.

Kelemahan sistem swakelola menurutnya, sekolah dibebani pembangunan. Sementara sekolah juga sibuk dengan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan siswa.

“Sedangkan dari sisi teknis, mereka juga tidak ada kemampuan. Itulah yang jadi kelemahannya saya kira. Walaupun ada kelebihannya karena dengan swakelola semua anggaran bisa dimaksimalkan,” terangnya.

Plt Kepala Dinas P dan K Kota Pasuruan Siti Zunniati menambahkan, proyek rehab itu berupa peninggian dan penggantian atap gedung. Zun juga membeberkan pihak penyedia jasa dan konstruksi dalam proyek itu.

Penyedia material umum yakni CV Andalus dengan nilai kontrak Rp 154.350.000. Sedangkan pengadaan galvalum dilakukan oleh CV DHL Putra dengan nilai kontrak Rp 48.800.000.

Sementara, perencanaan pekerjaan dilakukan oleh CV Adi Cipta Pratama dengan nilai kontrak Rp 39.400.000. Lalu, pengawas pekerjaan oleh CV Ira Biro Konsultan dengan nilai kontrak Rp 27.168.000. Proyek itu menelan biaya senilai Rp 51.257.000 untuk pembayaran upah pekerja.

“Pada proses pelaksanaan, ada transisi kepala sekolah dari almarhumah ibu Keppy kepada ibu Ida Ariani,” jelas Zun. (tom/hn/fun)