SDN Gentong Jadi Tontonan usai Insiden Atap Ambrol, Sebut Lebih Mengerikan daripada di TV

Sehari setelah ambruknya atap empat ruang kelas di SDN Gentong, lokasi SD setempat yang terletak di Jalan Kyai Sepuh, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, tampak ramai. Banyak warga yang datang ke sekolah itu. mereka ingin tahu lebih dekat kondisi bangunan yang ambruk.

—————

Beberapa papan berbentuk persegi panjang berjejer di depan bangunan SDN Gentong. Isinya sama. Yaitu,”turut berduka cita atas meninggalnya Irza Almira”. Papan itu dibuat dengan warna mencolok dan berwarna-warni.

Sementara itu, di dekat pagar SDN Gentong, terpasang garis polisi berwarna kuning. Garis polisi ini dipasang di sejumlah sudut. Mulai di halaman depan, di depan ruang kelas yang ambruk, dan di samping kanan dan kiri bangunan tersebut.

Pemandangan ini terlihat di SDN Gentong, Rabu (6/11). Maklum, empat ruang SDN setempat ambruk pada Selasa (5/11) pagi. Kondisi ini membuat sejumlah warga yang melintas berhenti di depan bangunan SD Gentong.

EMPATI: Kepala SD/SMP Kota Pasuruan yang tergabung dalam K3S saat menyiapkan bingkisan untuk siswa SDN Gentong yang jadi korban. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Mereka berhenti, kemudian melihat dari dekat kondisi SDN Gentong yang bangunannya ambruk. Seperti yang dilakukan Muhammad Imron, 60. Pria ini asal Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.

Rumah Imron cukup jauh dari Gadingrejo. Dengan menggunakan motor, Imron harus berkendara 20 menit. Itu jika motor dipacu agak ngebut dan tidak ada macet. Namun, jika motor dikendarai dengan kecepatan standar, bisa sampai setengah jam atau lebih.

Namun, kemarin Imron sengaja datang. Tujuannya, melihat langsung kondisi bangunan yang ambruk, bahkan sampai membuat satu siswi dan satu pegawai meninggal.

Sampai di depan SDN Gentong, pria ini menghentikan laju motornya. Matanya lantas tertuju pada empat bangunan hancur yang menghadap ke sisi barat.

Imron mengaku sengaja jauh-jauh dari Kejayan untuk melihat kondisi bangunan sekolah. Sebab, peristiwa memilukan ini berulang kali ditayangkan di televisi. Menurutnya, ternyata kondisi sekolah jauh lebih mengerikan daripada tayangan di televisi.

“Selasa (6/11) saya melihat di televisi bahwa SD ini ambruk. Makanya saya sengaja datang ke sini. Mumpung lewat Kota. Ternyata lebih mengerikan daripada yang saya lihat di televisi,” katanya.

Hal senada diutarakan Anton, 40. Pria yang kesehariannya menjadi sopir truk ini mengaku, peristiwa ini sempat membuatnya khawatir. Sebab, ia memiliki seorang putri yang duduk di bangku SD. Ia takut peristiwa serupa terjadi di lokasi lainnya.

“Anak saya bersekolah di SDN Mandaranrejo. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Sebab, musibah ini baru yang pertama kali di wilayah Gentong,” terangnya.

Dia pun berharap, Pemkot Pasuruan segera membangun ruang kelas yang konstruksinya lebih kuat. Sehingga, wali murid yang ingin menyekolahkan anaknya di SDN Gentong tidak khawatir.

“Peristiwa ini juga membuat saya dan teman-teman semakin yakin untuk tidak pernah menggunakan galvalum untuk tempat tinggal,” pungkasnya.

Tidak hanya warga. Rabu (6/11) belasan kepala SD/SMP Kota Pasuruan yang tergabung dalam kelompok kerja kepala sekolah (K3S) juga datang ke SDN Gentong. Mereka datang mengendarai dua mobil. Tujuannya untuk melihat, sekaligus berempati pada siswa yang menjadi korban.

Salah satunya Kepala SDN Pohjentrek Sulis. Dia menyebut, K3S berduka atas peristiwa ini. Sebagai wujud empati, K3S memberikan bantuan moril pada siswa yang jadi korban.

Caranya, K3S memberikan bingkisan pada para korban. satu persatu rumah korban mereka datangi. Dengan cara itu mereka berharap, siswa bisa melupakan traumanya. Rencananya kegiatan ini akan dilakukan hingga pekan depan.

“Ini sekadar bantuan moril saja. Jangan dilihat apa yang diberikan, mungkin tidak ada artinya. Kami cuma ingin berempati dengan korban,” tutur Sulis. (riz/hn/fun)