Inilah Duka Keluarga Korban Tewas dalam Ambruknya Atap SDN Gentong, Sempat Mendapat Firasat Ini

Duka mendalam dirasakan keluarga Irza Almira, 8, warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Dia adalah salah satu korban meninggal saat atap empat ruang kelas SDN Gentong ambruk, Selasa pagi (5/11).

———————-

Suasana duka menyelimuti rumah Irza Almira, 8, di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Sejumlah warga dan kerabat almarhumah datang silih berganti untuk bertakziah. Lantunan zikir dan bait-bait doa tidak henti-hentinya dibacakan.

Irza Almira adalah siswi kelas 2B SDN Gentong yang meninggal karena tertimpa galvalum dan asbes saat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelasnya. Peristiwa itu terjadi Selasa (5/11), sekitar pukul 08.15.

Saat wartawan Radar Bromo ke rumah korban, isak tangis makin keras terdengar saat jenazah Irza sampai ke rumah duka menggunakan mobil ambulans. Usai disalatkan, jenazahnya langsung dimakamkan di pemakaman umum setempat, bakda Asar.

Muhyi, 59, paman dari Irza Almira menuturkan, Irza adalah putri pertama dari pasangan suami-istri Mohammad Zuber dan Ummul Khoiro. Irza dikenal sebagai seorang anak yang baik dan penurut. Tak sekalipun ia membantah permintaan orang tuanya.

“Jadi, waktu kami melihat Irza Almira pulang dengan tubuh terbujur kaku, kami sedih sekali. Sebab, anaknya itu sangat baik. Tidak pernah membantah. Kalau disuruh mengerjakan sesuatu pasti langsung dikerjakan tanpa diminta dua kali,” ungkapnya.

RAMAI: Rumah Irza Almira yang dipenuhi pentakziah. Rumahnya sangat dekat dengan SDN Gentong. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Irza juga dikenal sebagai siswa yang rajin dan pandai. Setiap pulang sekolah, ia langsung mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah. Seandainya bermain pun, areal bermainnya masih di sekitar lokasi rumahnya.

“Ia juga tidak rewel saat berangkat sekolah. Irza selalu berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Dia juga tidak pernah mau diantar ke sekolahnya. Kalau ke sekolah ia jalan kaki, sebab memang lokasi sekolah ke rumah tidak sampai 100 meter,”sebut Muhyi.

Sebelum Irza meninggal, pihak keluarga sebenarnya sempat mendapat firasat yang kurang baik. Senin malam (4/11), keluarga bermimpi ada tanaman di depan rumah yang hilang.

Keluarga Irza sempat menyampaikan mimpi itu padanya dan Muhyi pun merasa waswas. Ia khawatir akan ada musibah yang menimpa keluarga.

Dan, kekhawatiran itu menjadi nyata. Namun, Muhyi tidak menyangka bahwa ternyata musibah yang datang sangat berat. Irza meninggal dengan cara mengenaskan.

Saat jenazah Irza datang dengan ambulans, ia melihat kondisi Irza sangat memprihatinkan. Bagian belakang kepala keluar darah dan wajah membiru.

Namun, keluarga sudah ikhlas dengan kejadian ini. Sebab, ini merupakan musibah. Pihaknya tidak akan menuntut siapapun. Sebab, kematian itu bisa terjadi kapanpun dan di manapun. Tidak hanya saat menuntut ilmu saja.

“Saya hanya minta doanya untuk keponakan saya. Kami sudah ikhlas dan menganggap ini musibah. Pihak sekolah pun tidak bersalah. Jadi, apa yang mau kami tuntut. Meski bisa, toh tetap tidak bisa mengembalikan nyawa keponakan saya,” pungkas Muhyi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pasuruan Bahrul Ulum pun menyampaikan bela sungkawa atas peristiwa ambruknya empat atap ruang kelas SDN Gentong. Sehingga, satu siswi dan satu PTT meninggal.

Ya, selain Irza, seorang PTT di SDN Gentong juga meninggal dalam peristiwa itu. Korban adalah Sevina Arsy Wijaya, 19. Sevina adalah pegawai perpustakaan SDN Gentong. Namun, saat kejadian, dia diminta menjaga kelas 5A.

Sekda sendiri memastikan Pemkot tidak akan lepas tangan pada korban. Pemkot akan memberikan santunan pada keluarga yang ditinggalkan. Sementara untuk 14 korban luka akan dibebaskan dari biaya medis. Semua biaya medis sepenuhnya menjadi tanggungan Pemkot.

“Jangan dilihat besaran. Mungkin tidak seberapa. Cuma kami harap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban dari keluarga yang ditinggalkan. Semoga yang tertimpa musibah diberikan kekuatan untuk melewatinya,” tutup Ulum. (riz/hn/fun)