Next Story, Band Bentukan Lapas IIB Pasuruan yang Selalu Tampil Setiap Ada Acara Resmi

Berawal dari keisengan untuk mengisi waktu saat senggang, band Next Story terbentuk. Berbeda dengan band pada umumnya, band ini digawangi oleh warga binaan (WB) dari Lapas IIB Pasuruan.

————–

Sejumlah pria memainkan alat musik di tangan mereka. Ada yang memetik gitar, memainkan keyboard, dan ada pula yang membunyikan kendang.

Mereka begitu menghayati alunan musik yang keluar dari alat yang mereka mainkan. Dengan penuh penghayatan, mereka menyanyikan sejumlah lagu yang sudah dikenal masyarakat.

Itulah grup band Next Story bentukan Lapas IIB Pasuruan. Pemandangan ini rutin terjadi saat kegiatan lapas atau ada acara seremonial di Lapas IIB Pasuruan. Ini merupakan bentuk hiburan yang disajikan oleh Lapas dengan menampilkan keahlian mereka.

Dede Setiawan, salah satu personel dari Next Story mengungkapkan, grup musik ini dibentuk pada Desember 2017. Ini atas permintaan pihak Lapas yang melihat mereka memainkan alat musik.

“Ini berawal dari ketidaksengajaan. Jadi, waktu itu saya dan sejumlah teman iseng-iseng memainkan gitar sambil nyanyi. Saat itu kami dipanggil oleh Lapas,” ungkapnya.

Mereka lantas diminta untuk menghibur saat ada acara di Lapas. Permintaan ini lantas disanggupi. Setiap kali ada acara resmi di Lapas, mereka pun selalu ambil bagian.

Ia menyebut, awalnya grup musik ini beranggotakan enam orang. Namun, dua orang di antaranya sudah keluar dari Lapas. Sebab, mereka telah menyelesaikan masa hukuman.

Empat personel yang tersisa saat ini adalah Dede Setiawan sebagai vokal dan Anggun Dermawan memegang gitar. Selanjutnya, Ari Wibowo sebagai pemain kentrung dan Denok Hakim memainkan kendang.

“Setelah dua personel bebas, saat ini tinggal empat saja personelnya. Dulu vokalnya ada dua. Sementara satu personel lainnya itu memainkan bass,” sebut Dede.

Ari Wibowo, personel lainnya menyebut, grup musik ini diberi nama Next Story. Tujuannya, agar mereka bisa berubah lebih baik lagi ke depannya. Lagu yang dibawakan pun beragam.

Mulai dari musik dangdut, religi, salawat, hingga pop. Saat tampil, mereka biasanya mencoba menyanyikan segala jenis lagu agar bervariasi. Di luar kegiatan resmi, mereka main alat musik selepas olahraga.

“Tidak ada lagu yang khusus kami mainkan. Semuanya kami coba untuk tampilkan sebaik mungkin. Agar tamu undangan yang datang merasa terhibur dengan kami,” terang Ari.

Ia mengaku tidak ada satu pun personel dari grup musik Next Story yang berasal dari Kota Pasuruan. Mereka berempat berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kota Surabaya, dan Kabupaten Kediri. Namun, perbedaan ini tidak lantas membuat mereka sulit padu.

Mereka mengaku awalnya memang ada rasa gugup saat tampil di muka umum. Namun, hal ini tidak menghalangi mereka untuk tampil. Kuncinya adalah percaya diri.

Menurutnya, ia bersama ketiga personel Next Story sudah sepakat untuk mengembangkan hobi mereka dalam bermusik. Rencananya, mereka akan membuat orkes musik sendiri selepas menyelesaikan masa hukuman.

“Kami memang suka musik. Makanya, ada rencana bentuk orkes sendiri nantinya. Kami ingin mengubah jalan hidup kami agar lebih baik lagi,” terang Ari.

Kepala Pengamanan Lapas IIB Pasuruan Afan Sulistyono menerangkan, pembentukan grup musik ini karena melihat bakat yang dimiliki warga binaan. Pihak Lapas ingin warga binaan selalu melakukan aksi yang positif.

“Kecuali gitar, alat musik lainnya memang dari kami. Ini wujud perhatian Lapas agar warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya,” pungkas Afan. (riz/hn/fun)