Kemarau Panjang, Rawan Penyakit, Tanaman Terancam Gagal Panen

DRINGU, Radar Bromo – Sejumlah petani di Kabupaten Probolinggo resah. Selama kemarau tahun ini mengakibatkan tanaman mereka rentan gagal panen. Sebab tak hanya kekurangan air, namun juga rawan terserang hama.

Seperti diungkapkan salah satu petani di Kabupaten Probolinggo, Suudi, 45. Warga Desa Mranggonlawang, Kecamatan Dringu, ini mengaku sudah ada beberapa lahan miliknya yang gagal panen. Ada lahan yang ditanami bawang merah hingga padi. “Baru satu bulan lebih sudah terserang penyakit,” ujarnya.

Lahan bawang sekitar 400 meter itu gagal panen disebabkan serangan ulat dan kekurang air, sehingga menyebabkan daun bawang merahnya kering. “Sudah tidak bisa diselamatkan karena bawang merahnya sudah dimakan ulat dan kering,” ujarnya.

Suudi juga memiliki lahan yang ditanami padi. Katanya, karena kemarau panjang, tanaman padinya diperkirakan juga akan rugi. Tanaman ini akan dipanen tiga pekan lagi. “Lahan di Klaseman saya tanami padi, tapi kayaknya bakal mengalami kerugian juga,” ujarnya.

Kerugian terjadi pada tanaman padi itu disebabkan susahnya mendapatkan air untuk mengairi tanamannya. Selain itu, serangan burung juga menjadi faktor gagal panen. “Airnya susah, ditambah burungnya juga ganas,” ujarnya.

Untuk nominal kerugian yang dialaminya pada dua komoditas tanaman itu sekitar Rp 40 juta. Karena Suudi mengaku, kini berusaha mencari duit untuk menutupi kerugiannya. “Bawang merah ruginya sekitar Rp 35 juta, kalau padi sekitar Rp 5 juta. Saya sekarang bingung mau nutupi utang ini,” ujarnya.

Keluhan petani mendapat respons dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Kabid Hortikultura DKPP Kabupaten Probolinggo Yulis Setyaningsih mengatakan, musim kemarau tanaman pertanian memang rentan penyakit.

Karenanya, pihaknya mengimbau untuk daerah yang susah mendapatkan air bisa menanam tanaman yang sesuai situasi di daerahnya. “Tanamlah tanaman dengan mengikuti struktur tanah dan kapasitas air. Agar lahan yang dikelola bisa menghasilkan,” ujarnya.

Terkait hama burung, menurut Yulis, memang sudah sering memakan tanaman milik petani ketika kemarau. Biasanya, petani menggunakan alat sederhana untuk menakui-nakuti burung, “Biasanya petani menggunakan bunyi-bunyian dari kaleng bekas untuk mengusir burung, tapi dengan cara dijaga dan itu cukup efektif,” ujarnya. (mg1/rud)