Tak Puas Penetapan Cakades, Bakal Lapor Bupati hingga PTUN

KRAKSAAN, Radar Bromo – Polemik diloloskannya bakal calon kades (bacakades) Abdul Kadir di Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, terus bergulir. Mustapa, suami bacakades Sulistyowati yang tak masuk lima cakades, akan menyurati bupati setempat.

Ia akan mengadukan terkait ketidaknetralan panitia pilkades setempat. “Saya akan segera menyurati pihak-pihak terkait, termasuk bupati. Surat ini sebagai aduan bahwa ada permainan di pilkades ini,” terang Mustapa.

Ia merasa geram. Apa lagi, kakak kandungnya yang sebelumnya telah dinyatakan tidak lolos administrasi. Kemudian diloloskan oleh panitia. Sehingga, kemudian istrinya tersingkir dari daftar nama cakades.

Mustapa menuduh, panitia tidak netral. Menurutnya, panitia berpihak kepada salah seorang calon. “Saya bukan menduga ya. Ini saya katakan saya menuduh. Panitia sudah tidak netral dan berpihak pada salah seorang calon. Kalau netral seharusnya keputusan awal yaitu orang yang sudah tidak lolos administrasi tidak akan diloloskan,” tegasnya.

Karena itu, pria yang akrab disapa Tapa itu akan mengadukan kepada bupati. Sehingga, permasalahan itu akan segera ditemukan solusinya. “Saya kasihan sama Bupati. Jika proses pilkadesnya seperti ini, bagaimana menghasilkan pemimpin yang baik?” ungkapnya dengan nada bertanya.

Jika nanti tidak ditemukan solusi, lanjutnya, ia akan melanjutkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Untuk menuju ke sana, pihaknya telah menyiapkan pengacara. “Itu jalan terakhir. Untuk saat ini kami menghormati Bupati, jadi meminta solusi kepada Bupati,” ungkapnya.

Sementara itu, Muh Amin, ketua Panitia Pilkades Desa Bulu saat dikonfirmasi mengatakan, ia mengakui memang sempat tidak meloloskan Abdul Kadir perihal administrasi.

Setelah itu, pihaknya lantas digugat oleh yang bersangkutan. Karena hal itu, kemudian pihaknya melakukan klarifikasi terhadap rumah sakit.

“Itu yang terjadi. Setelah kami menetapkan tujuh orang yang lolos. Kami digugat dan kemudian kami melakukan klarifikasi kembali,” ungkap Muh Amin.

Pria yang akrab disapa Amin itu menjelaskan, setelah dilakukan klarifikasi, lantas pihak rumah sakit mengeluarkan surat terbarunya. Dan surat itulah yang dinyatakan sah oleh pihak RSUD Waluyo Jati. Dari situ, pihaknya kemudian menggunakan surat itu sebagai dasar.

“Suratnya langsung ditandatangani direktur. Karena itu, kemudian kami gunakan sebagai dasar. Setelah itu kami meloloskan untuk seleksi tambahan. Saat seleksi tambahan yang bersangkutan masuk dan istri Tapa tidak. Sebab, tidak memenuhi syarat pengalaman, pendidikan, dan umur,” tuturnya. (sid/mie)