Pelayanan Disorot usai Ada Pasien Meninggal, RSUD Bangil Beri Teguran Dokter

BERI TEGURAN: Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Bangil M. Jundi (tengah) saat memberikan keterangan kepada wartawan, kemarin. Menurutnya, pihaknya memberikan teguran pada dokter V atas pelanggaran etika yang dilakukan.

Related Post

BANGIL, Radar Bromo – Manajemen RSUD Bangil akhirnya angkat  bicara menyikapi seorang dokternya yang dituding tidak profesional. Sehingga, menyebabkan seorang pasien meninggal. Manajemen RSUD mengklaim, penanganan pasien yang diberikan dokter V sudah sesuai SOP.

Penegasan ini disampaikan Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Bangil M. Jundi. Jundi menjelaskan, tidak ada dokter berinisial W di bidang penyakit dalam di RSUD Bangil. Yang ada yaitu dokter V. Dan dokter V inilah yang menangani pasien atas nama Eko, 38, warga Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

“Sebelumnya, kami mengucapkan bela sungkawa atas kematian Bapak Eko. Kami tegaskan, tidak ada dokter W. Yang benar adalah dokter V,” ungkap Jundi.

Ia menegaskan, tidak ada penelantaran atau pembiaran oleh dokter V terhadap pasien seperti yang disampaikan J atau Joko Cahyono, ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan. Yang ada hanyalah miskomunikasi saja.

Persoalan tersebut bermula saat pasien datang ke RSUD Bangil, Kamis (3/10) malam. Semula, tidak ada persoalan. Hingga Senin (7/10) siang, keluarga pasien datang bersama Joko Cahyono.

Ketika itu, istri pasien menanyakan kondisi suaminya pada dokter V. Di situlah, terjadi miskomunikasi antara dokter V dengan Joko Cahyono. Miskomunikasi itu, berujung cekcok hingga Joko Cahyono menggebrak meja.

Joko disebut-sebut Jundi, juga menuding-nuding dokter V. Bahkan sempat melontarkan kata-kata tak pantas pada dokter V. Hingga kemudian, dokter V memberikan feedback atas apa yang dilakukan Joko.

“Beliau (dokter V) memang sempat menyebut kalau suaminya tentara. Itu, dilakukan karena refleks. Karena merasa, selama hidupnya tidak pernah dibentak-bentak seperti itu,” sampainya.

Menurut Jundi, Joko sempat mengaku bahwa dirinya adalah anggota dewan. Karena refleks pula, dokter V menimpalinya.”Ia mengaku tidak peduli meski anggota dewan, LSM, atau apapun. Suami saya tentara. Ucapan itu, sebagai bentuk respons dan refleks seorang wanita karena suaminyalah yang menjadi tempat untuk berlindungnya,” tambahnya.

DISOROT: RSUD Bangil yang pelayanannya belakangan disorot usai ada pasien asal Prigen meninggal, lantas kerabat pasien mengeluhkan pelayanan di rumah sakit setempat. (Dok. Radar Bromo)

Sementara dari sisi medik, kata Jundi, pasien menderita sakit komplikasi. Selain penyakit paru-paru, ada penyakit utama lainnya yang tak bisa disebutkan, sesuai kode etik dokter.

Menurutnya, pasien datang dengan kondisi sesak ke RSUD Bangil, Kamis malam. Selama 3-4 tahun terakhir, pasien rutin berobat ke RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Memang menurutnya, dokter V tidak bisa visite. Namun, ada dokter lain selain dokter V yang menangani penyakit dalam. Ada pula dokter A yang menangani masalah paru-parunya.

“Dua dokter ini, join. Karena dokter V ada seminar di Surabaya, maka penanganannya diambil alih oleh dokter A dan mereka selalu komunikasi,” akunya.

Masalah kemudian terjadi karena Senin (7/10) siang, kondisi pasien semakin memburuk. Dokter V, sebenarnya sudah mengusulkan untuk dirujuk ke RS dr Soetomo Surabaya karena di rumah sakit setempat ada obat untuk mengatasi penyakit utamanya.

Baca berita sebelumnya: Meninggal saat Dirawat di RSUD Bangil, Kerabat Soroti Pelayanan Dokter

Namun, pihak keluarga menolak. Dokter V pun mengusahakan untuk dirujuk ke RS Saiful Anwar Malang. Namun, lagi-lagi pihak keluarga tidak berkenan.

“Alasannya apa, itu adalah pihak keluarga yang bisa menjelaskan. Jadi sebenarnya, pihak keluarga ini mengetahui obat-obatan apa yang dibutuhkan untuk mengatasi penyakit pasien. Dan itu hanya ada di RS tipe A. Di RSUD Bangil, tidak tersedia. Dan dokter V sempat berusaha untuk merujuk.Tapi, pihak keluarga tidak berkenan,” tambahnya.

Sampai akhirnya, pasien meninggal dunia sore harinya. Menurut Jundi, dokter V sudah menjalankan SOP dengan baik. Hanya memang, ada pelanggaran etika yang dilakukan.

Pelanggaran yang dilakukan itu, muncul atas respons setelah adanya miskomunikasi dengan Joko. “SOP sudah dijalankan. Hanya memang ada pelanggaran etika dan kami beri sanksi teguran,” sambungnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, layanan RSUD Bangil disoal. Menyusul meninggalnya seorang pasien, yaitu Eko. Keluarga menyebut, Eko meninggal karena tudingan kelalaian dokter yang merawatnya.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Joko Cahyono. Joko menyebut, dokter V arogan dan tidak memberikan keterangan yang valid saat keluarga bertanya tentang kondisi pasien. Sampai akhirnya, pasien meninggal dunia.

Atas meninggalnya pasien Eko itu pula, sejumlah aktivis mendatangi Polres Pasuruan, kemarin (10/10). Mereka datang untuk melaporkan V atas tudingan kelalaian.

“Kami sudah layangkan laporan ke Polres. Kami harap bisa diproses secara hukum,” ungkap Prima Satria, bendahara LSM LIRA Jatim.

Belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian atas laporan itu. Kasat Reskrim Polres Pasuruan AKP Dewa Putu Prima belum menjawab saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya. (one/hn)