Meninggal saat Dirawat di RSUD Bangil, Kerabat Soroti Pelayanan Dokter

BANGIL, Radar Bromo – Meninggalnya Eko, 37, warga Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan saat dirawat di RSUD Bangil berbuntut. Sejumlah kerabatnya menyoroti pelayanan di rumah sakit pelat merah itu.

Hal itu pun jadi sorotan DPRD setempat. Joko Cahyono, ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan yang juga kerabat korban mengatakan, korban masuk RSUD Bangil Kamis (3/10) siang dan Senin (7/10) malam korban meninggal.

Selama di RSUD Bangil itu, korban dirawat di ruang HCU. Di sini, korban di bawah pengawasan dokter W. Namun, dokter W, menurut Joko, tidak merawat korban sebagaimana mestinya. Bahkan, menurutnya, tanggung jawab dokter W pada pasiennya rendah. “Ini sungguh miris. Bukannya sembuh, seorang pasien yang dirawat di RSUD Bangil justru meninggal,” kata Joko.

Joko bercerita, korban menderita sakit paru-paru dan leukimia. Dia pun dilarikan ke RSUD Bangil oleh keluarganya pada Kamis (3/10).

Mulanya, pasien ditangani di IGD RSUD Bangil. Dari IGD, korban dirawat di HCU lantai III. Dokter yang menangani Eko di HCU itu adalah dokter W.

Beberapa hari dirawat, kondisi Eko bukannya membaik, malah semakin memburuk. Bahkan, menurut keluarga, dokter W tidak visite pada korban.

W hanya memeriksa korban pada Kamis, saat kali pertama korban masuk ruang HCU. Lalu pada Jumat dan Sabtu (4-5/10), W tidak visite. Alasannya, W mengikuti seminar di Surabaya.

Lalu hari Minggu (6/10), W juga tidak visite. Keluarga menurut Joko bisa memaklumi karena hari Minggu adalah hari libur. Pihak keluarga pun datang dan curhat kepada Joko.

Mendapat curhatan pihak keluarga, Joko menjenguk korban di RSUD Bangil, Senin (7/10). Tujuannya, melihat kondisi korban, sekaligus menanyakan kondisi korban pada dokter W.

“Saya dicurhati keluarga korban karena tidak ada visite dari dokter yang bertanggung jawab kepada pasien (W, Red.). Senin saya datang RSUD Bangil. Maksudnya untuk menanyakan perkembangan kondisi pasien saat itu,” jelas Joko.

Hari Senin (7/10) itu, menurut Joko, W juga tidak visite.

W akhirnya visite setelah Joko melapor pada direktur RSUD Bangil. Baru kemudian, W datang.

Saat itulah Joko bertemu dengan W. Joko pun bertanya tentang kondisi korban pada W. Terutama kondisi sel darah putih korban.

W menjawab bahwa kondisi korban tetap. Mendapat jawaban seperti itu, keluarga korban yang mendengar protes. “Lho, sel darah putihnya sudah turun. Dari 161 jadi 116. Kok dibilang tetap,” kata Joko menirukan keluarga korban.

Jawaban dokter W, menurut Joko, membuat keluarga khawatir. Sebab, keluarga takut korban diberi dosis obat seperti pada saat sel darah putihnya 161. Padahal, jumlah sel darah putihnya 116.

Mendapat jawaban seperti itu, Joko pun mempertanyakan perhatian dokter W pada korban. “Kami ingatkan, yang bersangkutan malah marah-marah tak karuan. Bukannya minta maaf, malah membentak-bentak,” tutur Joko.

Joko mengaku, memang sengaja tak menunjukkan jati dirinya. Karena ingin tahu kondisi objektif pelayanan di RSUD Bangil. Melihat psikologis dokter W tak terkendali, Joko lantas pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Namun, siapa yang menyangka. Senin (7/10) sore, kondisi pasien semakin memburuk. Hingga akhirnya meninggal dunia. “Kami sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Bangil karena dokternya memberikan pelayanan yang jauh dari profesional,” terangnya.

Kematian Eko saat dirawat di RSUD Bangil, juga menjadi perhatian kalangan aktivis. Salah satunya Prima Satria, bendahara LSM LIRA Jatim. Ia menduga, dokter W bersikap lalai pada pasiennya. Karena membiarkan pasien hingga akhirnya meninggal dunia.

Dugaan kelalaian muncul lantaran W lebih sibuk mengikuti seminar. Ketimbang memantau perkembangan pasien hingga akhirnya pasien meninggal.

“Dokter tersebut (W, Red) lebih ikut seminar ke luar kota, ketimbang memperhatikan kondisi pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Kami menduga ada kelalaian atas apa yang dilakukannya,” ungkapnya.

Hal inilah yang akan menjadi bahannya untuk melaporkannya ke pihak berwajib. “Kami akan laporan ke kepolisian. Kami juga mendesak dewan untuk membentuk pansus dalam mengusut persoalan tersebut,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Ruslan mengaku, belum bisa mengambil sikap atas persoalan tersebut. Pihaknya masih akan meminta klarifikasi dari pihak RSUD Bangil untuk mengetahui persoalan sebenarnya.

“Kami akan panggil pihak RSUD Bangil untuk meminta penjelasan. Dalam waktu dekat ini pemanggilan akan kami lakukan,” tandasnya.

Sementara itu, pihak RSUD Bangil belum mengeluarkan pernyataan resmi atas persoalan tersebut. Plt Direktur RSUD Bangil Agung Basuki belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui sambungan selulernya, pihaknya tak menjawab panggilan Jawa Pos Radar Bromo.

Konfirmasi atas kasus ini diberikan oleh Humas RSUD Bangil Hayat. Hayat mengaku, bakal menggelar jumpa pers memberikan penjelasan atas persoalan yang ada.

“Nanti Pak Direktur langsung yang akan menyampaikan. Sementara ini, saya belum bisa memberikan penjelasan. Besok (10/10, Red) kami akan berikan klarifikasi,” pungkasnya. (one/hn)