Diduga Berbuat Cabul, Oknum Guru di Sumber Dilaporkan Polisi

PAJARAKAN, Radar Bromo – BG, warga Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, harus bolak-balik ke Mapolres Probolinggo sejak Senin (7/10). Tujuannya, melaporkan tindakan tak senonoh SL, oknum guru di sebuah SMP setempat. SL diduga melakukan pelecehan seksual pada putrinya, NA, 13.

Rabu (9/10) pagi, BG kembali mendatangi Mapolres Probolinggo di Pajarakan. Kali ini kedatangannya untuk menemani putrinya melakukan visum.

Saat diajak berbincang, BG menjelaskan kronologi dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru olahraga itu. Menurutnya, peristiwa itu terjadi Jumat (4/10).

Saat itu, kelas anaknya sedang ada jam olahraga. Sekitar pukul 09.00, semua teman NA dipanggil ke ruangan SL. Hanya NA yang tertinggal di kelas.

Setelah semuanya dipanggil, giliran NA dipanggil. NA dipanggil melalui seorang temannya. NA pun tidak merasa aneh dipanggil gurunya. Dia pun datang seorang diri menemui SL di ruangan SL. Yaitu ruangan untuk guru olahraga

“Anak saya datang sendiri ke ruangan guru. Namanya kan masih anak-anak ya tidak curiga,” katanya dengan suara bergetar geram.

Setelah di ruangan SL, NA lantas disuruh menutup pintu ruangan oleh SL. Saat itu, di ruangan SL tidak ada orang lain. Hanya ada SL dan NA.

Setelah pintu ditutup, SL membuka percakapan. SL bertanya pada NA tentang grup voli sekolah. “Kamu mau masuk grup voli A atau B,” kata BG menirukan pertanyaan SL.

Mendengar pernyataan itu, NA menjawab dengan polos. NA menyerahkan masalah grup pada SL. Mendapat jawaban demikian, SL lantas mendekati korban.

Ia mendekati sambil meraba (maaf) payudara sebelah kiri korban. Selain itu, ia juga mencium pipi korban. Itu, dilakukan oleh pelaku sembari berbicara. “Kalau kamu ingin nilai bagus, kamu harus nurut saya. Kamu buka celananya,” katanya lagi menirukan pelaku.

Karena yang dilakukan SL tidak wajar, NA sontak berdiri dan keluar ruangan itu. Ia keluar sembari berlari dan menangis. Di luar ruangan, NA ia sempat bertemu dengan teman-temannya yang heran. Namun, NA tidak menggubris. “Anak saya langsung lari pulang ke rumah. Dia langsung cerita kepada saya. Mendengarnya saya langsung naik darah,” ungkapnya.

ST, seorang perangkat desa setempat mengatakan, peristiwa itu langsung menyebar cepat di desanya. Warga desa yang mendengar perbuatan SL, langsung marah.

Warga marah karena takut SL berbuat hal serupa pada anak-anak mereka. Warga pun berencana melurug sekolah untuk meminta pertanggungjawaban SL. Namun, upaya itu dicegah.

“Kami cegah. Kami arahkan agar SL diproses secara hukum saja. Karena itu, kemudian kami memfasilitasi keluarga korban untuk melapor ke Polres Probolinggo,” katanya.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo Bripka Isana Reny Antasari membenarkan laporan tersebut. Menurutnya, laporan itu masih ditangani. “Iya benar. Saat ini kasusnya masih kami tangani,” terangnya. (sid/hn)