Beli Sapi Pakai Upal, Warga Patalan Wonomerto Ditangkap

MAYANGAN, Radar Bromo – Sujono, 45, warga Desa Patalan, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, seharusnya mendapat uang Rp 44 juta dari hasil menjual dua ekor sapinya. Namun, dia malah ketiban sial. Lelaki itu dibayar dengan uang palsu oleh pembeli sapinya.

Peristiwa ini terjadi bulan Juli. Tepatnya, Minggu (28/7) pukul 13.30 di Jalan Raya Sukapura, Desa Patalan, Kecamatan Wonomerto. Saat itu korban hendak menjual dua ekor sapi miliknya. Kemudian datang pelaku, Mukhammad Mundofar, 50, warga Desa Bulu, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.

Pada korban, pelaku mengutarakan niatnya membeli sapi korban. Terjadilah transaksi jual beli antara korban dengan pelaku.

“Terjadi tawar menawar antara pelaku dan korban. Dua ekor sapi itu dijual seharga Rp 44 juta. Namun, tersangka baru membayar Rp 30,5 juta yang merupakan uang palsu,” ujar Waka Polres Probolinggo Kota Kompol Imam Pauji saat rilis kasus di Mapolresta Probolinggo, Senin (7/10).

Menerima uang tersebut, korban langsung membawanya pulang. Uang itu lantas diberikan kepada keluarganya. Saat itulah, keluarga mengetahui uang yang diterima korban adalah uang palsu alias upal.

Korban lantas melaporkan peristiwa itu ke Polsek Wonomerto pada 10 Agustus 2019. Dan seminggu lalu, pelaku ditangkap oleh petugas Polresta Probolinggo.

Bersama pelaku, diamankan sejumlah barang bukti. Antara lain uang kertas pecahan Rp 100 ribuan nomor seri AOK 135406 sebanyak 67 lembar; uang kertas pecahan Rp 100 ribuan nomor seri PHD 148333 sebanyak 74 lembar; uang kertas pecahan Rp 100 ribuan nomor seri BHH 141999 sebanyak 75 lembar.

Lalu, uang kertas pecahan Rp 100 ribuan nomor seri RNS 957315 sebanyak 75 lembar; dan Kartu Tol e-money Mandiri berlogo Indomaret dengan nomor seri 6032986085488830. Total jumlahnya Rp 30,5 juta.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat pasal 36 ayat (2) dan (3), UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Ancamannya, hukuman pidana penjara maksimal 10 tahun.

Wakapolresta menyebut, sebenarnya uang yang dipakai pelaku secara fisik bisa dilihat memang uang palsu. Namun, korban tidak bisa membedakan.

“Jika dilihat dari ciri-ciri fisiknya, sudah kelihatan uang yang digunakan pelaku adalah palsu. Namun, karena korban tidak bisa membedakan uang palsu dan asli, maka kejadian ini bisa terjadi,” jelasnya.

Saat ini, menurutnya, penyidik masih mendalami apakah pelaku masuk kategori sindikat penyebaran upal atau tidak. Polresta pun mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati melakukan transaksi dengan uang tunai.

“Dengan adanya kasus seperti ini, hendaknya masyarakat lebih waspada. Kenali ciri-ciri uang asli, sehingga kasus seperti ini dapat diminimalisasi,” jelasnya. (ar/hn)