Kiprah Membanggakan Siswa SMAN 1 Bangil Dalam Kompetisi SEAMEO

TUJUH PENGHARGAAN: Siswa SMAN 1 Bangil yang berhasil meraih prestasi membanggakan dalam ajang Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Kiprah siswa SMAN 1 Bangil dalam ajang Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), yang berpusat di Bangkok, Thailand sungguh membanggakan. Ajang kompetisi pelajar yang diikuti sebelas negara itu, mengantarkan siswa-siswi SMAN 1 Bangil mendulang prestasi gemilang.

————-

Wajah Rochmatul Rika Putri, tampak bahagia. Senyumnya mengembang, ketika ditanya perasaannya atas prestasi yang didapatkan. Gadis 17 tahun itu mengaku tak menyangka. Bisa benar-benar mengharumkan nama sekolahnya, SMAN 1 Bangil.

Tidak hanya dikancah nasional. Tetapi juga internasional, dengan menyabet juara dua, untuk kategori Waste Recycling dalam ajang SEAMEO yang digelar 5 April – 30 Juni 2019.

“Pastinya sangat senang. Ini pertama kalinya saya bisa membawa harum nama sekolah,” kata siswi kelas 11 IPS 2 tersebut.

Bukan hanya Rika-sapaannya yang merasa senang. Karena, ada sepuluh rekannya yang terlibat dalam lomba kategori yang sama. Mereka adalah teman satu timnya. Mereka adalah Arbi, Tegar, Nela dan rekan-rekan lainnya.

Menurut Rika, perjuangan meraih juara ke dua dalam ajang tersebut benar-benar tak mudah. Cekcok dengan teman-temannya sempat terjadi hingga hampir membuat proyek daur ulang limbah karton menjadi kursi serba guna, nyaris gagal.

“Kami hampir putus asa. Bahkan, sempat mandek gara-gara cekcok dengan teman se-tim,” kenangnya.

Kisahnya berawal ketika pihak sekolah menginformasikan adanya lomba. Menurut Arbi Oktavandi, ia dan rekan-rekannya menyiapkan proyek membuat kursi berbahan baku limbah, Desember 2018.

Mulanya, bahan baku yang dibuat adalah drum minyak. Namun, niatan itu dibatalkan, karena banyak yang sudah membuat dan menggunakan seperti di cafe-cafe.

Hingga opsi selanjutnya, menggunakan botol-botol bekas, seperti botol minuman kemasan. Ia dan rekan-rekannya sempat membuatnya. Namun, hasilnya berantakan.

“Dua kali uji coba gagal. Waktu itu di coba Kepala Sekolah, Dwi Cahyo. Pertama ambruk dan yang kedua goyang-goyang,” kisahnya diamini Nela rekannya.

Dalam upaya mencari solusi, cek cok sempat terjadi. Bahkan, membuat proyek tersebut terhenti. Baru bukan Februari kemudian, kembali berjalan. Itu setelah masalah internal diatasi. Solusipun akhirnya ditemukan. Drum karton bekas pabrik menjadi pilihan.

“Kami akhirnya menemukan bahan yang pas, berupa drum karton bekas. Kami berbagi tugas. Ada yang kebagian menjahit untuk bantal duduknya ada pula yang kebagian menggambar dan yang lainnya,” ungkap dia.

Hasilnya cukup memuaskan. Tempat duduk itpun ia unggah untuk dikirim ke panitia lomba. Sampai awal Agustus kemarin, timnya dinyatakan menang juara dua.

Bukan hanya tim Waste Recycling yang berhasil meraih juara. Karena ada enam tim lain yang juga meraih kemenangan dalam ajang yang diikuti sebelas negara itu, seperti Thailand, Malaysia, India, Jepang dan negara-negara di wilayah Asia lainnya, khususnya Asia Tenggara.

Kategori yang dimenangkan, seperti juara satu dan tiga kategori Applied Robotik; juara satu fashion design; juara 2 game development; juara dua healthy canteen dan juara 3 urban agriculture.

Salah satu anggota tim game development SMAN 1 Bangil, Nizzar Achmad Husain Bernardt menyebutkan, jalan menuju juara begitu berliku. Bahkan, perpecahan anggota tim sempat terjadi. Sampai-sampai, ia harus jalan sendiri dan mencari anggota lain.

“Saya sempat sendirian untuk menyelesaikan game. Karena, teman-teman memilih keluar dari tim,” kenangnya.

Padahal, game asah otak berupa kuis-kuis pembelajaran yang dibuat tersebut, baru tahap rancangan. Ia benar-benar dibuat kelimpungan. Sampai-sampai malu pada pembimbing ketika meminta untuk memaparkan perkembangan.

“Kami akhirnya bentuk tim baru yang berjumlah lima orang, untuk menyelesaikan proyek game tersebut. Dan Alhamdulillah, meski mepet, kami bisa menyelesaikannya,” urainya.

Padahal, ia dan rekan-rekannya sebenarnya tak banyak keahlian untuk membuat game. Ia belajar dari otodidak dari buku. “Tapi, karena solid, kami bisa menyelesaikan. Begadang pun kami lakukan,” tandasnya.

Lain dengan tim game development, lain pula cerita tim fashion design yang meraih juara pertama. Tim yang terdiri dari Muhammad Firdho Kustiawan, Qoniah Adelia, Farah Firdaus, Sabrina Labista dan Muzammil Reza ini, sempat dipusingkan dengan ide-ide yang bermunculan.

Sayangnya, masing-masing ide yang dituangkan, tidak ada kecocokan antar anggota tim. “Saya sampai sangat stres. Karena masing-masing ingin menerapkan idenya,” cerita Firdho-sapaan karib Muhammad Firdho Kustiawan.

Apalagi, waktu pengerjaannya sangat mepet. Mereka harus menyelesaikan dalam kurun waktu sebulan. Sementara ide yang dikonsepkan, belum benar-benar bisa diterapkan. “Kami akhirnya konsultasi dengan pendamping. Kami juga mendapat support dari designer busana di Bangil. Dari situ, akhirnya kamilebih terarah,” tandasnya.

Mereka pun akhirnya menelurkan konsep busana batik yang bertemakan kearifan lokal. Paduan batik dan wayang diterapkan dalam model busana rancangan mereka.

Siapa sangka, busana tersebut menarik minat juri. Buktinya, timnya keluar sebagai juara pertama. “Sangat menyenangkan. Meski awalnya,sempat eyel-eyelan,” akunya.

Menurut Pembina SEAMEO SMAN 1 Bangil, Ani Herinia Warsiandari, prestasi yang diraih siswa dan siswi SMAN 1 Bangil sangatlah membanggakan. Betapa tidak, ajang yang diikuti tersebut cukuplah bergengsi lantaran diikuti beberapa negara Asia dan Asia Tenggara.

Ia menambahkan, sebenarnya ada 10 kategori lomba yang diikuti. Dari jumlah itu, siswa dan siswinya berhasil menyabet juara pada tujuh kategori lomba.

“Sangatlah membanggakan. Dan tentunya, bisa mendorong siswa dan siswi lain untuk mengikuti jejak mereka,” ungkap perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan SMAN 1 Bangil tersebut mewakili Kepala SMAN 1 Bangil Dwi Cahyo. (fun)