Sukses Desa Binor Raih Penghargaan Kampung Iklim dari KLHK RI

Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu desa dari 32 desa dan kelurahan di Indonesia yang meraih penghargaan program kampung iklim (Proklim) 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dari Jawa Timur, penghargaan ini hanya diterima tiga daerah. Yakni, Desa Binor dan dua kelurahan dari Malang dan Blitar

MUKHAMAD ROSYIDI, Paiton, Radar Bromo

Proklim di Desa Binor telah digalakkan sejak 2016. Sejak saat itu, Pemdes Binor berkomitmen menciptakan kampung berketahanan iklim. Hal itu dilakukan sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi dari perubahan iklim, akibat pemanasan global (global warming).

Dan hasilnya, Pemdes Binor berhasil meraih penghargaan Proklim kategori utama dari KLHK RI. Penghargaan itu, diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya pada Kades Binor, Hostifawati, Rabu (2/10) di Gedung Mandala Wanabakti KLHK, Jakarta.

Penilaian Proklim tingkat nasional 2019 ini dilakukan pihak KLHK RI di Desa/Kelurahan sejak Juni 2019. Tepatnya setelah lolos verifikasi dari provinsi masing-masing.

Bagi Desa Binor, penghargaan sebagai kampung berketahanan iklim itu, merupakan kali kedua. Namun, tahun ini terasa lebih istimewa. Sebab, Desa Binor mendapatkan tropi. Berbeda dengan tahun 2018 yang hanya berupa sertifikat.

“Alhamdulillah, tahun ini Desa Binor mendapatkan penghargaan Proklim untuk kategori utama dan mendapat tropi,” ujar Kades Binor Hj. Hostifawati.

Tahun ini ada 32 Desa dan Kelurahan yang mendapatkan penghargaan Proklim dari KLHK se Indonesia. Sebanyak 30 desa dan kelurahan untuk kategori tingkat utama dan sisanya untuk kategori lestari.

“Untuk Jawa Timur hanya tiga desa yang menerima penghargaan. Desa Binor dan dua kelurahan di Malang dan Blitar. Desa Binor tahun ini mendapatkan poin di atas 90. Tahun 2018 lalu poinnya masih 82,” urainya.

Kades perempuan yang dikenal aktif itu mengatakan, penghargaan tersebut tidak terlepas dari program di bidang ketahanan iklim yang dilakukan Pemdes Binor selama ini. Program itu, sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming).

“Misalnya untuk penanganan sampah, di sini tiap rumah kami siapkan tempat sampah terpilah. Ada sampah organik dan nonorganik. Sampah-sampah itu, kami tampung melalui bank sampah dan rumah kompos. Sehingga, masalah sampah tertangani dengan baik,” katanya.

Pihaknya juga melarang warganya membakar sampah. Sebab, asap dari hasil bakaran sampah bisa mempengaruhi kualitas udara. Selain itu, untuk menciptakan kualitas udara yang baik, aksi penanaman pohon juga terus digalakkan di Desa Binor. Termasuk penanaman mangrove di kawasan pantai.

“Tiap rumah juga kami wajibkan untuk menanam tanaman produktif melalui program kawasan rumah pangan lestari (KRPL). Seperti tanaman buah dan sayur. Selain untuk memenuhi gizi, keberadaan tanaman ini juga sebagai produsen oksigen (O2). Imbasnya, kualitas udara yang diserap manusia semakin bagus,” ungkapnya.

Untuk memenuhi bibit tanaman itu, di desa setempat juga dibangun green house. Dari green house ini, bibit tanaman ditanam di KRPL yang berada di rumah-rumah warga.

“Oleh warga tanaman itu ditanam di depan, samping dan belakang rumahnya dengan polybag. Bahan polybag dari limbah. Seperti, kaleng bekas hingga karung beras,” ungkapnya.

Tidak hanya tanaman sayur dan buah, pihak desa juga mewajibkan warganya menanam bunga lavender. Yakni, tanaman yang memiliki manfaat untuk mengusir nyamuk. Sebab, efek dari perubahan iklim juga berdampak pada perkembangan nyamuk yang pesat saat cuaca panas.

“Selain lavender mereka juga melengkapi rumahnya dengan ovitrap atau alat untuk memutuskan siklus nyamuk. Kami juga membentuk satu rumah, satu juru pemantau jentik nyamuk (jumantik),” sebutnya.

Tak hanya itu, Pemdes Binor juga terus berupaya mengatasi masalah limbah dari kotoran hewan atau ternak. Caranya, limbah itu diubah menjadi energi terbarukan untuk kepentingan masyarakat.

“Kami buat biogas untuk kebutuhan memasak dan penerangan, selain solar cell yang sudah ada di sini,” katanya.

Dan yang tidak kalah pentingnya, Pemdes juga melakukan upaya pelestarian sumber mata air. Ini dilakukan untuk mengatasi musim kemarau. Selain itu, sejak 2016, Pemdes Binor juga telah membuat 700 Biopori. Termasuk membuat enam tempat penampungan air hujan (PAH) dan 20 sumur resapan.

“Agar air hujan tidak terbuang ke laut, tapi tersimpan di tanah. Tujuannya agar kandungan air di tanah tetap banyak. Kami ingin mewariskan mata air kepada anak cucu kami, bukan air mata,” katanya.

Kades mengungkapkan, semua program itu tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dan kesadaran masyarakatnya. Karena itu, berbagai upaya ia lakukan untuk menanamkan budaya disiplin dalam sendi-sendi kehidupan warganya, khususnya terkait lingkungan.

“Misalnya untuk sampah, awalnya memang sulit. Dulu saya tiap pagi sekitar jam 5 berkeliling kampung. Ada warga yang buang sampah sembarangan saya tegur, saya marahi. Ini demi kebaikan bersama,” katanya.

Masalah lingkungan memang menjadi perhatiannya. Sebab, lingkungan yang bersih, rapi dan sejuk, menjadi salah satu faktor pendukung untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Termasuk dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

“Kalau dibandingkan dengan dulu, Alhamdulillah sekarang warga sudah banyak yang sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan,” katanya.

Menurutnya, selain membuang sampah sembarangan di sekitar rumah dan pekarangan, dulu warganya juga tak segan-segan membuang sampah di sekitar pantai. Termasuk buang air besar (BAB) di pantai. Perlahan, namun pasti tradisi itu sudah tidak ditemukan lagi di Desa Binor.

“Salah satu caranya saya pasang imbauan berupa banner di pantai. Pagi saya pasang, sore sudah hilang. Akhirnya, tiap pagi saya jadi banner hidup di pantai. Warga yang mau ke pantai saya tanyakan, mau apa? Kalau buang sampah dan BAB saya marahi,” katanya.

Pihaknya tidak hanya memberi wejangan. Namun, memberikan solusi untuk pengelolaan sampah dan sanitasi. Salah satunya dengan membangun jamban pribadi dari dana desa (DD) dan instansi pemerintah lainnya. Termasuk membangun MCK yang bersumber dari program CSR perusahaan.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa buang air besar di jamban dan MCK yang kita siapkan,” katanya.

Sebagai tindak lanjut dari penghargaan Proklim yang diterimanya itu, pihaknya juga menargetkan untuk meraih penghargaan Proklim di tingkat yang lebih tinggi. Yakni, kategori Lestari. Salah satunya dengan melakukan pembinaan bagi 10 desa lainnya.

“Bisa desa di Kecamatan Paiton maupun di kecamatan lainnya. Tujuannya, agar mereka juga bisa mengolah lingkungan lebih baik dan meningkatkan kesadaran masyarakatnya. Agar kami bersama-sama bisa menjadi kampung yang berketahanan iklim. Demi masa depan anak cucu,” pungkasnya. (hn)