Desa Gading yang Menjaga Eksistensi Kesenian Tradisional Tiban Wedar

Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, memiliki seni tradisional Islami yang berkembang secara turun-temurun yakni seni Tiban Wedar. Eksistensi kesenian ini terus dijaga. Salah satunya dengan selalu melibatkannya dalam setiap kegiatan desa.

————–

Sejumlah pria berbaju koko putih dan peci hitam tampak duduk berbaris rapi membentuk empat saf. Mereka siap membawakan Tari Saman. Di samping itu, ada sejumlah warga yang menyenandungkan salawat Nabi Muhammad. Mereka sambil memukul alat musik terbang.

Pemandangan ini tersaji beberapa waktu lalu saat acara selamatan desa di Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Ternyata, seni musik religi ini selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan desa. Tujuannya, menjaga agar keseniaan ini tetap eksis.

Kepala Desa Gading Agus Salim mengatakan, kesenian Tiban Wedar ini muncul secara gaib. Tiba-tiba ada warganya yang menemukan alat musik terbang di Dusun Wedar. Karenanya, kesenian ini dinamakan seni Tiban Wedar. “Dinamakan Tiban Wedar karena alat musik terbangnya ditemukan secara tiba-tiba di Dusun Wedar. Ini dipercaya setua usia Desa Gading,” ujarnya.

Menurutnya, kesenian ini biasanya dibawakan oleh 10 orang pria. Termasuk yang membawakan salawat dan memainkan alat musik. Dahulu kesenian ini ditampilkan dalam acara khitanan, selamatan orang naik haji, dan sejumlah selamatan lainnya.

Namun, saat ini seni Tiban Wedar semakin dikenal luas karena juga dilibatkan dalam kegiatan dan seremonial desa dan keagamaan. Mulai dari perayaan selamatan desa hingga perayaan Tahun Baru Islam.

Pemerintah Desa Gading berharap kesenian Tiban Wedar tetap lestari dan semakin dikenal luas. Pihaknya berharap agar Pemkab Pasuruan membantu terhadap eksistensi dan berkembangnya kesenian ini. Baik agar bisa manggung di dalam daerah maupun di luar daerah.

Menurut Agus, seni Tiban Wedar memiliki sejumlah keunikan. Selain usia yang setua Desa Gading, salawat yang dibawakan juga berbeda dengan salawat pada umumnya. Namun, isinya tetap memuji Nabi Muhammad SAW. “Kami berharap agar seni Tiban Wedar tetap lestari. Dengan ditampilkan setiap ada kegiatan Pemkab seperti HUT Kabupaten,” ujarnya. (riz/rud/fun)