Nyambangi Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf usai Ambruk saat Apel Tagana di Bromo

Sempat dirawat intensif selama empat hari di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Kamis (3/10) Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf sudah kembali ke kediamannya di Purwosari. Kondisinya sehat. Bahkan, bisa menemui wartawan di pendapa rumahnya.

 

BUPATI Pasuruan Irsyad Yusuf tiba-tiba ambruk saat mengikuti Apel Tagana Nasional di Pasir Berbisik, Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (28/9). Kondisinya itu, langsung menyita perhatian publik.

Ini, lantaran Bupati Irsyad terkenal aktif dan rajin berolahraga. Publik sempat khawatir lantaran orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan itu harus dirawat intensif di RSSA Malang.

Empat hari dirawat di RSSA Malang, Kamis (3/10) sekitar pukul 13.00, Bupati sudah bisa ditemui di rumahnya di Kecamatan Purwosari. Menggunakan celana panjang warna krem, kaus lengan pendek, dan topi, Gus Irsyad –panggilannya- tampak santai menemui Jawa Pos Radar Bromo.

Tak sendiri, juga ada tamu lain yang menjenguk Bupati sepulang dari rumah sakit. Siang itu, Bupati tampak rileks menemui tamu. Ditemani angin semilir di pendapa rumahnya dengan suguhan teh hangat manis dan kopi hitam.

Aura wajahnya tampak semringah, kendati masih pucat. Obrolan ringan pun mengalir seputar aktivitasnya sebelum akhirnya ambruk di Gunung Bromo.

“Jadi malam harinya saya memang masih menemui tamu sampai pukul 21.00. Lalu langsung berangkat ke Bromo karena Sabtu paginya harus sudah ada di Bromo,” terangnya.

Praktis, malam harinya Bupati kurang istirahat. Lalu, esok harinya, sekitar pukul 06.00, Bupati sudah berangkat dari hotel. Saat itu, sarapan belum siap di hotel. Sehingga, Bupati hanya makan roti tawar untuk mengganjal perut.

Apel Tagana sendiri dijadwalkan mulai pukul 08.00. Bupati mengaku, saat itu kondisi perut di bagian kiri bawah beberapa kali sakit.

“Jadi, kondisi sebenarnya belum sarapan dan perut saya beberapa kali sakit sekali. Cari makanan di tempat VIP tidak ada. Jadi saya tahan saja sampai akhirnya Gubernur datang sekitar pukul 10.00,” terangnya.

Dengan kondisi pucat dan tahu akan ambruk, Bupati sempat mengobrol dengan Gubernur. Sampai akhirnya, seusai Bupati Probolinggo memberikan sambutan, Irsyad pun tidak tahan lagi. Dia memilih mundur dan akhirnya ambruk.

“Waktu itu saya malu sekali kalau sampai pingsan di sana. Akhirnya dengan sekuat tenaga saya mundur dari panggung utama. Saat itu, ajudan dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi juga ikut. Saat turun panggung gak kuat, akhirnya ditandu ke tempat kesehatan,” terangnya.

Irsyad mengatakan, sakit perut yang dialaminya diduga lantaran lapar karena belum sarapan. Apalagi, aktivitas beberapa hari sebelumnya padat. Membuatnya sangat kelelahan dan kondisinya drop.

Saat itu Bupati langsung dibawa ke Ambulans Probolinggo. Pilihannya saat itu memang akan dibawa ke rumah sakit di Probolinggo.

“Saya sempat memilih untuk dibawa ke Bangil saja. Akhirnya ambulans masuk tol ke arah Bangil. Saat di ambulans, tekanan darah sempat naik dan turun,” tuturnya.

Di ambulans pun Irsyad mengaku sangat kelaparan. “Bahkan, saking laparnya dan tidak ada makanakan, akhirnya sisa brownis petugas medis saya makan di dalam ambulans,” ujarnya tertawa.

Namun atas pertimbangan kondisi, Bupati dilarang pindah ambulans. Sebab, ada dugaan Bupati menderita penyakit jantung saat itu.

Akhirnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi membawa Irsyad ke RSSA Malang. Sebab, alat jantung lebih lengkap di sana.

Di RSSA Malang, Bupati langsung dirawat oleh tim dokter terbaik. Saat itu kondisinya dinyatakan baik. Namun, agar tidak muncul gejala serupa, Bupati tetap dirawat intensif.

BIKIN HEBOH: Bupati Irsyad Yusuf saat ditandu menuju ambulans. (Foto Istimewa)

Dokter lantas memutuskan untuk melakukan katerisasi jantung. Yaitu, prosedur medis yang bertujuan untuk mendeteksi kondisi jantung.

“Setelah dikaterisasi tersebut, dua hari dirawat di CICU atau ruang khusus jantung. Akhirnya dilihat secara umum ternyata jantung bagus dan tidak ada masalah,” terangnya.

Irsyad menyebut, penyakit jantung bisa terjadi selain karena faktor usia, juga karena faktor luar. Misalnya, merokok dan pola makan yang kurang tepat.

“Karena faktor usia, saya diimbau tidak olahraga yang memacu adrenalin. Padahal saya sukanya sepak bola. Kata dokter gak apa-apa. Tapi hanya boleh main 5 sampai 10 menit saja,” ceritanya.

Irsyad sendiri mengaku akhirnya introspeksi setelah ambruk. Paling tidak, harus istirahat seminggu sekali untuk bisa melepas penat.

Irsyad pun mengaku, kejadian kemarin membuatnya punya kesempatan untuk mendeteksi kondisi jantung. “Jadi hikmahnya bisa terdeteksi kondisi jantung saya. Alhamdullah baik. Tapi tetap menjaga pola hidup sehat itu penting. Mulai pola makan, istirahat, sampai pola tidur dan olahraga,” terangnya.

Bupati pun mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur yang membantu memfasilitasi, sehingga bisa ditangani dengan cepat.

“Insyaallah satu atau dua hari ini sudah mulai beraktivitas. Bahkan, kalau besok (hari ini, Red.) kuat, rencananya akan datang juga di acara Sholawat Habib Syeh. Doakan saja,” ujarnya. (eka/fun)