Inilah Tragedi Korban Kerusuhan Wamena yang Berhasil Pulang ke Probolinggo

Kerusuhan yang pecah di Wamena membuat warga pendatang yang bekerja di sana menjadi waswas. Tak sedikit yang akhirnya pulang ke kampung halaman, walau ada yang memilih bertahan. Inilah cerita mereka selama berada di Papua, hingga kemudian memilih pulang.

—————–

Di antara yang berhasil pulang tersebut adalah Abdur Rohman, 30 dan Abdul Ghofur, 40. Keduanya adalah warga Dusun Krajan, Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Keduanya berhasil pulang setelah beberapa hari menunggu antrean tiket pesawat komersial.

Saat ditemui di rumahnya, sikap tegang masih terlihat dari wajah Abdur Rohman. Begitu juga saat dia kembali menceritakan peristiwa penyerangan terhadap rekan, pembakaran kontrakan, kios, dan kendaraannya tatkala pecahnya kerusuhan di Wamena, Senin (23/9).

Abdur Rohman mengaku, dia tinggal di Jalan Yos Sudarso, Kota Wamena. Dia merasakan begitu mencekamnya tatkala peristiwa itu terjadi. Peristiwa itu diawali dengan kerusuhan antara dua sekolah yakni sekolah menengah atas yang berada di sana.

“Setahu saya kerusuhan itu terjadi antara dua sekolah menengah atas yang ada di sana. Saat itu sudah ada Polisi dan TNI yang mengamankan. Namun, entah kenapa tiba-tiba merembet pada perusakan dan yang jadi sasaran warga pendatang,” ujarnya.

Saat itu masih pukul 08.30 WIT, ketika aktivitas warga masih baru dimulai. Tidak ada tanda-tanda peristiwa mencekam akan terjadi. Rohman masih berada di rumahnya hendak berangkat kerja. Tiba-tiba datang segerombolan murid SMA akan tawuran.

TERLUKA: Abdul Ghofur menunjukkan luka di tangannya akibat terkena seng saat kabur dari aksi anarkistis warga saat kericuhan terjadi. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

 

Entah apa penyebabnya, tawuran tersebut tidak hanya melibatkan dua murid SMA. Tapi juga warga lokal yang ikut turun berbaur dalam tawuran itu. Hingga kemudian pecah kerusuhan. Kerusuhan itu kemudian merembet pada penyerangan, perusakan, hingga pembakaran fasilitas umum serta perkantoran.

“Seketika itu saya berlari, mencari anak dan istri yang berada di sekolah. Kemudian menyelamatkan diri, mengungsi ke Masjid Agung,” ujarnya sedikit gemetar.

Pemuda yang disapa Rohman ini di Wamena bekerja di MUI Kota Wamena sekaligus takmir Masjid Agung. Dia menceritakan saat kerusuhan terjadi, tiap hari memandikan 4-5 jenazah korban kerusuhan.

“Saat kerusuhan terjadi 4-5 jenazah saya mandikan, termasuk jasad rekan seperantauan saya Sofyan dan Subahan. Hati saya seperti teriris ketika memandikan jasad itu, terdapat beberapa luka menganga di tubuhnya,” ujarnya.

Pemuda ini pun mengatakan jika salah satu motor yang baru dia beli, dibakar oleh warga. Kemudian dia bertekad dan berusaha mencari cara untuk bisa pulang. Rela mengantre tiket pesawat komersial yang bisa membawanya pulang ke kampung halaman.

“Motor saya dibakar oleh mereka. Tapi saya masih bersyukur bisa pulang dengan selamat bersama anak dan istri. Kami terpaksa mengutang kepada saudara untuk biaya pulang. Karena sudah tak sempat memikirkan barang yang akan dibawa,” pungkasnya.

Insiden mengharukan juga dialami Abdul Ghofur. Selama di Wamena, dia tinggal di Jalan Hom-Hom, Kota Wamena. Saat kerusuhan pecah, pagi itu sedang melakukan servis mobil miliknya. Karena warga yang ikut kerusuhan semakin banyak, maka dirinya masuk ke dalam kontrakan dan mengunci pagar.

“Saat itu warga banyak yang datang. Saya kunci pagar dan masuk ke dalam kontrakan untuk berjaga-jaga, khawatir masuk ke dalam,” ujarnya.

Ternyata prediksinya benar, rumah kontrakannya menjadi sasaran amukan warga. Banyaknya massa yang datang ke kontrakan menggedor gerbang dan memaksa masuk. Dia bersama 25 orang lainnya menyelamatkan diri melalui pintu belakang yang terbuat dari seng.

Saat itu dia berlari ke Mapolsek Wamena Kota. Dalam upaya menyelamatkan diri, tangan kanan Abdul Ghofur terkena seng sehingga mengalami luka.

Saat kerusuhan pecah di Wamena, Abdul Ghofur nyaris menjadi korban. Kontrakannya tiba-tiba diserang. Mobil miliknya yang diparkir di dekat kontrakan, jadi sasaran pembakaran.

“Kami menyelamatkan diri karena mereka banyak. Kami kocar-kacir. Saya berlari dan di tengah pelarian saya tercebur di kubangan hingga sandal saya tak bisa diambil. Akhirnya saya terus berlari sampai ke Mapolsek Kota Wamena,” ujarnya.

Ghofur mengatakan, jika usaha pulang yang dilakukannya juga tak mudah. Memang dia bisa pulang dengan menggunakan pesawat komersial. Hanya saja, dia harus menunggu selama 3 hari untuk mendapatkan tiket.

“Saya tak sempat membawa apa-apa. Hanya pakaian yang melekat dan satu tas kecil. Untung ada sebuah ATM yang nominalnya masih bisa digunakan untuk membeli tiket pesawat,” jelasnya. (ar/fun)