Gelombang Pertama Pengungsi Wamena asal Probolinggo-Pasuruan Tiba, Hanya Bawa Baju Melekat di Tubuh

SENANG: Salah satu keluarga menyambut dan langsung menyalami, setelah tiba Rabu (2/10) malam. Mereka bersyukur masih bisa selamat dari kericuhan di Wamena. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Gelombang pertama pengungsi Wamena asal Jawa Timur mulai pulang ke kampung halaman. Selain memakai dana pribadi, kemarin ratusan pengungsi pulang usai Pemprov Jatim turun tangan. Dari ratusan pengungsi yang pulang, puluhan di antaranya berasal dari Pasuruan dan Probolinggo.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, kemarin ada sekitar 120 jiwa yang dipulangkan dari Wamena. Mereka mayoritas berasal dari Pasuruan, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Sampang. Mereka dijemput Pemprov usai terbang dengan mengendarai pesawat Hercules dan turun di Bandara Abdurrahman Shaleh, Malang sekitar pukul 15.30.

Sesampainya di Malang, kemudian mereka disambut oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Bakorwil Malang. “Mereka di sana disambut gubernur. Kemudian diistirahatkan usai makan dan minum, serta diberikan bantuan uang untuk pulang,” ujar Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Achmad Arief.

Dari hasil pendataan Pemprov Jatim, ada puluhan orang yang berasal dari Pasuruan dan Probolinggo. Rinciannya, 32 warga Kabupaten Probolinggo, 2 warga Kota Probolinggo, dan 19 jiwa dari Kabupaten Pasuruan. Jumlah tersebut masih sementara karena sampai tadi malam mereka masih didata. Begitu juga dengan pengungsi Wamena yang masih bertahan di sana.

Begitu selesai didata, mereka dipulangkan ke daerah masing-masing dengan menggunakan Elf. Untuk pengungsi asal Kabupaten Probolinggo, mereka langsung diantar ke kantor Kecamatan Dringu. Mereka tiba sekitar pukul 20.30. Tak banyak barang yang mereka bawa. Rata-rata bahkan hanya membawa baju yang melekat di tubuh.

Sampai di kantor Kecamatan Dringu, para pengungsi disambut keluarga maupun perangkat desa. Mereka begitu lega saat sampai di kampung halaman. Tak sedikit ada yang menangis terharu karena senang bisa sampai dengan selamat.

Menurut Achmad Arief, pemulangan kemarin merupakan gelombang pertama yang dilakukan oleh Pemprov Jatim. “Pemulangan ini akan terus dilakukan sampai semua warga Probolinggo yang di Wamena selesai dievakuasi,” jelasnya.

PULANG KAMPUNG: Warga Kabupaten Probolinggo yang baru pulang dari Wamena, ketika tiba di kantor Kecamatan Dringu Rabu (2/10) malam. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejauh ini, Pemkab Probolinggo juga belum bisa memastikan, ada berapa warga Kabupaten Probolinggo yang masih ada di Wamena. Sebab, mereka tak terdata dengan pasti. Tidak seperti Tenaga Kerja Indonesia legal yang bisa terdata di Dinas Tenaga Kerja.

Selama ini mereka yang ke Wamena hanya mengandalkan paguyuban yang sudah terbentuk di sana. Di Wamena maupun Jayapura, mereka bekerja dan sesekali berkumpul bersama rekan satu paguyuban. Dari informasi awal, masih ada ratusan warga Kabupaten Probolinggo yang ada di Wamena.

Namun, saat kericuhan pecah dan mereka menjadi pengungsi, tak ada yang bisa memastikan berapa jumlah warga Kabupaten Probolinggo di Wamena. Mereka memilih menyelamatkan diri dan pulang secepatnya. Mereka yang pulang dengan dana pribadi adalah warga yang beruntung dan masih memiliki tabungan.

Hal yang sama juga dialami warga Kabupaten Pasuruan. Dinsos menjemput pengungsi yang dipulangkan dan turun di Abdurrahman Saleh Malang. Sampai berita ini diturunkan, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pasuruan sedang proses penjemputan di Malang.

Akhwan Husein, kasi Perlindungan Sosial dan Korban Bencana Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan mengatakan, bahwa pengungsi asal Pasuruan langsung dibawa ke Kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Malang di Jalan Simpang Ijen, Kota Malang.

“Ini masih dalam perjalanan. Kalau dalam info awal 2 warga, tapi juga ada info 19 yang dipulangkan. Ini masih akan kami jemput dan lakukan pendataan,” terangnya tadi malam.

Akhwan mengatakan bahwa sebelumnya memang ada 2 warga Nguling yang meninggal karena kerusuhan di Wamena. “Saat proses pemulangan jenazah tersebut, memang dari provinsi langsung diantarkan ke rumah, tidak melalui Dinsos dulu,” terangnya.

Sedangkan untuk pemulangan pengungsian kemarin, provinsi berkoordinasi dengan Dinsos di daerah untuk pemulangan dari bandara ke rumah warga. Akhwan mengatakan untuk pengungsi yang pulang ini dipastikan dalam keadaan sehat.

“Jadi, mereka memang bekerja merantau ke sana dan sudah lama bekerja di sana, tapi KTP masih dari Kabupaten Pasuruan,” terangnya.

Dinsos sendiri belum bisa memastikan apakah warga yang dijemput ini akan langsung dipulangkan ke rumahnya atau dibawa ke Rumah Singgah Dinsos dulu untuk dilakukan assessment sebelum dipulangkan ke rumahnya.

“Kami masih koordinasikan dulu, nanti kalau sudah sampai baru dikoordinasikan dengan Provinsi seperti apa teknik pemulangannya,” terangnya. (eka/fun)