Pulangkan Warga Leces di Wamena, Pemkab Koordinasi dengan Pemprov

LECES, Radar Bromo – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Probolinggo memastikan, pihaknya berupaya untuk memulangkan warga kabupaten yang terjebak di Wamena, Kabupaten Jayapura, Papua. Saat ini Dinsos tengah koordinasi dengan Pemprov Jatim untuk memulangkan mereka.

Penegasan ini disampaikan Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo Achmad Arief. Menurutnya, pihaknya sudah mendengar ada warga kabupaten (Leces, Red) yang terjebak dalam kerusuhan di Wamena. Karena itu, pihaknya tidak tinggal diam.

“Kami akan memulangkan mereka. Namun, harus ada data pasti warga kabupaten yang ada di sana. Data ini yang masih kami upayakan. Kalau sudah ada data, kami teruskan ke Pemrov Jawa Timur. Sebab, pemulangan harus lewat pemprov,” ujarnya.

Untuk mendapatkan data itu, saat ini pihaknya berkoordinasi dengan Kecamatan Leces. Pihak kecamatan sendiri, sedang berkoordinasi dengan desa-desa yang warganya merantau ke Wamena.

Di sisi lain, menurutnya, saat ini Dinsos Pemprov Jatim telah mengirim petugas ke Wamena untuk mendata warga Jawa Timur yang merantau di sana. Setelah pendataan dilakukan, baru mereka akan dipulangkan ke Jatim melalui Bandara Juanda, Surabaya.

“Untuk menjemput warga di Bandara Juanda, nanti Pemprov Jatim menyurati pemerintah kabupaten/kota agar menjemput warganya,” terangnya.

 

Sebagian Ngungsi ke Jayapura

Sementara itu, Wakil Ketua Kepala Suku Jawa Madura di Wamena Suharyadi menjelaskan, saat ini kondisi Wamena sudah kondusif. Namun, warga suku Jawa Madura yang ada di sana, tidak mau lagi kembali ke Wamena. Mereka masih dihantui rasa takut dan trauma pasca kerusuhan.

Adapun warga suku Jawa Madura yang dimaksud Suharyadi, berasal dari empat daerah di Jawa Timur. Yaitu, warga dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Madura. Dari Probolinggo sendiri, terdata ada sekitar 500 warga Leces yang tinggal di Wamena. Namun, jumlah ini belum pasti.

“Mereka yang selamat dihantui ketakutan. Banyak yang minta dipulangkan. Namun, mereka tidak punya uang. Sebab, saat kerusuhan terjadi, mereka tidak menyelamatkan harta benda. Yang penting bagaimana caranya selamat,” ujarnya.

Ditambahkan Suharyadi, saat ini sebagian besar warga suku Jawa Madura mengungsi ke Jayapura. Mereka terbang dari Wamena menggunakan pesawat Hercules. Sesampainya di Jayapura mereka menunggu kepastian nasib.

“Mereka yang sampai di Jayapura masih menunggu. Bagi yang ada sisa uang, langsung terbang menggunakan pesawat komersial. Kalau yang sudah tidak punya apa-apa, ya menunggu. Entah menunggu kiriman dari saudara atau bantuan dari yang lain,” pungkas warga Jorongan yang sudah 19 tahun merantau di Wamena ini.

Menurutnya, saat kerusuhan Wamena pecah, warga pendatang menyelamatkan diri masing-masing. Ada yang ke Kodim, Polres, dan Masjid. Sementara harta benda mereka, seperti kios dan rumah banyak yang dibakar dalam kerusuhan itu.

Suharyadi yang bekerja sebagai pemborong di Wamena itu mengatakan, telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak di Wamena. Seperti ketua gereja, putra daerah, dan kepala suku lain. Tujuannya, untuk mencegah kerusuhan tidak berkepanjangan.

“Saat ini situasi memang sudah kondusif. Kami sudah bertemu dan duduk bersama. Saat pertemuan, semua yang hadir berkomitmen akan menjaga keadaan agar tidak terjadi kerusuhan susulan,” tegasnya.

Namun, walaupun sudah kondusif, warga pendatang yang masih tersisa di Wamena meminta pulang. Mengingat kerusuhan yang terjadi merupakan aksi penyerangan yang dilakukan secara tiba-tiba.

“Kami tidak bisa memaksa mereka untuk tetap di Wamena. Mereka banyak yang memaksa pulang. Entah bagaimana caranya. Saat ini mereka hidup dengan seadanya,” ujarnya. (ar/hn)