Slamet Sakera, Maestro Lukis Asal Pandaan yang Belajar Otodidak di Ponpes

Nama Aslinya Muhammad Slamet. Namun, dia lebih dikenal dengan sebutan Slamet Sakera. Bagi para seniman di Pasuruan, dia dikenal sebagai maestro lukis asal Pandaan.

————–

Melukis bagi Muhammad Slamet alias Slamet Sakera adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Terutama melukis kaligrafi dan surealis.

Total karya lukis yang dibuatnya mencapai ratusan selama 34 tahun bergelut di dunia seni lukis. Dia pun aktif ikut pameran lukis di Jatim, Jogjakarta, Bandung, Semarang, dan Jakarta. Bahkan, hingga menginjak usia lebih dari 50 tahun.

Tidak heran, oleh koleganya sesama pelukis, dia dijuluki maestro lukis asal Pandaan. Disebut maestro karena Slamet produktif sekali melukis. Saat ini dia tinggal di Lingkungan Sidomukti, Kelurahan/Kecamatan Pandaan.

Pada tahun 2015, Slamet sempat membuka galeri lukis sendiri di tepi jalan, Desa Gambiran, Kecamatan Prigen. Namun, galeri itu bertahan setahun saja. Setelah itu. semua aktivitas melukis dipusatkan di rumahnya.

Jika melihat hasil lukisannya saat ini, tidak ada yang menyangka bahwa suami dari Nuril Faiqoh itu belajar melukis secara otodidak. Awalnya, bapak tiga anak itu hanya coba-coba.

Namun, di sinilah dia kemudian menemukan jiwanya. Sehingga, melukis pun terus digelutinya sampai saat ini. Walaupun memang, aktivitasnya tidak seaktif saat muda.

“Saya belajar melukis secara otodidak. Mulai belajar saat nyantri di Ponpes Mambaul Ulum, Bata-bata, Pamekasan. Awalnya coba-coba, akhirnya Alhamdulillah bisa,” ucapnya.

Selama belajar otodidak, Slamet dibantu teman satu kamarnya yang seorang pelukis. Karena motivasi dari temannya itu, ia terus semangat belajar melukis. Bahkan, hampir tiap hari Slamet melukis. Objeknya yaitu kaligrafi yang kemudian menjadi spesialisasinya.

Selesai mondok di pesantren, Slamet pun pulang ke Pandaan. Di Pandaan, dia semakin aktif mengeluti dunia lukis. Bahkan, Slamet mulai melayani pesanan dari pembeli, juga kolektor.

Tidak hanya itu, dia pun mulai aktif mengikuti pameran lukis bersama para seniman lukis asal Pasuruan dan daerah lainnya.

Bagi Slamet, melukis itu mudah. Siapa saja bisa, asalkan mau belajar dan telaten. Itulah yang selalu ditularkan pada para seniman muda di Pasuruan. Sehingga, mereka bisa terus bersemangat melukis.

Slamet sendiri, bisa membuat satu lukisan dalam waktu hitungan jam. Paling lama, dia butuh tiga hari untuk menyelesaikan satu lukisan.

Baginya, dunia melukis merupakan mata pencaharian utamanya. Termasuk untuk menghidupi kebutuhan istri dan anak-anaknya sehari-hari.

Sekitar tahun 2005, Slamet menekuni lukis aliran surealis, selain kaligrafi yang menjadi spesialisasinya. Dan hingga kini, dia pun mampu melukis surealis, sebaik melukis kaligrasi.

Kini bakat dan keahliannya menurun pada anak keduanya, Salman Alfarisi, 21. Salman yang seorang mahasiswa dan kuliah di Surabaya itu, kini mulai aktif melukis.

“Lukisan kaligrafi karya saya punya ciri khas tersendiri. Di antaranya, ada batu-batuan mesir kuno dan tampilannya tampak tiga dimensi. Medianya pakai kanvas. Kalau surealis bebas, tidak ada pakem dan ciri khusus,” tutur penyuka kopi hitam ini.

Dari sekian banyaknya karya lukis yang pernah dibuatnya ini, lukisannya yang paling mahal seharga Rp 20 juta. Yaitu sebuah lukisan kaligrafi yang dibeli dua kolektor. Masing-masing harganya Rp 20 juta.

Sementara lukisan yang lain, harga jualnya relatif standar. Yaitu di kisaran Rp 1 juta – Rp 5 juta. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. (zal/fun)