Festival Perahu Dayung di Kalianyar Bangil yang Mati Suri Selama Puluhan Tahun

Selama puluhan tahun mati suri, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, menggelar lagi festival perahu dayung. Tahun ini, festival dayung digelar bersamaan dengan HUT Kabupaten Pasuruan. Ada keinginan untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda budaya tahunan. Seperti, puluhan tahun lalu.

ERRI KARTIKA, Bangil, Radar Bromo

Keringat berucucuran di wajah Lia Warokah, 32, warga Kalianyar, Kecamatan Bangil ini. Nafasnya ngos-ngosan. Satu botol air mineral hampir habis diteguknya.

Perempuan yang juga sebagai guru TK Kalianyar ini mengaku kecapekan setelah mendayung di Sungai Kalianyar, Bangil. Namun, karena berhasil menang dan lolos ke final, rasa capeknya terbayar.

Cuapeekk. Badan pegel semua, tapi senang ternyata menang dan lolos final,” ujarnya.

Lia bersama 11 perempuan lain yang masuk dalam Tim Fatayat Ranting Kalianyar adalah satu dan delapan tim perempuan yang ikut festival perahu dayung di Kalianyar, Kecamatan Bangil, Sabtu (28/09). Awalnya, perempuan hanya diajak untuk memeriahkan festival dayung ini.

“Tapi ternyata antusias perempuan yang ikut juga tinggi. Sampai ada delapan tim. Akhirnya, dilombakan juga,” terangnya.

Sabtu (28/9), ratusan warga Kalianyar dan sekitarnya datang berbondong-bondong melihat festival perahu dayung yang digelar pada 26, 28 dan 29 September. Warga antusias, karena sudah puluhan tahun festival ini tak lagi digelar di Kalianyar.

“Dulu saya ingat festival dayung di Kalianyar ini ada tahun 1980-an. Tapi lalu vakum, nggak pernah ada lagi. Dan sekarang digelar lagi dan didukung Pemkab Pasuruan masuk agenda HUT Kabupaten Pasuruan,” terang Sholkah, 50, warga Kalianyar yang juga panitia festival perahu dayung Kalianyar.

Sholkah menyebut, dulu festival dayung ini rutin diadakan di Kalianyar. Saat itu festival dayung terakhir kali digelar pada tahun 1980-an. Yang dipakai perahu kecil untuk nelayan mencari ikan. Satu perahu biasanya diisi tiga orang.

“Setelah itu tidak ada lagi. Apalagi perlahan nelayan di Kalianyar juga menyusut. Termasuk kondisi sungai juga makin dangkal, banyak endapan dan sampah. Jadi sudah lama nggak pernah ada lagi festival dayung di sini,” terangnya.

Saiful Anwar, ketua panitia Festival Perahu Dayung mengatakan, Kalianyar memang kembali menggelar festival yang lama mati suri ini. Untuk perahu difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan.

“Perahu sudah ada di sini dua minggu lalu. Jadi, tim yang mau ikut bisa latihan sebelum festival diadakan,” terangnya.

Tercatat ada 32 tim laki-laki yang ikut serta. Satu tim ada 12 orang. Warga yang ikut pun dari kecamatan. Selain warga kalianyar, Bangil juga ada peserta dari pesisir lain. Mulai di Semare, Kraton, Grati sampai Lekok.

“Juga ada tim perempuan warga pesisir. Mereka sangat antusias ikut. Jumlah timnya juga lumayan. Ada delapan tim yang ikut,” terangnya.

Ainul Wafa, sekretaris panitia mengatakan, lomba berlangsung dengan sistem gugur. Untuk lintasan tim laki-laki sepanjang 300 meter dan perempuan separonya.

Tidak hanya peserta. Warga yang menonton acara ini, juga sangat antusias. Bahkan, selama acara banyak penjual makanan dan minuman yang berjualan. Ada dari PKL, juga UKM.

Melihat antusias itu, panitia pun berkeinginan agar festival ini digelar rutin tahunan. Bahkan, jika bisa jadi agenda budaya setiap tahun.

“Kami ingin diagendakan rutin lagi. Karena ini budaya pesisir di sini.Harapan bisa kami jadikan wisata juga,” terangnya.

Di sisi lain menurutnya, festival perahu dayung ini diharapkan membentuk kesadaran warga agar tidak lagi membuang sampah di sungai. Sebab, endapan sampah membuat sungai dangkal. Sehingga, tidak akan bisa dijadikan lintasan untuk festival.

Sebelum festival digelar, sungai di Kalianyar ini dinormalisasi. Karena itu, bisa dipakai untuk festival dayung. Selain airnya tinggi, sungai bersih dari sampah. Sehingga bisa menjadi wisata budaya bagi Kabupaten Pasuruan.

Asmaniah, 50, salah satu warga Kalianyar mengaku senang festival perahu dayung kembali diadakan di desanya. “Dulu kegiatan ini rutin digelar. Kalau sekarang ada lagi, ya senang. Apalagi yang ikut dan yang lihat ternyata ramai,” tuturnya.

Dia berharap, festival dayung ini bisa diadakan rutin setiap tahun. Dan menjadi festival budaya pesisir Kabupaten Pasuruan. (hn)