Dua ABK Meninggal di Perairan Probolinggo  

DIDUGA SAKIT: Evakuasi Billy Olliq Wanggai saat jenazahnya tiba di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, Minggu siang (22/9). (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN, Radar BromoDiduga sakit, dua anak buah kapal (ABK) meninggal di tengah laut di perairan Probolinggo. Kedua ABK dari kapal yang berbeda  ini meninggal selang sehari.

Awalnya, Billy Olliq Wanggai, 28, meninggal Sabtu (21/9) malam. Warga Jl Sulawesi 1, No 8, Dok VII, Kelurahan Mandala, Kecamatan Jayapura Utara, Jayapura, itu meninggal saat perjalanan menuju PPI Mayangan, Kota Probolinggo.

Kepala Pos Kamladu Mayangan di Jajaran Pangkalan TNI-AL Banyuwangi Lettu Laut (E) Yugo Dharma mengatakan, sekitar dua bulan lalu, Billy sakit. Saat itu, KM Udang Sari tempat Billy bekerja sedang berada di tengah laut untuk menangkap ikan.

Ikan hasil tangkapan KM Udang Sari lantas dikirim ke darat menggunakan kapal pengangkut ikat, KM Rahmatika. Saat itulah, Billy dititipkan ke KM Rahmatika. Harapannya, Billy segera mendapat perawatan medis di darat.

Sayangnya, Billy mengembuskan napas terakhir Sabtu malam sebelum kapal sampai di Dermaga Tanjung Tembaga, Mayangan. Kapal baru tiba di dermaga pukul 13.20, Minggu (22/9). Jenazah Billy dibawa dengan ambulans milik kantor kesehatan pelabuhan ke kamar mayat RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo.

“Informasi yang kami terima, ABK ini meninggal lantaran sakit. Namun sakit apa, belum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lantaran jenazah baru datang,” terang Lettu Laut (E) Yugo Dharma.

Sementara itu, ABK KM Rahmatika yang enggan namanya dikorankan mengatakan, saat dipindah dari KM Udang Sari, Billy sadar. Namun, satu hari setelahnya, Billy tidak sadarkan diri.

“Jadi, katanya mulai dua bulan lalu ia sudah sakit. Selanjutnya pada saat kami bawa pulang, dia sudah tidak sadarkan diri,” bebernya.

Namun, lelaki ini tidak tahu persis posisi Billy meninggal. Menurutnya, yang mengetahui hal tersebut adalah kapten atau nakhoda kapal. Sayangnya, saat sejumlah awak media mendatanginya, nakhoda tersebut belum mau dikonfirmasi. “Nanti saja ya. Ini ada hal yang jauh lebih penting,” terangnya.

SAKIT DI DADA: Proses evakuasi Nurul Hidayat, ABK KM Dewi Mulya di pelabuhan perikanan pantai Mayangan. (Rizky Putra Dinasti/ Radar Bromo)

Setelah Billy meninggal Sabtu (21/9), seorang ABK KM Dewi Mulya juga meninggal. Dia adalah Nurul Hidayat, 25, warga  Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Korban meninggal pukul 13.00, Minggu (22/9) di laut sekitar pulau Madura. Jenazahnya tiba di Pelabuhan Pantai Mayangan, Kota Probolinggo, pukul 17.00.

Nasiri, 52, nakhoda KM Dewi Mulya menjelaskan, korban mengaku sakit di dada. Karena itu, kapal jonggrang itu putar arah untuk pulang. Sayangnya, dalam perjalanan pulang sekitar pukul 13.00, korban meninggal.

Pihaknya langsung mengabari keluarga korban. Sehingga, di sekitar PPI ramai warga menyambut jenazah korban.

“Pada saat dibawa pulang lantaran ia mengaku sakit di dadanya. Dia meninggal sekitar pukul 13.00,” singkat Nasiri.

Sempat ada tudingan korban sakit dada karena tertimpa gardan kapal. Namun, hal itu disanggah KBO Polairud Polres Probolinggo Ipda Suyono.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, menurutnya, korban meninggal karena sakit. Namun, pihak keluarga enggan korban divisum.

“Hasil keterangan sementara, korban meninggal lantaran sakit. Selain itu, pihak keluarga tidak berkenan korban divisum,” tambahnya.

Ketua Himpunan Kapal Cantrang Kota Probolinggo Zainul Fatoni memastikan, korban meninggal akibat kelelahan. “Jadi, sakit pada dadanya akibat kelelahan. Itu, keterangan sejumlah ABK dan nakhoda,” tambahnya.

Lantaran tidak ada tindak kekerasan serta pihak keluarga sudah merelakan, maka korban tidak divisum. “Jadi, pihak keluarga sudah memastikan tidak ada tindak kekerasan. Sehingga, pihak keluarga tidak mau korban divisum,” bebernya.

Ke depan ia berharap, setiap ABK yang hendak melaut dipastikan kondisi kesehatannya. “Jika sedang sakit, pemilik dan nakhoda harus memakluminya, jadi tidak diajak melaut lebih dulu,” pungkasnya. (rpd/hn)