Disiapkan jadi Sarana Tansportasi Ibukota Kabupaten, Angkot di Kraksaan Sepi Peminat

KRAKSAAN, Radar Bromo– Hal itu diungkapkan Kepala Dishub setempat Heri Sulistyanto. Menurutnya, sejak sebulan terkahir, ada uji coba angkot di Kota kraksaan. Namun, setelah dievaluasi, enam angkot yang sebelumnya angdes itu sepi penumpang. Karena hal itu, lantas angkot yang sebelumnya memiliki trayek Pajarakan Gending itu kembali semula.

“Memang sepi. Makanya banyak angdes balik kandang ke pos mereka sebelumnya. Ada yang di Pajarakan dan Gending,” katanya.

Karena itu, berupaya mencari solusi. Bisa jadi nantinya akan menerapkan seperti sistem ojek online yang saat ini sedang digandrungi warga. Sehingga, masyarakat termudahkan oleh layanan angkot itu.

“Apakah itu nanti aplikasi atau bagaimana, kami belum tahu. Tetapi, yang pasti kami lakukan kajian yang mendalam untuk angkot. Mudah mudahan ada solusi terbaik,” ujar pria yang akrab disapa Heri itu.

Uji coba enam angdes menjadi angkot sudah dilakukan Dishub beberapa waktu lalu. Rutenya,  menghubungkan fasilitas publik, mulai pasar tradisional, sekolah hingga kantor pemerintahan.

Penerapan angkot dilakukan karena sejak ditetapkan sebagai ibu kota kabupaten pada tahun 2011 lalu, di Kraksaan belum ada angkot. Karena itu, Dishub membuka trayek baru sebagai salah satu tranportasi publik.

Angkot yang beroperasi saat hanya satu rute atau line. Yakni melewati pasar Semampir, BLK, hingga tembus ke RSUD Waluyo Jati. Kemudian, akan dilanjutkan menuju stadion, kantor bersama Samsat lalu ke kantor Bupati Probolinggo dan berakhir ke pasar Semampir lagi.

Kendaraan yang beroperasi sebagai angkot tersebut sampai saat ini ada enam unit. Semua kendaraan bukan angkot baru, melainkan angdes yang biasa beroperasi di Pajarakan dan berakhir di rute pasar Semampir.  Tarifnya yang akan diterapkan ada angkot bisa dikatakan lebih murah dengan mode tranportasi lain, yakni Rp5 ribu untuk dewasa dan Rp2.500 untuk pelajar. (sid/fun)