Pelajar di Probolinggo Ini Urunan untuk Pesta Miras, Diciduk Satpol PP

DIBINA: Puluhan remaja mendapatkan pembinaan di Kantor Satpol PP Kota Probolinggo, Sabtu (14/9) malam. Dari 39 remaja ini, 17 di antaranya tercatat masih pelajar. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN, Radar Bromo – Seorang pemuda berinisial NG, 22, mendadak ngamuk di depan Kantor Satpol PP Kota Probolinggo, Sabtu (14/9) malam. Warga Desa Kropak, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, itu tak terima direkam para pewarta.

NG diamankan Satpol PP setelah terjaring operasi di Gladak Serang, Kota Probolinggo. Dia bersama puluhan pemuda lainnya diangkut ke kantor Satpol PP. Namun, ketika diturunkan dari mobil, NG langsung mendekati sejumlah pewarta yang sedang liputan.

Dengan kasar, NG meminta pewarta tidak merekam dirinya. Namun, permintaan ini tak digubris jurnalis. Karenanya, NG nekat mendorong awak media hingga terjadi ketegangan. Bahkan, dia sempat memegang kerah baju salah satu pewarta dan berusaha memukulnya. Beruntung, anggota Satpol PP berhasil menghalaunya.

Namun, NG terus berusaha meronta. Ketika hendak dikeler ke ruang utama tempat pemuda lainnya dikumpulkan, NG melawan petugas. Dia baru bertekuk lutut setelah diamankan oleh empat petugas. “Pemuda itu langsung minta maaf. Katanya bersikap begitu karena pengaruh minuman. Tapi dari awal memang dia seperti jagoan,” ujar salah seorang pewarta, Taufik.

Kejadian mengagetkan juga terjadi di barat rel kereta api Pasar Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Seorang remaja mendadak tersungkur di pinggir jalan. Remaja yang hendak berpesta minuman keras (miras) ini, siuman setelah diangkat oleh rekan-rekannya.

Dia pun mendapat perlakuan khusus dari petugas. Diduga, remaja itu memilik penyakit epilepsi. “Saya diajak teman-teman. Saya dan teman-teman belum minum. Baru datang, kemudian Bapak datang,” ujarnya kepada anggota Satpol PP.

Sedangkan, Timah, orang tua remaja yang diduga memiliki penyakit epilepsi itu mengaku, tidak tahu jika anaknya menderita penyakit tersebut. Sebab, sebelumnya belum pernah mengalami kejadian serupa. Namun, ia mengaku menjaga putranya lebih intensif. “Saya tidak tahu anak saya punya penyakit. Nanti saya periksakan ke dokter,” ujarnya.

Keduanya merupakan bagian dari 39 remaja yang diamankan Satpol PP. Dari 39 remaja itu, ada 26 yang diketahui pesta miras, 3 pengamen, dan 3 pasangan remaja ketahuan berpacaran di Taman Maramis. Mirisnya, dari 26 remaja yang berpesta miras, 17 di antaranya masih pelajar.

Kasi Operasi Dinas Satpol PP Kota Probolinggo Hendra Kusuma mengatakan, mereka yang terjaring operasi diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulang perbuatannya. Serta, dipanggil kedua orang tua agar mendapat pembinaan lebih baik. “Mereka dikembalikan kepada orang tuanya,” ujarnya.

Perlakuan yang sama juga terjadi terhadap 17 pelajar. Dari catatan Satpol PP, mereka ada yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Bahkan, ada empat pelajar madrasah tsanawiyah nekat urunan demi bisa membeli dan berpesta miras.

Kepada petugas, mereka mengaku urunan Rp 5 ribu untuk membeli sebotol miras. Urunan itu mereka peroleh dari hasil menabung uang jajan yang diberikan orang tuanya ketika bersekolah. “Saya beli arak dari uang tabungan, Pak. Saya nabung untuk beli arak,” ujar salah satu pelajar kepada petugas. (rpd/rud)