Sisi Lain Karapan Sapi Brujul dan Animo Penggemarnya

Karapan Sapi Brujul kini menjadi warisan budaya tak benda Kota Probolinggo. Seni tradisi ini memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak muda. Karapan ini berbeda dengan yang ada di Madura.

————–

Siang itu, terik matahari begitu terasa di lapangan Karapan Sapi Brujul di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih. Di lapangan yang sempat menjadi agenda menarik saat pelaksanaan Semipro lalu, mendapat animo begitu tinggi. Ini ditandai banyaknya penonton yang hadir di sana.

Panasnya matahari juga tak menyurutkan penggemar Karapan Sapi Brujul. Baik lelaki maupun perempuan, nampak menyemut di sekitar lapangan sapi. Meski banyak dari mereka menggunakan berbagai alat pelindung diri, supaya tak terkena sengatan matahari. Seperti payung, topi, bahkan menutupi wajahnya dengan kaos tebal.

Mereka nampak menikmati kegiatan pertandingan balapan sapi tradisional yang telah menjadi warisan budaya tak benda dari Kota Probolinggo.

Di antara ratusan penggemar tradisi tersebut, tidak hanya yang sekadar datang untuk menonton. Ada juga yang ikut membantu dalam kegiatan lomba tersebut. Seperti menjadi petugas untuk menjaga sapi brujul, agar tidak berlari sebelum lomba dimulai. Mereka yang bertugas untuk menghalangi sapi-sapi itu tidak hanya laki-laki dewasa. Ada juga remaja berusia belasan tahun yang ikut membantu.

Untuk membantu mencegah sapi brujul lari sebelum waktu ditentukan, tidak hanya dilakukan oleh 1-2 orang saja. Namun ada yang sampai ditahan 6 orang sekaligus.

Salah satunya Slamet, 15, asal Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih. Remaja ini menggemari karapan sapi brujul. Bahkan dia termasuk ikut serta menahan beberapa sapi yang akan dilombakan agar tidak lepas sebelum waktu lomba dimulai.

Wajah dan sekujur tubuhnya telah belepotan lumpur. Meskipun kotor, Slamet tidak merasa risih dan khawatir sama sekali. Bahkan di sela-sela kegiatannya menahan beberapa ekor sapi, dia masih menyempatkan diri untuk bersenda gurau dengan teman-temannya.

BERBEDA: Lapangan sapi brujul di Jrebeng Kidul. Karapan Sapi Brujul berbeda dengan Karapan Sapi Madura, salah satunya lintasan yang penuh lumpur dan air. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

“Sudah lama suka sapi brujul. Dulu waktu masih kecil sering tetangga yang punya sawah pas mau tanam bajak sawah dengan sapi. Biasanya saya ikut bajak juga,” ujar sembari memegang erat sapi yang dijaganya.

Walau sempat goyah, Slamet dan teman-temannya berhasil mencegah sapi tersebut lari sebelum waktu lomba dimulai. Ada kepuasan tersendiri bagi Slamet, meski terkadang apa yang dilakukannya itu, hanya mendapat ganjaran sebungkus makanan atau duit yang tak besar, dari pemilik sapi.

Selamet mengaku, saat SD dia diajak beberapa temannya melihat karapan sapi brujul. Akhirnya dia pun terlibat. Tapi dia tidak terikat dengan kelompok manapun.

“Saya ikut bantu-bantu itu cuma buat senang-senang saja. Dasarnya memang suka karapan sapi,” tambahnya.

Keikutsertaan Slamet untuk ikut menahan sapi dalam karapan sapi brujul baru dilakukan 2 tahun terakhir. Saat masih SD, dia dilarang ikut karena masih terlalu kecil.

“Baru sekarang ini boleh ikut nahan sapi. Kalau masih kecil takutnya ndak kuat, malah jatuh walau cuma digoyang sapi,” ujarnya.

Pengalaman jatuh pun sudah pernah dirasakan. Namun karena karapan sapi brujul dilakukan di tanah berlumpur, Slamet tidak mengalami cedera serius. “Paling ya basah kotor semua. Pernah juga kena sepak ekor sapi dan kena muka,” ujarnya sambil terkekeh.

Slamet mengakui, sebagian besar orang-orang yang bertugas menahan sapi rata-rata sudah berusia dewasa. Ada beberapa remaja selain dirinya yang juga ikut kegiatan karapan sapi brujul. “Kalau ndak benar-benar suka, biasanya tak bertahan lama ikut seperti ini,” ujarnya.

Namun saat ditanya apakah mendapat bayaran dari kegiatan mengawal sapi yang ikut bertanding dalam karapan, Slamet enggan menjawabnya. “Biasanya kalau beruntung dapat makanan dari yang punya sapi,” ujarnya.

Selain Slamet ada juga, Adi Santoso,15. Remaja ini juga terlihat bersemangat ikut membantu menahan beberapa sapi yang ikut karapan sapi brujul. Dia ikut karena diajak kawannya.

“Senang juga sih ikut seperti ini. Cuma sapi-sapinya kuat juga meskipun ditahan 6-7 orang,” ujarnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, beberapa sapi yang bertanding dalam karapan sapi brujul, harus ditahan oleh beberapa orang. Pasalnya saat panitia belum memberikan aba-aba untuk memulai perlombaan, sapi-sapi mulai bersiap untuk berlari.

Bahkan sempat karena besarnya sapi, beberapa orang yang berusaha menahan sapi harus terdorong. Meskipun orang tersebut tidak sampai terjatuh ke lumpur.

Dari remaja seperti Slamet maupun Adi Santoso ini pula, karapan sapi brujul semakin menghibur. Bahkan terkadang saat mereka terjatuh hingga harus kotor dengan lumpur, penonton jadi terpingkal-pingkal. (put/fun)