Harga Cabai Rawit Turun di Kota Probolinggo, Tetap Alami Inflasi

KADEMANGAN, Radar Bromo- Harga cabai rawit selama bulan kemarin sudah turun. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat Kota Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,27 persen.

“Harga cabai rawit memang turun pada minggu ke 4 dan 5 Agustus. Tapi, secara akumulasi harga cabai rawit pada Agustus masih lebih tinggi dibanding pada Juli,” ujar Staf Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kota Probolinggo Husnul Chotimah, kemarin.

BPS menyurvei masih ada pedagang yang menjual cabai rawit seharga Rp 105 ribu per kilogram. Sebab, stok cabai rawit sedikit. “Jadi, cabai rawit pada Agustus masih menyumbang inflasi,” ujarnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, saat Idul Adha 1440 Hijriah, harga cabai rawit di Kota Probolinggo sempat menyentuh harga Rp 95 ribu per kilogram. Namun, kemarin turun menjadi Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu per kilogram.

Selain cabai rawit, komoditas lain yang menyumbang inflasi emas perhiasan, daging ayam ras, daging sapi, jeruk, beras, daging kambing, ikan laut, dan udang. “Beras naik, tapi sedikit. Naiknya Rp 100-200 per kilogram, tapi karena yang mengonsumsi beras banyak, ikut menyumbang inflasi,” ujarnya.

Ada beberapa komoditas yang menyumbang deflasi. Seperti bawang merah, tomat sayur, bawang putih, cabai merah, mi kering instan, serta beberapa komoditas hiburan seperti televisi. “Tomat malah sampai dijual Rp 1.000 per kilogram,” ujar Husnul.

Katanya, inflasi Kota Probolinggo pada Agustus, tercatat 0,27 persen. Angka ini lebih kecil dibanding inflasi Jawa Timur yang mencapai 0,12 persen. “Inflasi nasional bulan Agustus juga 0,12 persen. Tapi, untuk inflasi tahun kalender dan inflasi tahunan, Kota Probolinggo masih lebih rendah dari pada Jawa Timur dan nasional,” ujarnya. (put/rud)