Sebulan, Sudah Dua Kali Harga Bawang Merah di Probolinggo Alami Penurunan

GENDING, Radar Bromo – Petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo saat ini harus lebih bersabar. Pasalnya bawang merah yang berada di pasaran mengalami penurunan harga dua kali dalam kurun waktu sebulan terakhir. Ini berimbas pada keuntungan yang diterima oleh petani semakin menipis.

Hal ini diungkapkan Anton Sitanggang, salah satu petani bawang merah asal Dringu. Dia mengatakan bahwa harga bawang merah yang berada di pasaran, telah mengalami turun harga hingga dua kali. Akibatnya dia lebih memilih menjual panen bawangnya sendiri di pasar, daripada dijual ke pedagang atau pengepul.

“Untuk menyiasati keuntungan yang diperoleh, saya menjual sendiri yang saya panen dipasar. Jika diborong oleh pedagang, harganya jauh lebih murah,” ujarnya.

Menurutnya, harga bawang merah di pasaran untuk kelas super saat ini berada di kisaran harganya Rp 10 ribu perkilogram. Untuk kualitas sedang Rp 8 ribu perkilogam, dan untuk kualitas paling bawah harganya Rp 5 ribu perkilogram.

Sebelumnya harga bawang untuk kelas super Rp 15 ribu perkilo, bawang kualitas sedang Rp 10 ribu perkilogram, dan ukuran kecil Rp 8 ribu perkilo. “Sebulan yang lalu kisaran harga masih Rp 27 ribu perkilogram untuk kelas super dan Rp 23 ribu untuk bawang berukuran sedang,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Mohammad Hasan petani bawang merah asal Tegalmojo. Menurutnya, penurunan ini terjadi 10 hari yang lalu. Hal ini berdampak pada keuntungan yang didapat oleh pedagang sangat menipis.

“Harga obat bawang merah di pasaran mahal. Petani bisa mendapatkan keuntungan, tapi sedikit. Tidak seperti sebulan yang lalu. Mudah–mudahan harganya tidak turun lagi, supaya petani masih bisa untung,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Deny Kartika Sari mengatakan bahwa harga bawang merah mengalami penurunan. Panen raya di berbagai daerah, menjadi alasannya. “Sehingga persediaan bawang merah melimpah,” ujarnya.

Menurutnya, harga pokok penjualan bawang yang ada di pasaran, sepenuhnya diatur oleh petani dan pedagang. Hal ini dikarenakan merekalah yang tahu persis biaya operasional yang telah dikeluarkan, selama masa tanam hingga masa panen.

“Supaya petani tetap untung, kami lakukan monitoring agar harganya tidak anjlok. Bahkan jika memang diperlukan nanti kami akan lakukan operasi pasar,” jelasnya. (ar/fun)