Okupansi Hotel di Probolinggo Turun meski Masih High Season

SUKAPURA, Radar Bromo – Sejatinya pertengahan September masih ada wisatawan mancanegara (wisman) yang ke Bromo. Namun begitu, sejumlah hotel di kawasan Bromo menilai, okupansi menurun sejak awal September. Penurunan itu tidak sesuai prediksi. Sebab sejatinya September masih masuk high season.

Dari catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), penurunan itu bahkan mencapai 40 persen. Itupun tidak semua hotel. Malahan, lebih banyak yang kurang dari 40 persen tingkat huniaanya. Rata-rata perhotel di kawasan Bromo dibawah 40 persen.

Hal itu diungkap Digdoyo Djamaluddin, Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, tingkat hunian kali ini meleset dari target. Menurut Digdoyo, liburan musim panas di mancanegara akan berlangsung pada Agustus sampai 15 September. Ternyata, musim liburan bagi wisman berakhir pada awal September lalu.

“Karena itu okupansi sudah mulai menurun. Untuk September ini dibawah 40 persen,” katanya.

Pria yang akrab disapa Yoyok itu menjelaskan, jika dibandingkan pada tahun sebelumnya, saat ini cenderung terlalu cepat berakhirnya musim liburan. Pasalnya, untuk tahun sebelumnya musim liburan wisatawan Eropa itu berlangsung hingga 25 September.

“Kurang tahu ini kenapa. Apakah hari liburnya dikurangi atau bagaimana, saya tidak tahu. Tetapi, imbasnya ya okupansi menurun tajam. Tahun sebelumnya pada tanggal seperti sekarang, masih sekitar 50 sampai 60 persen,” jelasnya.

Untuk wisatawan nusantara (wisnu) sendiri lanjutnya, beberapa tahun ini tidak banyak peningkatan. Mereka lebih banyak yang hanya transit. Sehingga, tidak menginap di hotel. “Kebanyakan datang malam. Dan saat beranjak pagi setelah foto-foto serta menikmati keindahan Bromo, pulang,” jelasnya.

Pihaknya sempat membandingkan data dari pintu masuk Bromo. Dari jumlah wisatawan yang masuk sekitar seribu lebih, hanya lima persennya yang menginap. Sisanya hanya transit saja. Karena itu, perlu adanya terobosan agar wisatawan lebih lama menginap.

“Untuk terobosan sudah ada. Setiap bulan sekali ada kegiatan budaya. Seperti festival Jatilan bulan lalu itu mulai banyak yang datang dan cukup mengerek okupansi. Tetapi, tidak sampai tinggi perkiraan kami kurang promosinya,” tandasnya. (sid/fun)