Masih Temukan Pelanggaran Jalur Kapal di Pulau Gili

DRINGU, Radar Bromo – Pelanggaran jalur kapal yang dilakukan oleh nelayan pukat cincin (purse seine) di kawasan Pulau Gili dan sepanjang pesisir pantura masih kerap terjadi. Ini berakibat pada hasil tangkapan dan merusak alat tangkap nelayan.

Adanya pelanggaran jalur kapal itu diungkapkan Kabid Perikanan Tangkap Hari Pur Sulistiyanto. Laporan nelayan tradisional tentang pelanggaran jalur kapal yang dilakukan oleh nelayan pukat cincin masih ditemukan.

“Sebulan yang lalu kami mendapatkan pengaduan dari nelayan di Paiton bahwa masih ada pelanggaran yang dilakukan oleh nelayan pukat cincin,” ujarnya.

Nelayan pukat cincin tidak diperbolehkan masuk dalam perairan pantai, sampai dengan 4 mil laut yang diukur dari permukaan air laut pada surut terendah. Perahu yang boleh masuk dan menangkap ikan di jalur tersebut, adalah perahu tanpa motor. Atau perahu dengan motor yang ukurannya kurang dr 5 GT.

Pelanggaran yang dilakukan ini dapat berakibat pada penurunan hasil tangkapan nelayan. Tak hanya itu penggunaan pukat cincin juga dapat merusak alat tangkap tradisional milik nelayan.

“Pukat cincin yang digunakan itu akan berakibat pada kerusakan bubu yang dipasang di pesisir pantai, justru yang menggunakan alat itu bukan nelayan lokal melainkan nelayan dari luar,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi bentrokan antar nelayan akibat pelanggaran ini pihaknya merangkul nelayan lokal untuk turut melakukan pengawasan terhadap kapal yang dilakukan nelayan pukat cincin. Laporan itu nantinya diteruskan kepada pihak Satpol Air yang memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan. (ar/fun)