Keren, Pemuda Desa Cowek Ini Pelopori Bersihkan Sungai Welang

Hati Teguh Prayugi tergerak saat melihat banyak sampah plastik di sungai Welang yang mengalir di desanya. Pemuda asal Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, itu pun rutin membersihkan sungai Welang secara sukarela. Aktivitasnya itu sempat dicibir. Namun, kini banyak pemuda desanya yang mengikuti jejaknya.

ERRI KARTIKA, Purwodadi, Radar Bromo

Tumpukan sampah plastik tampak tersendat di batu-batu sungai Welang, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi. Tak hanya sampah plastik, ada juga pampers dan bungkus makanan yang terhenti di pinggir sungai.

Sampah-sampah tersebut perlahan diambil oleh seorang pemuda yang berdiri di tengah arus sungai. Dialah Teguh Prayugi, 20, pemuda asal Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Dengan memakai life jacket dan helm safety, Teguh sabar memungut satu-satu sampah dan dimasukkan ke karung. Setelah sampah di tempat itu bersih, dia bergeser ke sisi lain sungai untuk mengambil sampah plastik lainnya.

“Jadi, sampah di sungai Welang desa sini tak hanya dari masyarakat sekitar sini. Tapi, juga kiriman dari atas,” katanya.

Inisiatif Teguh membersihkan sampah plastik di Sungai Welang ini, memang tidak biasa. Tak heran, aktivitasnya sempat dicibir warga sekitar. Bahkan, dia dianggap hanya cari perhatian saja.

“Di awal-awal memang ada yang menganggap saya kurang kerjaan. Bahkan, dicibir juga sama teman-teman sebaya, tapi saya nggak peduli. Saya jalan terus mengambil sampah plastik yang ada di sungai sini,” terangnya.

Bagi Teguh, sungai Welang yang mengalir di desanya memiliki arti khusus. Sungai itu merupakan tempat dia bermain air saat kecil. Tentu saja, saat itu kondisi sungai masih bersih.

Karena itu, Teguh mengaku risih saat melihat sungainya kotor. Bahkan, makin banyak sampah plastik di sana. Dia pun berinisiatif membersihkan sampah plastik yang ada.

Inisiatif membersihkan sampah plastik itu, bahkan dilakukan Teguh saat masih 16 tahun. Saat itu, dia sekolah di SMK Penerbangan, Singosari, Malang. Otomatis, Teguh harus wira-wiri Purwodadi – Singosari.

Nah, saat pulang ke rumah dan melihat banyak sampah di sungai, Teguh pun langsung turun ke sungai. Dia lantas mengambil sampah plastik di sungai.

Kegiatannya itu memang spontan dan tidak terjadwal. Namun, sebisa mungkin saat ada waktu luang, Teguh pasti membersihkan sungai. Bahkan, kini dia tidak lagi sendirian membersihkan sampah di sungai. Lambat laun, sejumlah teman sebayanya akhirnya ikut serta.

“Awalnya memang saya sendiri, tapi lama-lama, satu persatu teman main di sini ikut serta. Jadi, sekarang kurang lebih ada 15 teman yang ikut bersih-bersih sampah plastik,” terangnya.

Hasilnya, kini sungai Welang di desanya jadi lebih bersih. Sungai Welang pun jadi lebih nyaman dipandang. Dengan rutin membersihkan sampah, dia berharap warga sekitar tak lagi membuang sampah di sungai.

“Tapi ya tetap saja. Karena di sini adalah arus sungai ke hilir, jadi sampah dari atas pasti ada yang nyangkut di sini,” terangnya.

Setelah lulus SMK sejak dua tahun lalu, Teguh fokus mengurus wisata edukasi Kampoeng Pancar air. Wisata ini didirikan ayahnya, Sugiarto, peraih Kalpataru 2011.

Karena lokasinya berada di Desa Cowek, kegiatan bersih sungai pun makin intens dilakukannya. Bersama rekan lainnya, dia bahkan sudah membeli tiga life jacket dan helm safety. Alat ini dijadikan perlengkapan saat memungut sampah di sungai.

“Sekarang tidak hanya saya. Teman lain kalau lihat sampah langsung turun ke sungai. Kemudian sampah diambil agar tidak menumpuk di sungai,” ujarnya.

Sampai saat ini, menurut Teguh, memang tidak ada keuntungan materi yang didapat dari aktivitasnya itu. Namun, ada kepuasan tersendiri saat melihat sungai bersih. Apalagi, saat melihat warga sekitar bisa bermain air di Welang.

Namun per awal 2019, Teguh dan teman-temannya memfungsikan sungai Welang dengan membuat wahana water tubing. Water tubing ini baru dirintis pada Februari 2019.

Kegiatan ini dilakukan untuk memfungsikan arus sungai yang cukup deras di musim kemarau. Sementara saat musim hujan, biasanya arus sungai Welang berbahaya.

“Jadi water tubing ini hampir mirip seperti arung jeram, tapi pakai ban dalam truk besar,” terangnya.

Saat ini, sudah ada 15 buah ban yang disiapkan dia dan teman-temanya untuk water tubing. Wisata ini masih dikelola sendiri dan bisa dipesan setiap hari.

“Saat ini untuk arus 300 meter bayarnya Rp 30 ribu. Dan kalau mau coba langsung datang minimal 5 orang,” terangnya.

Nilai ekonomis dari kegiatan ini, memang hanya tambahan bagi Teguh. Namun, sungai Welang yang bersih, nyatanya bisa menjadi daya tarik tersendiri. Terbukti, sungai Welang juga bisa memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar jika dikembangkan. (hn)