Semipro Bawa Dampak Luar Biasa di Berbagai Sektor

KARAPAN SAPI BRUJUL: Agenda Karapan Sapi Brujul jadi salah satu event yang ditunggu-tunggu warga di tiap gelaran Semipro. Selain Jaran Bodhag, Karapan Sapi Brujul juga telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda milik kota Probolinggo yang dilestarikan. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN, Radar Bromo – Ajang Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) membawa dampak yang luar biasa bagi Kota Probolinggo. Tak hanya jadi hiburan warga. Tapi, Semipro juga ikut menggeliatkan roda ekonomi.

Hal itu terungkap dalam penutupan Semipro yang digelar di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Sabtu malam (7/9). Ketua panitia Semipro, Ir. Gogol Sudjarwo M.Si menyebut, gelaran Semipro ke-XI tahun 2019 sebagai rangkain peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI sekaligus Hari Jadi Ke-660 tahun Kota Probolinggo ini mampu membawa dampak yang luarbiasa diberbagai sektor.

 

KARAPAN KAMBING: Semipro juga dimeriahkan dengan lomba Karapan kambing yang diikuti 72 peserta di Lapangan Progo, Jrebeng Kulon. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

 

“Perputaran ekonomi mencapai hampir Rp 2 Miliar. Rata-rata terjadi kenaikan hasil penjualan. Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) ada 166 PKL, misalnya. Diasumsikan mendapat hasil penjualan antara Rp 391.300 hingga Rp 709.400 per hari per pedagang. Artinya, penghasilan para PKL selama Semipro digelar kali ini lebih dari Rp 600 juta,” terang Gogol.

Kondisi sama bisa ditemukan di Gebyar Kuliner Etnis. Sebanyak 40 pedagang yang masuk dalam kuliner etnis bila diasumsikan mendapat hasil penjualan antara Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu per hari per pedagang. Dengan begitu, selama seminggu didapati sekitar Rp 8.400.000 per pedagang. Dengan begitu total omzet mencapai sekitar Rp 336 juta.

 

KOLABORASI: Penampilan apik kolaborasi Jaran Bodhag, tari Kiprah Lengger dan Hadrah, membuat masyarakat bangga memiliki kesenian asli Probolinggo ini. (Evelyn Ridhayanti/Radar Bromo)

 

“Hasil ini lebih besar dari pada jumlah pendapatan tahun lalu sekitar Rp 224 juta. Bila dibandingkan dengan gelaran Semipro tahun lalu dan sekarang, persentase kanaikannya sekitar 50 persen,” ungkap Gogol, yang juga Asisten Pemerintahan.

Sementara itu, pameran UKM yang ada ditenda Doom, diikuti oleh 39 peserta. Baik itu UMKM, komunitas/ paguyuban, lembaga, hingga BUMN/BUMD. Bila diasumsikan mendapat hasil penjualan sebesar Rp 775.800 hingga Rp 1.056.000. Berarti, dalam seminggu selama Semipro digelar, hasil penjualan mencapai Rp 6.360.000 per pedagang per minggu. Atau berjumlah Rp 248.043.500,-

Sedangkan, untuk pameran UMKM yang menggunakan tenda sarnavil, Gogol menyebut terjadi kenaikan dengan persentase 25 Persen. “Bila mereka diasumsikan mendapat hasil penjualan antara Rp 723.300 hingga Rp. 905.500 atau sekitar Rp. 5.371.000 per peserta per minggu. Dengan begitu hasilnya mencapai Rp 505 juta. Ada peningkatan dibanding tahun lalu, sebesar Rp 493 juta,” jelasnya.

Begitupun dengan parkir insidentil kendaraan selama Semipro yang mencapai Rp. 12.209.000 (per 6 September). Hasil ini lebih tinggi dari pada tahun lalu yakni, Rp. 9.419.000,-

Jumlah perputaran ekonomi, baik dari sisi omzet pedagang maupun pendapatan parkir insidentil kendaraan ini, tentu belum termasuk saat malam penutupan Semipro. Dengan penonton yang begitu membeludak.

 

HIBURAN: Penampilan barongsai yang menghibur penonton yang menghadiri closing Semipro 2019. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

 

Gogol juga mengaku, selama pameran berlangsung ditenda Doom, panitia juga mengadakan beberapa penilaian. Diantaranya, penilaian terhadap Stan Terbaik yang dimenangkan oleh stan RSUD Dr. Moh. Saleh Kota Probolinggo.

Lalu ada penilaian Penyajian Informasi Terbaik, diraih oleh Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Probolinggo. Juga penilaian terhadap Omzet Terbanyak UMKM, yang dimenangkan oleh Stan Kecamatan Wonoasih yang menjual alat-alat rumah tangga dapur. Serta penilaian terhadap stan Dekorasi Terbaik, yang dimenangkan oleh stan Florist.

“Sebagai ketua panitia, saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang selama gelaran Semipro. Terlebih kepada petugas pengamanan dan sponsorship hingga masyarakat Kota Probolinggo atas dukungan, partisipasi dan kerjasamanya. Sehingga, Semipro ke-XI Tahun 2019 ini bisa berjalan dengan sukses, aman, tertib dan lancar,” ungkap Gogol Sudjarwo.

Sementara itu, Wali Kota Habib Hadi pun merasa bersyukur Semipro pertama dimasa kepemimpinannya terselenggara dengan meriah. “Bahkan bisa kami katakan, kemeriahan Semipro tahun ini 4 kali lipat dari pada ajang Semipro sebelumnya,” ungkap Wali Kota mengawali sambutannya didepan seluruh pengunjung malam itu.

Dengan berakhirnya Semipro, Habib Hadi menjelaskan pihaknya melakukan evaluasi. “Harus kita perbaiki. Semipro tidak hanya dinikmati warga kota Probolinggo saja. Tapi, juga warga disekitarnya juga ikut menikmati. Seperti yang dismpaikan ketua panitia, Semipro tahun ini ada peningkatan, Alhamdulillah,” ungkap Wali kota Habib Hadi.

Dirinyapun mengingatkan seluruh masyarakat agar ikut berkomitmen mendukung dan menghargai pembangunan di kota Probolinggo. “Kita ada untuk saling mengisi, untuk menutup kekurangan, sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintah benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Adanya riak-riak kecil adalah hal biasa bagi saya,” jelasnya.

Mareh, toreh dedi oreng se cerdas, jek coma ngocak’en. Menjadi warga yang baik itu bukan mencemooh, tapi memberikan masukan membangun, jadi warga yang santun. Semipro ini saya pandang sebagai kegiatan baik, sehingga apa yang baik, wajib saya lanjutkan dikepemimpinan saya ini,” tegas Wali Kota Habib Hadi. (*/el)