Data Panitia: Omzet Pedagang Semipro Capai Rp 1,4 Miliar Lebih

MAYANGAN, Radar BromoEvent Semipro mencatatkan omzet yang tidak sedikit selama seminggu digelar. Total Rp 1,4 miliar lebih omzet berhasil dikumpulkan. Tepatnya Rp 1.434.412.900.

Omzet ini dikumpulkan oleh para pedagang yang terlibat dalam kegiatan Semipro. Mulai PKL, kuliner etnis, UMKM di tenda dome, dan UMKM di tenda sanafil.

Hal ini diungkapkan Gogol Sudjarwo, ketua Panitia Semipro 2019. Secara rinci, jumlah PKL pada acara Semipro mencapai 166 orang. Tiap orang, diasumsikan pendapatannya mencapai 3.569.500 selama 1 minggu. Dengan pendapatan harian kisaran Rp 391.300 sampai Rp 709.400. Sehingga, total dalam seminggu mencapai Rp 592.537.000.

“Sedangkan untuk Gebyar Kuliner Etnis, ada 40 peserta. Mereka diasumsikan memperoleh pendapatan Rp 8,4 juta per orang selama seminggu,” tambahnya.

Dari jumlah ini, mereka diprediksi mendapat omzet harian Rp 700 ribu sampai Rp 900 ribu. Sehingga, total omzet selama seminggu mencapai Rp 336 juta.

Sementara itu, pameran UMKM di tenda dome diikuti 39 peserta. Tiap peserta asumsinya mendapat omzet Rp 6.360.100 selama seminggu. Dengan pendapatan harian Rp 775.800 sampai Rp 1.056.300. Dari sini, pendapat selama seminggu diperkirakan mencapai Rp 248.043.900.

Sedangkan pameran UMKM di tenda sanafil diikuti 48 peserta. Mereka mampu meraup omzet harian Rp 723.000 sampai Rp 905.500. sedangkan pendapatan mingguan per pedagang mencapai Rp 5.371.500. Dan total selama seminggu mencapai Rp 257.832.000.

Jika dijumlah, total omzet semua PKL, UMKM, dan pedagang di kuliner etnis mencapai Rp 1,4 miliar lebih. Tepatnya mencapai total Rp 1.434.412.900.

Selain itu, Semipro 2019 tidak hanya berdampak positif bagi PKL dan UMKM. PKL yang berjualan di dekat Stadion Bayuangga, lokasi utama gelaran Semipro juga mendapat berkah tidak sedikit.

Salah satunya adalah Slamet Rianto, 45. Pedagang bakso yang berjualan di Jalan Panjaitan ini menyebut, setiap hari di luar agenda Semipro omzetnya sekitar Rp 1 juta – Rp 1,5 juta.

“Tapi, selama ada Semipro bisa dapat Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta setiap hari,” ujarnya.

Bahkan, saat penutupan Semipro, Slamet mendapat omzet lebih banyak lagi. Yaitu, sampai Rp 3 juta.

“Ini pas penutupan saya dapat omzet Rp 3 juta. Meskipun ndak jualan di stadion, masih dapat berkahnya Semipro juga,” ujarnya.

Menurut Slamet, penjualan paling laris terjadi tepat saat penutupan Semipro. Mengingat pengunjung melimpah ruah, termasuk dari wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Jam sembilan malam jualan sudah habis. Padahal, itu sudah nambah bahan,” ujarnya. (put/hn)