Inilah Pemenang Lomba Foto Semipro 2019 dan Karyanya, Nur Fitra Potret Sapi Brujul karena Khas Probolinggo

Mendapatkan momen yang tepat dan yang terbaik di antara 98 peserta dalam Lomba Foto Semipro 2019 adalah hal yang luar biasa bagi Nur Fitra Fajar Dwitama. Dia tak menyangka menjadi juara di ajang lomba fotografi yang diikuti puluhan fotografer andal itu.

—————

Nur Fitra Fajar Dwitama, 26, tak menyangka bisa memenangkan lomba Foto Semipro 2019 Kota Probolinggo. Bahkan, pemuda warga Dusun Gerdu RT 02/RW 06 Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu masih tidak percaya saat namanya dipanggil.

Ya, panitia Lomba Foto Semipro menyebutnya sebagai juara pertama saat pengumuman dalam acara penutupan Semipro. Kegiatan itu, dilakukan di panggung utama Semipro di Stadion Bayuangga Kota Probolinggo, Sabtu (7/9) malam.

Fitra –panggilannya- mengaku, jatuh cinta pada dunia fotografi sejak tujuh tahun lalu. Yaitu, sejak 2012. Namun, saat itu dia tidak langsung menggunakan kamera SLR. Dia hanya menggunakan kamera ponsel.

Dengan alat sederhana itu, dia mulai belajar mengabadikan setiap momen yang dilaluinya. Terutama, momen yang bermakna khusus.

BIDIK: Gaya Nur Fitra saat memotret. (Dok. Pribadi)

Tidak cukup begitu, hampir setiap pekan Fitra jalan-jalan di seputar Kota Probolinggo. Dia lantas mengabadikan momen-momen yang menurutnya menarik. Saking seringnya mengabadikan momen, memori HP pun penuh dengan bidikan kamera ponselnya.

“Awalnya saya menyukai fotografi ketika memiliki ponsel berkamera. Dari situ, saya mencoba mengabadikan semua momen yang ada,” ujarnya.

Pemuda yang juga bekerja sebagai honorer di Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo ini, kemudian mulai merambah dunia fotografi profesional di tahun 2015. Saat itu dia mulai bergabung dengan komunitas fotografer di Kota Probolinggo.

Melalui komunitas ini, Fitra memperdalam pengetahuannya tentang fotografi. Lewat komunitas pula, dia banyak belajar tentang beragam teknik memotret lewat kegiatan diskusi yang rutin dilakukan.

Mulai sharing teknik fotografi, setting-an yang tepat untuk membidik objek, dan objek yang layak dipotret. Teknik fotografi berkaitan dengan cara memotret dan setting-an berkaitan dengan pengaturan tingkat kecerahan gambar dan kecepatan bidikan.

“Kemampuan dan teknik fotografi mulai terasah ketika saya bergabung dengan komunitas. Setidaknya, setiap bulan sekali kami melakukan hunting bersama,” jelasnya.

Pemuda lulusan D-3 jurusan teknik komputer AMIK Taruna ini mengatakan, tidak membatasi objek fotografinya. Pada prinsipnya semua objek memiliki nilai fotografi, jika peka dan memiliki insting yang kuat untuk mengambil gambar.

“Seni fotografi itu membutuhkan jam terbang. Semakin sering hunting, maka kemampuan fotografinya akan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dari sini, Fitra pun sering mengikuti lomba fotografi yang diadakan di Probolinggo dan Surabaya. Dari beberapa yang diikuti, dirinya mengaku berhasil menjadi juara.

“Mungkin juga karena sering ikut lomba fotografi, jadi skill saya juga terasah. Alhamdulillah, dari beberapa lomba, saya berhasil menjadi juara,” jelasnya.

Fitra mengaku, tidak mempunyai keinginan untuk menjadi fotografer profesional. Memotret merupakan hobinya sejak lama. Terkait dengan keahlian dalam memotret adalah bonus dari sebuah hobi yang dimilikinya.

Kemampuan yang dimilikinya terasah begitu saja ketika sering mencoba, mengikuti lomba, dan aktif dalam komunitas. Tidak hanya itu, dirinya tidak canggung saat berkumpul dengan fotografer profesional.

“Tidak ada rahasia untuk fotografi. Intinya menyukai dulu. Jika sudah menyukai dengan setulus hati, maka semuanya akan didapat,” tandasnya.

Karena sering ikut lomba pula, Fitra pun tidak perlu berpikir dua kali saat dibuka lomba Foto Semipro 2019 yang digelar Disbudpar kota Probolinggo bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo. Dia pun langsung mendaftar.

Saat lomba itu, Fitra menyerahkan foto lomba sapi brujul. Dia berinisiatif membidik momen tersebut karena sapi brujul merupakan kesenian khas Kota Probolinggo.

Meski begitu, Fitra harus memilih momen yang pas. Untuk mendapatkan momen sapi brujul berlari di lumpur, membutuhkan teknik khusus agar gambar yang didapat tidak ngeblur. Sehingga, foto yang didapat sangat jelas.

Tak hanya itu, keamanan kamera yang dipegang pun harus diperhatikan agar sesuatu yang tidak diinginkan bisa diminimalisasi. Terutama agar kamera tidak kena lumpur.

“Karena waktu itu kondisi berlumpur, maka kamera saya tutupi dengan plastik bening. Itu bukan teknik pengambilan gambar. Hanya untuk mengamankan kamera karena takut jatuh atau kecipratan lumpur,” ujar honorer yang sudah mengabdi selama 8 tahun ini.

Dan hasilnya, Fitra bisa mengabadikan momen yang sangat atraktif. Momen sapi brujul saat berlari di lumpur. Sapi dipotret dari belakang dengan karakteristik seni budaya yang kuat. Hasil gambar juga jelas, tidak blur.

Hasil ini, terbukti mampu memesona para juri, bahkan Wali Kota Probolingo Hadi Zainal Abidin. Empat juri, termasuk Wali Kota Habib Hadi sepakat memilih foto jepretan Fitra sebagai pemenang. (ari//hn/fun)