Derita Warga Kedungringin di Beji yang Hidup Berdampingan dengan Sungai Wrati yang Kotor

Tercemarnya sungai Wrati, membuat warga Balungrejo, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, menderita. Setiap hari, mereka dipaksa menikmati bau sungai yang busuk. Gara-gara pencemaran sungai Wrati itu, sumur warga keruh dan tak bisa dikonsumsi.

————–

Pintu belakang rumah Towilayah, 50, tertutup. Ia sengaja tak membukanya agar bau busuk tak banyak yang masuk. Hampir setiap hari hal itu dilakukannya.

Maklum, rumahnya yang berdekatan dengan sungai Wrati di Kecamatan Beji. Membuat bau busuk dari sungai Wrati mudah masuk.

SERING DIKELUHKAN: Pemotor melintas di sekitar anak Sungai Wrati di Beji. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

“Memang sengaja saya tutup. Biar tidak tercium bau busuknya,” kata perempuan asal Balungrejo, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji itu.

Towilayah merupakan salah satu “korban” pencemaran di sungai Wrati. Ada ratusan orang lain di kampungnya yang juga menderita hampir sama dengannya. Saban harinya, mereka mencium bau busuk dari sungai yang tercemar limbah.

Bukan sehari dua hari. Keadaan tersebut sudah berlangsung lama. Ia pun tak ingat pasti mulai kapan kondisi itu dirasakan. Namun yang pasti, keadaan itu sudah dirasakannya bertahun-tahun lamanya.

Menurutnya, bau busuk yang menyengat itu, terjadi tidak pandang musim. Baik hujan ataupun kemarau, kondisinya sama. Sungai bau dan keruh. Hanya memang, kalau kemarau tiba, pencemaran di sungai lebih parah.

“Sungai lebih keruh dan menghitam. Kadang juga berbusa. Baunya pun lebih menyengat,” sampainya.

Karena pencemaran di sungai Wrati itu pula sumur di rumahnya tak bisa digunakan. Sebab, air sumur terpapar limbah dari sungai. Selain warnanya cokelat, baunya pun tak sedap.

Ia menjadi tak berani untuk mengonsumsi. Ia pun membeli air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari. “Kalau untuk minum, kami tidak berani. Tapi untuk mandi dan cuci, terpaksa kami gunakan,” sambungnya.

Akibatnya, gatal-gatal sering menyerang. Bahkan, ia juga sering terkena diare. Ia pun tak tahu apakah itu pengaruh air sumurnya.

“Ya gatal-gatal, bahkan sering diare juga. Tapi mau bagaimana lagi,” ungkap dia yang mengaku tengah proses membangun sumur bor di rumahnya.

Hal senada disampaikan Rasiah, 45, warga Balungrejo lainnya. Jarak rumahnya sedikit lebih jauh dari Sungai Wrati dibanding rumah Towilayah. Sekitar 60 meter jaraknya.

Tapi tetap saja, dampak pencemaran itu ia rasakan. Selain bau yang masih tercium, juga air sumurnya rusak. Karena bau air sumurnya, berbeda dengan air sumur dalam keadaan normal.

Biasanya, sumur itu gunakan hanya untuk mencuci. “Agar pakaian tidak bau, saya perbanyak pengharumnya,” ungkap dia.

Keadaan tak kalah parah, ketika hujan melanda. Sungai Wrati kerap meluap, sehingga masuk ke rumah-rumah warga. Kalau sudah begitu, penyakit gatal-gatal dan bau tak sedap semakin tak bisa dihindarkan.

“Ketika surut, sulit baunya itu dihilangkan. Menempel pada dinding dan lantai,” tandas Warmin, 50, warga lainnya.

Karena dampak pencemaran Sungai Wrati itu pula, membuat dagangan warga semakin sepi. Seperti yang dirasakan Solihatin, 50. Ia mengaku, pembeli rujaknya ogah lama-lama di warungnya.

Mereka tak tahan dengan bau tak sedap yang sangat menyengat. “Dagangan saya semakin sepi karena orang jadi malas beli gara-gara bau,” tandasnya.

Ia pun tak mengerti dari mana sumber limbah itu berasal. Ia juga tak mengerti kenapa pemerintah diam saja tanpa ada penanganan. Padahal, kondisi tersebut menyengsarakan. “Kalau ada demo, saya akan ikut,” akunya.

Kepala Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Vicky Arianto mengakui, pencemaran sungai Wrati tidak hanya dirasakan warga Balungrejo. Tetapi, juga warga lain yang berada di sekitaran sungai Wrati.

Rasa tak nyaman itu sudah dijalani warganya bertahun-tahun lamanya. Pembuangan limbah ke sungai oleh sejumlah pabrik di wilayah Beji, menjadikan sungai Wrati tercemar.

“Kami sebenarnya berharap ada penanganan dari pemerintah daerah. Supaya, pencemaran sungai Wrati bisa disudahi. Sehingga masyarakat kami tidak lagi menderita,” pungkasnya. (one/fun)