Mengenal Anggota DPRD Termuda Kab Probolinggo yang Masih Kuliah

Winda Wahyu Ningtyas, 22, warga Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tak menyangka terpilih menjadi anggota DPRD periode 2019-2024. Sebab, ia yang masih kuliah semester 7 itu mengaku hanya mencoba terjun ke kancah politik.

MUKHAMAD ROSYIDI, Pajarakan, Radar Bromo

Rabu (4/9) siang itu, dua pria sedang memperbaiki sebuah rumah di Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Itulah rumah Winda -sapaan akrab Winda Wahyu Ningtyas-.

Winda, 22, kini tercatat sebagai salah satu anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Fraksi PDIP. Bahkan, dia tercatat sebagai anggota DPRD termuda dari 50 anggota DPRD yang dilantik Jumat (30/8).

Usia Winda sama dengan Akhmad Mujangki, anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi PDIP juga. Keduanya sama-sama merupakan anggota termuda di DPRD yang ada di Kota/Kabupaten Probolinggo dan Kota/Kabupaten Pasuruan.

Winda ditemani suaminya, Rizky Rahman Yuliarso, 24, bercerita tentang ihwal dia terjun ke panggung politik. “Awalnya saya ditawari bapak untuk daftar caleg. Saya kira bercanda, ya tidak saya tanggapi seirus,” ujar perempuan yang tengah hamil sembilan bulan itu.

Rabu (4/9) itu, Winda tidak ngantor di kompleks perkantoran DPRD Kabupaten Probolinggo di Jalan Raya Pajarakan. Ia izin untuk tidak ngantor sampai seminggu ke depan. Itu, karena ia berencana melakukan operasi Caesar.

“Saya sudah izin. Saya tidak boleh ngantor karena seminggu lagi mau lahiran. Tetapi bukan normal. Melainkan dengan Caesar,” ujar perempuan yang menikah pada 2016 itu.

Winda mengaku, kemudian menyeriusi tawaran bapaknya. Itu, lantaran bapaknya sendiri tidak bercanda menawarkan untuk menjadi caleg. Dengan bekal nekat, kemudian dia mendaftar sebagai anggota DPRD Kabupaten Probolinggo.

“Iya saya seriusi akhirnya. Karena bapak ternyata serius juga. Meskipun masih kuliah ya saya jalani,” katanya sambil terengah-engah. “Maaf ya saya ngos-ngosan karena hamil besar,” tambahnya sebelum melanjutkan ceritanya.

Begitu memutuskan mendaftar, Winda pun harus mondar-mandir Malang dan Probolinggo. Ya, Winda memang masih kuliah di Malang. Di sisi lain, dia memutuskan untuk terjun ke kancah politik. Meskipun hamil dan harus bolak-balik Probolinggo – Malang, Winda menjalaninya dengan mantap.

“Tetapi Alhamdulillah, jerih payah saya dan teman-teman berhasil. Meskipun masih muda, saya mampu duduk di kursi dewan,” katanya.

Winda sendiri mengaku tidak pernah berpikir jadi anggota DPRD. Malahan, cita-citanya ingin menjadi seorang wirausaha dan itu sudah terpenuhi. Sejak setahun lalu ia merintis usaha tambak udang dengan suaminya.

Karena terpilih sebagai wakil rakyat, sementara usahanya itu sepenuhnya diserahkan kepada Rizky, sang suami. Sementara dirinya, fokus mengusung aspirasi masyarakat. Selain itu, juga membuktikan anggapan bahwa anggota dewan itu hanya makan gaji buta.

“Kalau di kampus kan sering diskusi. Kebanyakan teman sebaya berpendapat, anggota dewan itu tidak ada kerjaannya. Karena itu, saya terjun langsung. Tujuannya, mematahkan anggapan itu,” jelasnya.

Rizky sendiri mengaku, mendukung langkah istrinya. Selagi itu baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya selalu mendukung. Saya ngikut saja apa yang dilakukan istri selagi positif,” katanya.

Dalam mendampingi perjalanan politik istrinya, ia mengungkapkan suka-duka. Menurutnya, selang seminggu sebelum pencoblosan 17 April, usahanya terkena musibah. Ada orang tidak bertanggung jawab meracuni tambak udangnya. Padahal, tambak udang itu hampir panen yang ke tiga.

“Rencana kami berdua, hasil panen akan kami buat tasyakuran kalau terpilih. Tetapi, tidak tahunya ada yang meracuni. Ya, mati semua,” jelasnya.

Karena musibah itu, keduanya mengalami kerugian berkisar Rp 80 juta. Namun, hal itu tidak dibuat panjang. Keduanya pun tidak mau berspekulasi dini atau menyalahkan lawan politik. Mereka mengikhlaskan saja.

“Kami ikhlaskan. Kami tidak tahu siapa yang melakukan itu,” tandasnya.

Kini, Winda harus bersiap menjalani rutinitas sebagai anggota DPRD. Dan sebentar lagi, buah hati pertama keduanya lahir. Bayi itu, akan menjadi saksi ibunya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. (hn)