Sering Timbulkan Bau, Warga Datangi Gudang Pabrik di Desa Gempol

GEMPOL, Radar Bromo – Keluh kesah warga Dusun Wonoayu dan sekitarnya, di Desa/Kecamatan Gempol mencapai puncaknya. Karena kerap mencium aroma bau tak sedap, Rabu siang (28/8) berbondong-bondong melurug dua gudang pabrik tempat pengolahan kulit udang, bulu ayam dan kulit cangkang, di desa setempat.

BAUNYA DISINI: Warga Desa Gempol saat mengecek saluran limbah di pabrik pengolahan udang PT Hestia dan PT Kasih Prima. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Gudang itu masing-masing milik PT. Kasih Prima dan PT. Hestia. Keduanya menempati bangunan dulunya milik PT. Kota Tua. Namun terpisahkan tembok dan pagar, berada di Dusun Wonoayu, Desa/Kecamatan Gempol.

“Ini merupakan aksi spontanitas. Karena sudah kesal, akibat bau tak sedap yang sangat menyengat dalam beberapa hari terakhir ini,” terang Jemi, 52, warga Dusun Wonoayu.

Saat puluhan warga yang mayoritas kaum hawa tersebut masuk ke dalam gudang di PT. Kasih Prima dan PT. Hestia, warga hanya ditemui petugas satpam. Sat itu tidak ada kegiatan produksi. Karena penasaran, warga lalu mengelilingi ruangan dan bangunan. Termasuk saluran IPAL dan selokan, juga bahan baku yang ada atau tersimpan gudangnya.

Bahkan beberapa warga mengambil sampling air hasil pembuangan produksi yang ada di saluran IPAL dan selokan. Kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik.

“Di luar saja baunya seperti itu. Masuk ke dalam tambah parah dan sangat menyengat. Dua pabrik ini biang keroknya. Instansi terkait harus turun tangan. Kasihan warga kalau terus-terusan seperti ini,” ucap Maskur, 51, warga Dusun Wonoayu lainnya.

Di dalam bangunan pabrik ditempati PT. Kasih Prima, warga menemui kulit ikan dalam jumlah besar sedang dijemur. Dan dua gudang posisi digembok, hanya satu yang terbuka yakni gudang tempat menyimpan kulit bawang putih.

Sementara saat berada di bangunan pabrik PT. Hestia, warga menemui sejumlah bahan baku dalam kemasan sak berupa bulu ayam. Juga kulit udang serta cangkang, termasuk rajungan.

“Didalam belum ada aktivitas kegiatan produksi. Tapi hanya uji coba mesin saja. Dengan bahan baku bulu ayam, lainnya kurang tahu secara persis. Karena tanggung jawab kami sebatas jaga,” tutur Ardiansyah, satpam PT. Hestia.

Sementara itu, Camat Gempol M. Ridwan dihubungi mengatakan, pihaknya sudah melaporkan keluhan warga Desa Gempol ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan Senin lalu (26/8). Keesokan harinya, tim dari DLH mendatangi lokasi pabrik, untuk survei lapangan sekaligus sampling limbah.

“DLH kabupaten ini sudah turun ke lapangan. Kini dalam proses evaluasi dan hasilnya seperti apa dari giat sidak tersebut belum turun. Tentunya kami juga masih menunggu,” ungkapnya. (zal/fun)