Dukung Penutupan Hiburan Malam di Probolinggo, FKA ESQ Deklarasi Moh Limo

KANIGARAN, Radar Bromo – Kebijakan Pemkot Probolinggo tidak memperpanjang izin dua tempat hiburan di wilayahnya, terus mendapat dukungan. Rabu (28/8), dukungan dinyatakan oleh Forum Komunikasi Alumni (FKA) Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Kota Probolinggo.

Dukungan itu diungkapkan usai FKA ESQ Kota Probolinggo melakukan deklarasi Moh Limo di Ruang Sabha Bina Praja, Pemkot Probolinggo. Yakni, moh madat (anti narkoba), moh mabok (anti miras), moh maling (antikorupsi), moh main (antiperjudian), dan moh madon (antiprostitusi).

Dalam kesempatan itu, dihadiri 46 perwakilan anggota. Terlihat juga Korwil Jatim FKA ESQ Sukarsih dan Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. “Dengan deklarasi ini, jelas hal-hal yang masuk Moh Limo dengan tegas akan kami perangi. Salah satunya tempat hiburan malam. Sehingga, kami mendukung penuh dengan tidak diperpanjangnya izin tempat hiburan malam di Kota Probolinggo,” ujar Korda FKA ESQ Kota Probolinggo Cipto Santoso.

Tak hanya deklarasi, Cipto mengatakan, FKA ESQ juga akan ikut berperan aktif dalam menjauhi Moh Limo. Sebab, di era modern banyak kalangan pelajar yang pendidikan karakternya sangat lemah. “Kami akan membantu pemerintah untuk memberikan pendidikan karakter dan menjauhi Moh Limo,” ujarnya.

Wali Kota Hadi Zainal Abidin dalam sambutannya mengatakan, di era modern, pendidikan karakter juga harus dilakukan dengan cara modern. Jika tidak, dengan sendirinya akan tergerus perkembangan zaman.

“Saya rasakan di era modern banyak orang tua yang kurang dalam memberikan pendampingan kepada anaknya. Misalnya, orang tuanya hanya melakukan pengawasan melalui HP. Dia (orang tua) berkirim pesan ada di mana dan pulang jam berapa? Sementara dulu, tidak demikian. Jika anak pulang malam, akan dicari. Bahkan, juga dipukuli sebagai bentuk pembelajaran. Sekarang dikit-dikit kena HAM,” ujarnya.

Bahkan, kata Hadi, banyak anak-anak yang lebih memilih banyak teman, meski pergaulanya salah. Dibanding berada di jalan yang benar dengan konsekuensi tidak ditemani. Padahal, pergaulannya tidak benar. Seperti mabuk-mabukan, ngelem, dan ngepil. “Komik dicampur lainnya. Ngelem, ini kan tidak benar,” ujarnya.

Mendapati itu, Hadi mengaku menyadari mengenai dampak lingkungan terhadap tumbuh kembang anak sangat besar. Karenanya, penutupan tempat hiburan malam, menurutnya, sudah tepat. Mengingat penutupan itu merupakan suara dari masyarakat Kota Probolinggo.

“Ketika banyak informasi yang masuk, saya semakin yakin dengan langkah saya tidak memperpanjang izin tempat hiburan malam. Sebab, banyak hal negatifnya. Walaupun sempat ada gejolak, ada yang bilang karena wali kotanya sarungan, penutupan sepihak, dan lainnya. Namun, hal ini saya lakukan demi keberlangsungkan generasi muda Kota Probolinggo,” ujarnya.

Termasuk persoalan yang digulirkan, masalah pekerja yang nganggur. Menurutnya, sejak awal pihaknya telah menyatakan, jika mereka warga Kota Probolinggo, akan dicarikan pekerjaan. “Jadi, tidak perlu bingung. Namun, kan ini digodok terus lantaran ada sejumlah kepentingan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan adanya deklarasi yang dilakukan FKA ESQ terkait Moh Limo, dapat membantu pemerintah dalam membangun karakter generasi muda Kota Probolinggo. “Jika hanya mengandalkan peran pemerintah, akan sulit. Namun, jika seluruh elemen masyarakat turut ambil bagian, maka keinginan besar terciptanya Kota Probolinggo yang berkemajuan akan tercapai. Sebab, merekalah (generasi muda) yang akan memimpin Kota Probolinggo, menggantikan kita,” ujarnya. (rpd/rud)