Begini Rasanya Terjebak Macet saat Jembatan Pajarakan Diperbaiki

Sejak Kamis (22/8), terjadi kemacetan di jalan raya nasional Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Penyebabnya, yaitu perbaikan jalan jembatan Pajarakan. Perbaikan ini membuat pengendara hanya bisa melewati satu jalur di jembatan itu.

MUKHAMAD ROSYIDI, Pajarakan-Radar Bromo

Kemacetan lantaran perbaikan jalan jembatan Pajarakan, Sabtu (24/8), agak lebih pendek dari sebelumnya. Selama dua hari, Kamis – Jumat (22-23/8) kemacetan mencapai 2 kilometer lebih.

Namun, Sabtu (24/8) berkurang menjadi sekitar 1,5 kilometer. Itu, terjadi baik untuk kendaraan dari arah barat ke timur, mapun dari timur ke barat.

Kendaraan masih memanfaatkan satu jalur saja di jembatan. Satu jalur ini digunakan dengan sistem buka tutup. Saat kendaraan dari arah barat berjalan, maka kendaraan dari arah timur berhenti. Demikian sebaliknya.

Jawa Pos Radar Bromo melewati jalur dari barat ke timur. Kemacetan baru terasa mulai di depan perumahan masuk Desa Krangpranti, Kecamatan Pajarakan.

Kendaraan bergantian untuk melewati jembatan. Kendaraan roda empat atau lebih, hanya bisa mandek menunggu giliran. Sedangkan kendaraan roda dua, bisa menerobos melewati bahu jalan.

Kebanyakan, kendaraan roda dua ini menerobos hingga mendekati jembatan. Alhasil, mereka pun berada di antrean paling depan. Baru di belakangnya, kendaraan besar antre.

Salah seorang pengendara motor Indriana, 30, warga Karangpranti, Kecamatan Pajarakan, yang setiap hari lewat jalur itu mengaku sedikit terganggu. Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Sebab, perbaikan jalan dilakukan demi kebaikan dan kenyamanan bersama.

Sehingga, meskipun harus antre, Indriana tenang saja. “Kalau ngomong terganggu ya terganggu. Soalnya jika berangkat mepet, ya pasti telat. Saya kerjanya di salah satu swalayan di Kraksaan. Jadi harus berangkat lebih cepat,” ujarnya.

Menurutnya, ia hampir telat masuk kerja saat perbaikan awal, Kamis. Saat itu, kemacetan yang terjadi cukup parah, sebab perbaikan baru dilakukan. Pengendara juga banyak yang belum paham.

Kendaraan bahkan mengular hingga 2 kilometer. Beruntung, ia menggunakan motor. Jadi, bisa menerobos kemacetan lebih cepat.

“Ya untuk tidak telat kerja. Selanjutnya ya berangkat lebih awal. Kalau mepet pasti terjebak macet,” tuturnya.

Pada hari berikutnya, jalur alternatif yang disiapkan petugas sudah banyak diketahui pengendara. Karena itu, banyak pengendara roda empat yang memanfaatkan jalur ini. Terutama kendaraan pribadi. Sehingga, antrean agak berkurang.

Namun, berbeda dengan para sopir angkutan yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda). Mereka yang diburu waktu untuk mengantarkan penumpang itu, meminta untuk diberikan jalan prioritas.

Memang ada jalur alternatif. Namun, jalan alternatif sangat jauh atau minim.

“Kami berharap perbaikan jembatan Pajarakan tidak menghambat laju perekonomian warga. Jadi, harus memprioritaskan kendaraan angkutan umum orang maupun barang. Karena kalau mobil pribadi masih bisa lewat alternatif,” kata Ketua Organda Probolinggo Tommy W. Prakoso

Menurut Tommy, angkutan umum seperti bus dan mobil penumpang umum (MPU) memiliki jalur dan waktu yang tetap setiap jarak perjalanan yang ditempuh (trayek). Karenanya, para sopir tidak punya banyak waktu di jalan.

Apalagi jalau harus lewat jalur alternatif. Bisa-bisa malah akan bersinggungan dengan trayek yang telah ditentukan.

“Jadi kalau lewat jalur laternatif, akan bersinggungan dengan jalur trayek yang lain. Selain itu, juga akan berpengaruh pada waktu tempuh dari terminal ke terminal lainnya,” katanya.

Contohnya, bus dari Terminal Bayuangga ke Besuki. Bus ini memiliki jadwal tetap. Apabila sebuah bus terlambat datang sampai 15 menit, maka jadwal keberangkatannya di terminal juga akan telat. Sebab, bus lain di belakangnya yang harus berangkat lebih dulu, sesuai dengan jadwal.

“Maka tak jarang, setelah melewati titik kemacetan, mereka akan ngebut mengejar keterlambatan waktu. Kondisi ini bisa membahayakan. Baik bagi penumpang bus, maupun bagi pengguna jalan lainnya,” tandasnya.

KBO Satlantas Polres Probolinggo Iptu Agus Supriyanto mengatakan, kemacetan yang terjadi di jalan raya nasional itu masih lumrah. Sebab, tidak sampai berkilo-kilometer. Berbeda dengan perbaikan jalan jembatan Randu Merak, Paiton. Antreannya lebih panjang.

“Ini masih lumrah. Tidak sampai terjadi kemcetan parah. Hanya beberapa kilometer saja,” katanya saat ditemui di lokasi.

Pihaknya pun menyiagakan beberapa petugas di lokasi. Tujuannya, yaitu untuk mengurai kemacetan. Jika sewaktu-waktu terjadi kemacetan pajang, pihaknya akan mengalihkan kendaraan pribadi untuk melewati jalur alternatif. Tetapi, saat ini hal itu menurutnya belum dibutuhkan. Karena kemacetan yang terjadi masih dalam kategori wajar.

“Ini masih wajar. Terkecuali jika sudah parah sekali, maka akan kami arahkan ke yang alternatif. Untuk sekarang masih bisa diatasi,” jelasnya.

Para pekerja proyek perbaikan jembatan itu sendiri hingga Sabtu masih terus mengebut perbaikan jembatan. Mereka sudah membongkar lajur utara. Sementara lanjur selatan sudah selesai.

Di lajur utara ini, perbaikan dilakukan di empat titik. Perbaikan ini diprediksi akan selesai pada malam hari ini (25/8). (hn)