Sulaiman, Dari Penjual Bakso kini Jadi Perajin Alat Musik Rebana dari Barang Rongsokan

Sulaiman dulunya seorang pedagang bakso keliling. Kejeliannya membaca peluang pasar, telah mengubah hidupnya. Kini ia menekuni kerajinan alat musik rebana. Alhasil, omzet yang didapat pun sampai puluhan juta sebulan.

 

SEKILAS, tempat produksi alat musik rebana yang ada di Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, itu seperti gudang rongsokan. Gudang seluas 20 meter persegi itu hanya berdindingkan anyaman bambu.

Di halaman gudang ada begitu banyak barang-barang bekas. Seluruhnya jenis aluminium. Sulaiman mengaku, aluminium bekas itu didapat dari pengepul rongsokan.

Siapa sangka, barang rongsokan itu bisa ‘disulap’ menjadi alat musik rebana yang cantik. Bahkan, dari sana Sulaiman bisa mendapat omzet Rp 50 juta rata-rata dalam sebulan.

Namun, proses ‘menyulap’ barang bekas itu tidaklah mudah. Butuh waktu yang tak sebentar.

Ketika Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi gudang itu beberapa waktu lalu, ada tiga orang yang tengah bekerja. Mereka memilah-milah rongsokan aluminium yang bertumpuk.

Setelah itu, aluminium dimasukkan ke dalam belanga besar yang sudah dipanaskan. Bak menanak nasi, aluminium itu dipanaskan di atas api yang bersumber dari tabung gas. Tujuannya agar aluminium berubah bentuk. Dilebur, dari bentuknya yang padat lalu mencair.

Peleburan aluminium itu memakan waktu sekitar dua jam. Setelah aluminium mencair, baru dituangkan ke dalam cetakan rebana. Lalu dilapisi tanah liat.

Leburan aluminium itu tidak lantas dicetak sebagaimana bentuk rebana. Melainkan dipisah menjadi dua bagian. Nah, setelah cetakan kering, dua bagian itu disambung menggunakan las.

“Setelah disambung harus dibubut dulu agar lebih halus. Dilanjutkan dengan pewarnaan dasar dan dimasukkan dalam oven,” terang Sulaiman.

Setiap proses, dikerjakan oleh orang yang berbeda. Termasuk dalam proses pewarnaan dasar, hingga memberi motif.

Sulaiman saat ini memiliki delapan pekerja yang membantunya membuat kerajinan rebana. Karena itu, rebana yang dihasilkan setiap harinya juga cukup banyak.

Sebab, semakin banyak karyawan, tentunya daya produksi juga lebih cepat. “Setiap hari sekitar 20 biji rebana bisa kami buat,” kata Sulaiman.

Berbeda dengan tiga tahun silam. Saat itu Sulaiman adalah pedagang bakso keliling. Sulaiman memulai produksi rebana itu setelah menyadari banyak kegiatan musik Islami di kampungnya.

“Jadi saya mikirnya barang itu banyak dibutuhkan. Makanya langsung tercetus untuk memproduksi. Kebetulan ada teman yang bisa masok aluminiumnya,” jelas bapak tiga anak itu.

Sulaiman pun menutup usahanya berdagang bakso keliling. Kerajinan rebana, diyakini dapat mengangkat perekonomian keluarganya.

Awalnya, semua proses pembuatan rebana dikerjakan Sulaiman seorang diri. Dalam sehari, paling banyak dia hanya mampu membuat tiga biji rebana. Setelah rebana yang dibuat benar-benar menumpuk, Sulaiman berhenti memproduksi. Dia kemudian berkeliling kota menjajakan rebana buatannya.

“Kalau sudah ada lima atau tujuh, saya keliling. Dagangan, diangkut motor,” kenangnya.

Sejumlah kota didatanginya. Mulai Probolinggo, Malang, Sidoarjo, Jombang, hingga Gresik. Sekali jalan, tidak semua dagangannya laku terjual.

DARI RONGSOKAN: Proses pembuatan rebana buatan Sulaiman. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Namanya dagang kan nggak tentu. Kadang ya laku satu dua, kadang pulang nggak dapat hasil,” kata pria 34 tahun itu.

Meski begitu, Sulaiman tetap berupaya mencari pasar. Kesulitan mencari pasar yang dialami di awal-awal merintis usaha, tak diambil pusing. Menurut Sulaiman, sekalipun dagangannya tak terjual tak akan basi.

“Jadi ya saya keliling terus, saya tawarkan dari kota ke kota. Meski kadang tak laku sama sekali,” ungkapnya.

Lambat laun ia memiliki pelanggan. Bahkan, ada yang mulai memesan. Banyaknya permintaan membuat Sulaiman mulai merekrut tenaga kerja. Sehingga, bisa memenuhi pesanan.

“Kebanyakan pelanggan itu datang setelah dipasarkan lewat online,” tutur Sulaiman.

Hingga kini, pelanggannya banyak dari luar Pasuruan. Ada yang dari Banyuwangi, Situbondo, Jepara, Jakarta, hingga Kalimantan.

Setiap rebana buatan Sulaiman itu dipatok dengan harga Rp 250 ribu. Dalam sebulan, setidaknya ada 200 biji rebana yang laku terjual. “Kalau penjualan setiap hari rata-rata sekitar 50 biji,” beber Sulaiman.

Dengan penjualan sebanyak itu, rata-rata dia bisa mendapat omzet Rp 50 juta sebulan. Atau Rp 12,5 juta sehari. Semuanya karena kejelian Sulaiman membaca pasar dan memanfaatkan bahan baku rongsokan. (tom/fun)